sibuk

Mengapa Atasan Selalu Sibuk Tanpa Henti

(Business Lounge – Lead & Follow) Fenomena atasan yang selalu terlihat sibuk bukan hanya terjadi di Amerika atau Eropa, tetapi juga semakin terasa di Indonesia. Kalender yang penuh rapat, undangan acara resmi, dan tuntutan komunikasi dari berbagai arah membuat banyak pemimpin perusahaan di Tanah Air tampak sulit dijangkau. Bagi sebagian karyawan, kondisi ini menciptakan jarak yang melebar antara atasan dan tim. Namun di balik itu, terdapat dinamika manajemen, budaya kerja, hingga tekanan sosial-ekonomi yang lebih luas.

Menurut laporan Wall Street Journal dalam edisi Careers & Leadership, fenomena bos yang tak pernah punya waktu luang adalah gejala global. Para pemimpin perusahaan kini terjebak dalam “meeting trap,” sebuah kondisi di mana hampir setiap agenda kecil membutuhkan kehadiran mereka. Pola ini makin terasa di Indonesia setelah pandemi ketika perusahaan mengadopsi sistem kerja hybrid. Rapat daring menjadi standar, dan banyak manajer senior merasa harus hadir agar keputusan tidak melenceng dari arah strategis.

Namun di Indonesia, ada faktor budaya yang turut memperkuat fenomena ini. Penelitian yang dikutip Jakarta Post menunjukkan bahwa kultur hierarkis dalam perusahaan membuat bawahan enggan mengambil keputusan sendiri tanpa restu atasan. Hasilnya, setiap detail membutuhkan persetujuan manajemen puncak, sehingga atasan makin kewalahan dengan jadwal rapat berlapis-lapis. Jika di Barat rapat padat sering dianggap simbol status, di Indonesia hal itu juga terkait budaya “takut salah” yang membuat pemimpin merasa wajib ikut campur dalam semua lini.

Bagi karyawan muda, dampaknya cukup signifikan. Generasi milenial dan Gen Z yang kini mendominasi angkatan kerja sering mengeluh sulitnya mengakses manajemen puncak. Survei Katadata Insight Center pada 2024 menunjukkan 63% responden muda di perusahaan besar merasa komunikasi dengan manajemen senior masih terbatas. Keterbatasan akses ini dianggap memperlambat inovasi dan menurunkan motivasi kerja, terutama di sektor kreatif dan teknologi.

Fenomena ini berkaitan erat dengan narasi “Indonesian Dream,” gagasan bahwa kerja keras akan membawa peningkatan kualitas hidup. Namun, generasi muda semakin skeptis. Naiknya harga rumah, tingginya biaya pendidikan, serta ketidakpastian kerja kontrak membuat banyak orang meragukan apakah kerja keras di kantor memang menjamin mobilitas sosial. Sama seperti survei Pew Research Center di Amerika tentang American Dream, generasi muda Indonesia kini melihat tantangan serupa. Banyak yang merasa sulit mengejar standar hidup yang lebih tinggi dibanding orang tua mereka.

Ketika atasan selalu sibuk dan sulit diakses, rasa keterasingan ini makin kuat. Fenomena “quiet quitting,” atau bekerja sebatas minimum tanpa keterikatan emosional, kini juga mulai muncul di Indonesia. Tempo melaporkan bahwa di beberapa perusahaan multinasional di Jakarta, karyawan muda memilih menahan ide atau inovasi karena merasa tidak didengar. Atasan yang terlalu sibuk dengan agenda eksternal seringkali kehilangan koneksi dengan tim internalnya.

Isu lain yang relevan dengan konteks Indonesia adalah sikap perusahaan terhadap aktivisme karyawan. Jika di Amerika perusahaan teknologi mulai membatasi diskusi politik internal, di Indonesia tren serupa muncul dalam bentuk aturan ketat penggunaan media sosial oleh karyawan. Beberapa BUMN dan perusahaan swasta besar telah menerbitkan kebijakan yang melarang pegawai berkomentar soal isu politik atau kebijakan publik secara terbuka, dengan alasan menjaga netralitas institusi. Hal ini menimbulkan perdebatan: di satu sisi perusahaan ingin stabilitas, tetapi di sisi lain karyawan merasa ruang berekspresi dibatasi.

Kalender para bos di Indonesia pun semakin padat karena peran ganda yang mereka jalani. Seorang direktur BUMN, misalnya, tidak hanya mengurus operasional perusahaan, tetapi juga harus hadir dalam rapat dengan kementerian, menghadiri acara resmi, dan menjalankan fungsi diplomasi bisnis. Seorang CEO swasta besar juga harus meluangkan waktu untuk investor asing, regulator lokal, asosiasi industri, bahkan kegiatan filantropi. Dengan beban sebesar itu, tak heran jika waktu untuk berdiskusi dengan karyawan internal menjadi terbatas.

Bagaimana solusinya? Pakar manajemen di Universitas Indonesia menekankan pentingnya “disiplin kalender” bagi para pemimpin. Atasan diminta berani mendelegasikan keputusan operasional kepada level manajer menengah, sekaligus menyediakan ruang tetap untuk berdialog dengan tim. Beberapa perusahaan di Indonesia mulai mencoba konsep “open office hour,” di mana direksi menyediakan satu jam setiap minggu untuk mendengar aspirasi karyawan tanpa perantara. Meski sederhana, langkah ini dapat memperbaiki keterhubungan.

Selain itu, digitalisasi bisa membantu. Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mengotomatisasi laporan rutin atau penyusunan notulen rapat dapat memangkas beban administratif para bos. Dengan begitu, waktu mereka bisa dialihkan pada hal strategis dan interaksi langsung dengan karyawan. Seperti dicatat McKinsey & Company, teknologi dapat membebaskan pemimpin dari jebakan birokrasi yang terlalu menyita energi.

Namun, ada aspek budaya yang lebih sulit diubah. Selama “kesibukan” masih dipandang sebagai simbol wibawa, banyak pemimpin di Indonesia enggan terlihat santai. Padahal, menurut Stanford Business School, indikator kepemimpinan sejati bukan banyaknya rapat yang dihadiri, melainkan kualitas keputusan yang diambil. Perubahan paradigma ini perlu ditanamkan dalam kultur korporasi lokal agar atasan bisa lebih efektif dan inklusif.

Jika dibiarkan, fenomena bos yang selalu sibuk berisiko menurunkan loyalitas karyawan Indonesia, terutama generasi muda yang lebih kritis terhadap makna kerja. Mereka tidak hanya mencari gaji, tetapi juga pengakuan, kesempatan berkembang, dan hubungan yang manusiawi. Jarak emosional antara atasan dan bawahan bisa melemahkan daya saing perusahaan di era kompetisi global.

Sebaliknya, jika pemimpin mampu menyeimbangkan visibilitas eksternal dengan aksesibilitas internal, perusahaan di Indonesia justru bisa menjadikan kondisi ini sebagai peluang. Pemimpin yang menyediakan waktu berkualitas untuk tim akan memperkuat rasa memiliki, meningkatkan inovasi, dan pada akhirnya memperkuat daya tahan perusahaan menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Fenomena “bos selalu sibuk” pada akhirnya mencerminkan kompleksitas dunia kerja Indonesia hari ini. Tekanan global, tuntutan publik, dan perubahan sosial-ekonomi membuat kepemimpinan menjadi semakin menantang. Namun, inti dari kepemimpinan tetap sama: hadir untuk tim. Di tengah hiruk pikuk rapat dan jadwal padat, kemampuan pemimpin Indonesia untuk hadir secara manusiawi akan menentukan keberhasilan jangka panjang organisasi.