(Business Lounge – Global News) La-Z-Boy Incorporated melaporkan kinerja kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan pasar, menandai titik cerah dalam industri furnitur yang masih berhadapan dengan tekanan permintaan konsumen. Perusahaan yang identik dengan kursi recliner ini melaporkan penjualan terkonsolidasi sebesar US$521 juta, naik sekitar 2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan stabil di segmen ritel dan perbaikan margin di segmen grosir.
Pertumbuhan ritel menjadi motor utama performa La-Z-Boy pada kuartal tersebut. Penjualan tertulis pada jaringan La-Z-Boy Furniture Galleries meningkat sekitar 6%, sebuah capaian yang terutama datang dari pembukaan toko baru serta akuisisi gerai independen. Meskipun penjualan same-store masih sedikit tertekan akibat penurunan trafik pengunjung di tengah permintaan furnitur yang melemah secara industri, kontribusi dari ekspansi jaringan berhasil mengangkat total pendapatan ritel. Penjualan delivered pada segmen ini meningkat 3% menjadi US$222 juta, sementara margin operasi berada pada kisaran 12,6%. Perusahaan mengakui bahwa perluasan toko membawa konsekuensi berupa biaya tetap yang lebih tinggi, tetapi manajemen tetap menilai ekspansi fisik sebagai strategi yang mendukung penguatan merek dalam jangka panjang.
Di sisi lain, segmen grosir memberikan kinerja yang stabil. Penjualan wholesale tercatat sekitar US$364 juta, relatif datar dibanding tahun lalu. Kelemahan terutama muncul dari pasar internasional, di mana gangguan pada pelanggan besar menekan permintaan. Namun demikian, margin operasi segmen grosir justru membaik, naik dari 5,9% menjadi 6,7% secara GAAP, menandakan keberhasilan perusahaan dalam mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi produksi. Tantangan pada bisnis impor dan beban tetap yang berasal dari operasi luar negeri masih menekan margin non-GAAP, tetapi kondisi tersebut tidak menghalangi perusahaan untuk mempertahankan profitabilitas inti.
Sementara itu Joybird, merek furnitur digital-first milik La-Z-Boy, kembali mencatatkan pertumbuhan signifikan. Penjualan delivered Joybird naik hingga 20% menjadi US$39 juta, mencerminkan peningkatan permintaan di perdagangan daring serta keberhasilan perusahaan dalam memperluas penetrasi di segmen furnitur modern. Joybird juga menampilkan margin yang lebih sehat berkat pergeseran komposisi produk yang lebih menguntungkan serta efisiensi dari skala yang lebih besar.
Posisi neraca perusahaan juga tetap kuat. La-Z-Boy menutup kuartal dengan kepemilikan kas sebesar US$303 juta tanpa utang eksternal. Meskipun arus kas operasi berada di angka US$16 juta—lebih rendah dibanding kuartal yang sama tahun lalu—perusahaan tetap konsisten dalam alokasi modal yang mencakup ekspansi jaringan toko serta pembagian dividen kepada pemegang saham. Dewan direksi menyetujui kenaikan dividen kuartalan sebesar 10%, sebuah sinyal kepercayaan terhadap stabilitas bisnis dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di masa depan.
Meski kinerja kuartal kedua relatif solid, perusahaan tetap menghadapi tantangan. Penurunan trafik konsumen menjadi indikator bahwa tekanan pada daya beli masih berlangsung di sektor furnitur, terutama setelah periode pandemi yang sempat memicu lonjakan permintaan. La-Z-Boy juga terus menghadapi dinamika biaya pada rantai pasok internasional, serta tekanan pada bisnis casegoods yang dipengaruhi perubahan preferensi konsumen dan kompetisi harga.
Walaupun demikian, manajemen menegaskan bahwa strategi integrasi vertikal perusahaan—dari manufaktur, distribusi, hingga ritel—menjadi diferensiasi penting di tengah kompetisi industri. Model ini memberi La-Z-Boy fleksibilitas lebih besar dalam mengatur produksi, menjaga kualitas, dan mengoptimalkan margin. Strategi jangka panjang perusahaan, yang disebut Century Vision, menekankan ekspansi toko milik sendiri, peningkatan visibilitas merek, dan integrasi yang lebih erat antara manufaktur dan ritel, sehingga konsumen mendapatkan pengalaman yang konsisten dan lebih mudah dikendalikan.
La-Z-Boy juga melihat peluang pertumbuhan dari modernisasi portofolio produknya, baik melalui inovasi desain maupun pendekatan omnichannel yang semakin diperluas melalui Joybird. Dengan tren belanja konsumen yang bergerak ke kanal digital dan preferensi terhadap personalisasi meningkat, perusahaan menilai momentum Joybird dapat berkembang menjadi pilar pendapatan yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Ke depan, La-Z-Boy menekankan bahwa kondisi ekonomi yang masih tidak pasti membuat perusahaan harus tetap berhati-hati dalam pengelolaan biaya dan inventaris. Namun, kekuatan neraca, ekspansi toko yang agresif, serta integrasi vertikal yang matang memberikan fondasi yang kokoh. Perusahaan meyakini bahwa transformasi yang mereka jalankan saat ini akan meningkatkan daya saing, memperluas pangsa pasar, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Dengan penjualan yang tumbuh, margin yang tetap solid, dan strategi ekspansi yang terarah, La-Z-Boy menunjukkan bahwa mereka mampu menavigasi industri yang sedang melemah sekaligus mempertahankan arah pertumbuhan yang berkelanjutan. Perusahaan tidak hanya membangun jaringan ritel yang lebih luas, tetapi juga memperkuat posisi sebagai salah satu pemain paling terintegrasi di pasar furnitur Amerika Utara.

