(Business Lounge – Global News) Lululemon Athletica Inc. menutup musim liburan dengan kinerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan, mendorong perusahaan untuk mengatakan bahwa laba kuartal fiskal keempatnya akan berada di ujung atas dari panduan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut laporan The Wall Street Journal, penjualan yang solid selama periode belanja akhir tahun membuat pendapatan dan laba per saham Lululemon mendekati batas tertinggi dari kisaran yang sebelumnya diproyeksikan manajemen.
Dalam pembaruan kepada investor, Lululemon juga menegaskan kembali panduannya terkait margin kotor, biaya penjualan, umum, dan administrasi (SG&A), serta tarif pajak efektif, sebuah poin yang dipandang krusial oleh pasar. Reuters mencatat bahwa meskipun banyak peritel harus mengorbankan margin demi mendorong volume penjualan di musim diskon, Lululemon justru berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.
Secara operasional, ini mencerminkan kekuatan positioning Lululemon sebagai merek premium. The Wall Street Journal menyoroti bahwa pelanggan Lululemon cenderung lebih loyal dan tidak terlalu sensitif terhadap harga, memungkinkan perusahaan mempertahankan struktur harga tanpa perlu memberikan diskon besar-besaran. Dalam konteks ritel global yang semakin kompetitif, hal ini memberi Lululemon keunggulan signifikan dibanding banyak pemain di segmen pakaian olahraga dan kasual.
Dari sisi biaya, konsistensi pada panduan SG&A memberi sinyal bahwa manajemen mampu mengendalikan pengeluaran meskipun volume transaksi meningkat tajam selama periode liburan. Reuters menyebutkan bahwa pengendalian biaya ini menjadi salah satu faktor kunci yang membuat Lululemon percaya diri mempertahankan panduan margin kotor, di tengah tekanan biaya tenaga kerja dan logistik yang masih dirasakan industri ritel.
CFO Lululemon, Meghan Frank, mengatakan bahwa tren belanja selama musim liburan menjadi pendorong utama hasil yang lebih kuat dari perkiraan. Pernyataan ini, sebagaimana dikutip oleh Reuters, mengindikasikan bahwa perusahaan tidak hanya mendapat dorongan dari promosi musiman, tetapi juga dari permintaan struktural terhadap produk-produk intinya, mulai dari pakaian yoga hingga busana athleisure premium.
Bagi investor, kombinasi antara penjualan yang kuat dan disiplin margin ini jauh lebih penting daripada sekadar lonjakan pendapatan. The Wall Street Journal menekankan bahwa banyak peritel mampu mencetak pertumbuhan penjualan saat liburan, tetapi sering kali itu dibayar dengan margin yang tergerus. Lululemon, sebaliknya, menunjukkan bahwa ia mampu mengubah momentum musiman menjadi laba berkualitas tinggi.
Pasar saham merespons pembaruan ini secara positif. Reuters melaporkan bahwa saham Lululemon menguat setelah pengumuman tersebut, mencerminkan kelegaan investor setelah periode volatilitas yang cukup panjang sepanjang tahun lalu. Kekhawatiran tentang melemahnya daya beli konsumen global sempat menekan valuasi sektor ritel, sehingga sinyal stabilitas dari Lululemon memberi dorongan psikologis yang penting.
Lebih jauh, kinerja liburan yang solid memberi Lululemon pijakan kuat untuk memasuki tahun fiskal berikutnya. Dengan basis laba yang lebih tinggi dan struktur biaya yang terkendali, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar untuk berinvestasi dalam inovasi produk, ekspansi internasional, dan penguatan kanal digital, tanpa harus mengorbankan profitabilitas jangka pendek.
Seperti dicatat oleh The Wall Street Journal, ini menegaskan kembali kekuatan model bisnis Lululemon sebagai merek gaya hidup dengan pricing power dan loyalitas pelanggan yang tinggi. Di tengah industri yang dipenuhi diskon dan tekanan margin, kemampuan untuk menutup kuartal terpenting tahun ini di ujung atas panduan laba adalah sinyal bahwa Lululemon masih berada dalam posisi strategis yang sangat solid.

