Bank of New York Mellon

Ketika Dua Bank Kustodian Raksasa Bicara Merger

(Business Lounge) Dua nama besar dalam dunia perbankan kustodian global—Bank of New York Mellon (BNY Mellon) dan Northern Trust—dilaporkan telah melakukan pembicaraan awal mengenai potensi penggabungan usaha. Menurut laporan eksklusif dari The Wall Street Journal, para eksekutif puncak dari kedua lembaga keuangan ini telah melakukan setidaknya satu kali pertemuan untuk membahas kemungkinan konsolidasi. Meskipun tidak ada kesepakatan yang tercapai dan pembicaraan masih sangat awal, kabar ini telah mengguncang industri pengelolaan aset global senilai triliunan dolar, sekaligus menyoroti tekanan struktural yang makin besar di sektor ini.

BNY Mellon, yang berbasis di New York dan memiliki sejarah lebih dari dua abad sebagai institusi keuangan tertua di Amerika Serikat, adalah pemimpin global dalam jasa kustodian dan administrasi aset. Dengan lebih dari $47 triliun aset kustodian per akhir 2024, perusahaan ini memainkan peran penting dalam infrastruktur pasar keuangan global. Sementara itu, Northern Trust, yang berbasis di Chicago, juga merupakan pemain utama dalam bidang yang sama, dengan fokus pada klien institusional dan individu kaya. Mereka mengelola sekitar $14 triliun aset kustodian, dan dikenal karena layanan premium mereka di segmen private wealth.

Dalam lingkungan industri yang semakin kompetitif, munculnya ide penggabungan ini mencerminkan tekanan dari berbagai arah: meningkatnya biaya teknologi dan kepatuhan, menyusutnya margin dari jasa kustodian tradisional, serta ekspektasi investor untuk pertumbuhan yang lebih agresif. Seperti dikemukakan oleh analis industri dari Morgan Stanley yang dikutip Bloomberg, “Konsolidasi menjadi satu-satunya jalan rasional untuk bertahan hidup di sektor dengan skala dominan dan diferensiasi terbatas ini.”

Kabar tentang diskusi merger antara dua institusi keuangan konservatif ini muncul di saat industri perbankan global sedang mengalami gelombang pergeseran besar. Laporan Financial Times menyebutkan bahwa sejak pandemi, layanan kustodian menghadapi tekanan dari digitalisasi dan tekanan harga dari klien institusional yang semakin besar. Dalam dunia di mana pengelolaan data, keamanan siber, dan kecepatan eksekusi menjadi keunggulan kompetitif utama, perusahaan dengan kapasitas modal yang lebih besar cenderung lebih unggul. Karena itu, merger antara BNY Mellon dan Northern Trust dapat dipahami sebagai strategi untuk memperkuat posisi dalam hal skala operasional dan efisiensi teknologi.

Namun meskipun dari sisi logika bisnis penggabungan ini tampak menjanjikan, tantangannya sangat kompleks. Pertama-tama, kedua perusahaan memiliki budaya organisasi yang sangat berbeda. BNY Mellon lebih dikenal sebagai perusahaan yang agresif dalam teknologi dan transformasi digital, sementara Northern Trust cenderung mempertahankan pendekatan personal dan konservatif dalam menangani klien. Menggabungkan dua filosofi manajemen yang berbeda membutuhkan kehati-hatian luar biasa agar tidak mengganggu basis klien masing-masing.

Kedua, isu pengawasan regulasi menjadi salah satu hambatan terbesar dalam merger jenis ini. Karena kedua lembaga sudah termasuk dalam daftar bank sistemik global, setiap rencana penggabungan akan menghadapi pengawasan ketat dari Federal Reserve, Office of the Comptroller of the Currency (OCC), serta Departemen Kehakiman AS terkait isu persaingan. Menurut catatan Reuters, merger bank dengan aset lebih dari $100 miliar telah menjadi subjek politik yang sensitif di tengah kekhawatiran tentang konsentrasi pasar dan stabilitas sistem keuangan.

Selain itu, dari sisi pasar, potensi merger ini menimbulkan spekulasi luas di kalangan investor dan analis. Saham BNY Mellon dan Northern Trust sempat naik setelah berita ini bocor, dengan harapan efisiensi biaya dan penguatan posisi pasar akan menciptakan sinergi besar. Namun sebagian investor juga skeptis terhadap potensi dampak jangka pendek yang bisa muncul, seperti integrasi sistem teknologi yang rumit, redundansi staf, dan risiko kehilangan klien besar yang mengutamakan hubungan personal.

Dalam wawancara yang tidak menyebutkan nama langsung, seorang eksekutif industri yang dikutip oleh WSJ menyatakan bahwa pembicaraan merger semacam ini bukan hal baru. “Sudah sejak beberapa tahun terakhir ada pembicaraan antar-pemain besar, tetapi tantangan integrasi dan kepatuhan membuat banyak kesepakatan kandas sebelum tahap final.” Oleh karena itu, belum jelas apakah diskusi antara BNY Mellon dan Northern Trust akan berkembang menjadi kesepakatan konkret atau hanya percikan sesaat di tengah gejolak industri.

Meski begitu, sinyal bahwa dua bank kustodian terkemuka mulai terbuka untuk kemungkinan merger mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam tentang lanskap industri ini. Dalam dekade terakhir, sebagian besar pertumbuhan di sektor kustodian bergantung pada perluasan pasar modal dan kenaikan nilai aset, bukan inovasi jasa. Namun kini, tekanan biaya dan permintaan untuk layanan berbasis data dan analitik membuat model bisnis lama tidak lagi cukup. Bank yang ingin tetap relevan perlu bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur keuangan yang andal dan berbasis teknologi.

BNY Mellon telah bergerak ke arah itu. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka berinvestasi besar dalam digitalisasi, termasuk melalui platform tokenisasi aset dan pengembangan layanan kustodian untuk aset digital seperti kripto. Northern Trust juga memiliki inisiatif serupa meskipun dengan pendekatan lebih hati-hati, termasuk kerja sama dengan startup blockchain untuk layanan administrasi dana. Dengan bergabung, kedua institusi bisa menyatukan kekuatan: skala dan teknologi dari BNY Mellon, serta kedalaman hubungan klien dan kepercayaan yang dimiliki Northern Trust.

Di tengah arsitektur pasar global yang semakin kompleks dan terdigitalisasi, bank kustodian bukan lagi sekadar “penyimpan aset”, tetapi penjaga data dan likuiditas lintas negara, sekaligus pengelola risiko sistemik dalam transaksi bernilai triliunan dolar. Oleh karena itu, siapa yang menguasai infrastruktur dan data, akan memiliki kekuatan strategis yang semakin menentukan dalam tatanan keuangan global.

Merger semacam ini juga dapat memicu efek domino di sektor keuangan lainnya. Bank seperti State Street dan Citigroup, yang juga memiliki unit kustodian besar, mungkin akan menghadapi tekanan pasar untuk mengkonsolidasi atau meningkatkan kapabilitas mereka. Dalam analisis yang diterbitkan Barron’s, disebutkan bahwa jika merger BNY Mellon dan Northern Trust terealisasi, akan muncul entitas kustodian dengan aset lebih dari $60 triliun dan jaringan global tak tertandingi. Ini bisa menjadi kekuatan baru yang mendefinisikan ulang standar layanan di sektor ini.

Namun untuk saat ini, semuanya masih dalam tahap awal. Belum ada indikasi resmi dari kedua perusahaan tentang tindak lanjut diskusi. Dalam pernyataan kepada media, juru bicara BNY Mellon menolak mengomentari “rumor pasar atau spekulasi”, sementara perwakilan Northern Trust menyatakan bahwa mereka “selalu mengevaluasi peluang untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, namun tidak ada komentar lebih lanjut pada saat ini.”

Dunia perbankan mungkin memang lambat berubah, tetapi dinamika yang kini terjadi menunjukkan bahwa bahkan institusi tertua pun tidak kebal dari arus transformasi yang mengharuskan efisiensi, kolaborasi, dan skala global. Apakah BNY Mellon dan Northern Trust benar-benar akan bersatu atau tidak, satu hal menjadi jelas: industri kustodian sedang memasuki fase baru yang menuntut lebih dari sekadar ukuran—yakni kemampuan untuk berubah.