Warga Jakarta dan sekitarnya belakangan dibuat terkejut saat mendapati banyak lapak daging sapi di pasar tradisional tutup. Bukan karena hari libur, melainkan aksi mogok para pedagang daging sapi yang memprotes harga daging yang terus melonjak. Aksi ini menjadi sinyal keras bahwa ada masalah serius di rantai pasok pangan, khususnya daging sapi.
Pemicu utama lonjakan harga ini adalah melemahnya nilai tukar rupiah serta kebijakan pemerintah yang memangkas tajam kuota impor daging sapi bagi pedagang swasta pada tahun ini.Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah memang melemah terhadap dolar AS. Misalnya, pada akhir 2025 dan awal 2026, kurs perdagangan rupiah sempat berada di sekitar Rp16.8 – Rp16.9 per USD, dengan titik terlemah mencapai sekitar Rp16.985 per dolar AS — level terlemah sejak krisis 1998.
Akibatnya, pasokan daging di pasar menyusut, sementara permintaan tetap tinggi. Situasi ini membuat harga daging sapi meroket dan menekan pedagang kecil yang berhadapan langsung dengan konsumen.
Di sejumlah pasar tradisional di Jakarta, suasana terlihat tidak biasa. Banyak kios daging tutup rapat, menyisakan lorong-lorong pasar yang lengang. Para pedagang memilih mogok karena merasa tidak lagi mampu menjual daging dengan harga yang terjangkau bagi pembeli, sekaligus tetap mendapatkan keuntungan. “Kalau dijual mahal, pembeli marah. Kalau dijual murah, kami rugi,” keluh seorang pedagang.
Kebijakan impor menjadi sorotan utama. Tahun ini, pemerintah memangkas kuota impor untuk swasta secara signifikan, sementara sebagian besar kuota justru dialokasikan kepada perusahaan milik negara. Tujuannya, menurut pemerintah, adalah menjaga stabilitas pasokan dan harga. Namun di lapangan, kebijakan ini dinilai menimbulkan ketimpangan. Pedagang swasta kesulitan mendapatkan pasokan, sementara distribusi dari perusahaan negara belum sepenuhnya menjangkau pasar tradisional.
Para ahli memperingatkan bahwa situasi ini bisa berdampak lebih luas jika tidak segera diatasi. Kekurangan pasokan daging sapi berpotensi mendorong inflasi pangan, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti bulan puasa dan Lebaran. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, daging sapi bisa menjadi barang “mewah” yang semakin sulit dijangkau.
Di sisi lain, melemahnya rupiah turut memperparah keadaan. Biaya impor daging dan pakan ternak meningkat, sehingga harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik. Kombinasi antara faktor nilai tukar dan pembatasan impor menciptakan tekanan ganda yang akhirnya dirasakan langsung oleh konsumen.
Aksi mogok pedagang ini menjadi peringatan bahwa kebijakan pangan tidak hanya soal angka di atas kertas, tetapi juga tentang realitas di pasar. Tanpa keseimbangan antara peran negara dan swasta, serta distribusi yang lancar hingga ke pedagang kecil, gejolak harga akan terus berulang. Bagi masyarakat Jakarta, harapannya sederhana: pasokan kembali normal dan harga daging sapi bisa kembali masuk akal. Semoga segera terjadi!

