Rivian

Rivian Memangkas 600 Karyawan di Tengah Penurunan Minat EV

(Business Lounge – News Insight) Pembuat truk listrik Rivian Automotive Inc. kembali melakukan langkah restrukturisasi besar dengan memangkas lebih dari 600 karyawan di seluruh divisi, sebuah keputusan yang mencerminkan tekanan berat terhadap industri kendaraan listrik global. Langkah ini, menurut laporan Bloomberg dan The Wall Street Journal, merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memangkas biaya menjelang peluncuran generasi kendaraan baru yang dijadwalkan pada tahun 2026. Dalam sebuah memo internal yang dikutip Reuters, CEO RJ Scaringe menyebut pemutusan kerja ini sebagai “keputusan sulit tetapi penting” untuk menjaga daya saing dan efisiensi operasional di tengah lingkungan pasar yang berubah cepat.

Rivian, yang sempat dianggap sebagai salah satu bintang baru industri kendaraan listrik ketika melakukan penawaran saham perdana pada 2021, kini menghadapi kenyataan pahit. Minat konsumen terhadap kendaraan listrik mulai melambat, terutama di pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Berdasarkan analisis Bloomberg Intelligence, pertumbuhan penjualan EV global yang semula meningkat lebih dari 50% pada 2022 kini hanya bertumbuh sekitar 20% pada 2024, sementara biaya produksi dan harga baterai belum turun sesuai harapan. Rivian, dengan produk andalannya R1T dan R1S yang masih diposisikan di segmen premium, menghadapi tekanan berat untuk menyeimbangkan skala produksi dengan permintaan aktual.

Sejak awal 2024, Rivian telah menunjukkan tanda-tanda pengetatan struktur organisasi. Pada bulan Februari lalu, perusahaan memangkas sekitar 10% tenaga kerja di kantor pusatnya di Irvine, California. Keputusan terbaru yang berdampak pada lebih dari 600 orang ini menunjukkan upaya lanjutan untuk menekan pengeluaran dan memperbaiki arus kas. The Wall Street Journal mencatat bahwa sebagian besar pemutusan kerja terjadi di divisi non-manufaktur seperti dukungan teknis, desain produk, dan administrasi, sementara pabrik utama di Normal, Illinois, tetap beroperasi dengan kapasitas yang dikurangi.

Langkah ini juga mencerminkan transisi strategi Rivian menjelang peluncuran kendaraan generasi R2, lini SUV listrik yang diharapkan menjadi produk massal pertama mereka dengan harga lebih terjangkau. Menurut laporan CNBC, proyek R2 ini dirancang untuk menargetkan segmen menengah dengan harga sekitar 45.000 dolar AS, jauh di bawah harga model R1T dan R1S yang saat ini mencapai 70.000 hingga 90.000 dolar AS. Namun, agar bisa mencapai titik impas pada proyek ini, Rivian perlu memangkas biaya tetap secara drastis. Perusahaan juga berusaha memperluas kolaborasi pemasok komponen untuk mengurangi ketergantungan terhadap vendor baterai tunggal.

Dalam laporan kuartalan terbarunya, Rivian melaporkan kerugian bersih lebih dari 1,3 miliar dolar AS pada kuartal kedua 2025, meskipun pendapatan naik 16% dibanding tahun sebelumnya. Financial Times menyoroti bahwa tingkat pembakaran kas (cash burn rate) Rivian tetap tinggi, mencapai hampir 900 juta dolar AS per kuartal, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Dengan total cadangan kas sekitar 7,8 miliar dolar AS, analis memperkirakan Rivian hanya memiliki waktu sekitar dua tahun sebelum perlu mengamankan pendanaan baru atau mencapai profitabilitas operasional.

Tekanan juga datang dari sisi kompetisi. Bloomberg mencatat bahwa Rivian kini bersaing langsung dengan Tesla Cybertruck, Ford F-150 Lightning, dan GMC Hummer EV—semuanya merek mapan dengan dukungan finansial jauh lebih besar. Di tengah pasar yang melambat, pemain seperti Tesla bahkan mulai memangkas harga untuk mempertahankan volume penjualan, strategi yang sulit diikuti oleh Rivian karena margin produksinya yang tipis. RJ Scaringe mengakui bahwa perusahaannya belum mampu menurunkan biaya produksi per unit ke tingkat yang membuat bisnisnya berkelanjutan. Dalam wawancara dengan Reuters, ia mengatakan bahwa fokus saat ini adalah “mengoptimalkan setiap dolar yang dikeluarkan dan memastikan setiap investasi menghasilkan nilai nyata”.

Di sisi lain, Rivian tetap mempertahankan hubungan strategisnya dengan Amazon, yang masih menjadi salah satu pemegang saham utama dan pelanggan utama untuk armada van listrik pengiriman barang. Namun, bahkan kontrak besar dengan Amazon tidak lagi menjadi jaminan pertumbuhan yang stabil. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Amazon telah memperlambat ekspansi armada kendaraan listriknya, sejalan dengan efisiensi biaya dan transisi energi yang lebih selektif. Rivian sendiri telah mengirimkan lebih dari 10.000 unit van listrik ke Amazon sejak 2022, tetapi angka tersebut masih jauh dari target jangka panjang yang diumumkan sebelumnya.

Langkah efisiensi ini juga terjadi di tengah perubahan besar dalam iklim pendanaan startup EV. Reuters menulis bahwa investor institusional kini lebih berhati-hati mendanai perusahaan kendaraan listrik, terutama setelah valuasi banyak pemain turun drastis dalam dua tahun terakhir. Rivian, yang sempat bernilai lebih dari 100 miliar dolar AS pada puncaknya setelah IPO, kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 13 miliar dolar AS. Penurunan ini menggambarkan betapa cepat sentimen investor beralih dari optimisme teknologi ke realitas profitabilitas.