Penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah koroner yang bertugas menyuplai darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Dua penyebab utama masalah ini adalah bekuan darah (trombus) dan penumpukan plak lemak (aterosklerosis).
Dalam dunia medis modern, ada dua tindakan penting yang sering dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut: thrombektomi dan penanganan plak lemak di arteri koroner.
Thrombektomi adalah tindakan yang bertujuan untuk mengangkat atau melarutkan bekuan darah yang menyumbat arteri koroner. Bekuan darah ini sering muncul secara tiba-tiba, misalnya saat terjadi serangan jantung atau infark miokard. Ketika aliran darah ke otot jantung terhenti, jaringan jantung mulai kekurangan oksigen dan bisa rusak dalam hitungan menit. Karena itulah, thrombektomi bersifat darurat dan harus dilakukan secepat mungkin.
Cara kerja thrombektomi umumnya melalui prosedur minimal invasif. Dokter memasukkan alat khusus melalui pembuluh darah, biasanya dari selangkangan atau pergelangan tangan, lalu mengarahkannya ke pembuluh koroner yang tersumbat. Dengan kateter ini, trombus bisa ditarik, dipotong, atau disedot keluar. Dalam beberapa kasus, dokter juga menyuntikkan obat pelarut bekuan darah seperti tPA secara lokal untuk membantu menghancurkan trombus. tPA adalah singkatan dari tissue Plasminogen Activator.
Secara sederhana, tPA adalah obat “pelarut bekuan darah” yang digunakan dalam kondisi darurat ketika pembuluh darah tersumbat oleh trombus. tPA bekerja dengan cara mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin, yaitu enzim alami tubuh yang bertugas memecah fibrin. Fibrin inilah “jaring” utama yang membentuk dan menguatkan bekuan darah. Ketika fibrin dipecah, bekuan darah akan larut dan aliran darah bisa kembali lancar.
Dalam dunia kedokteran, tPA sering digunakan pada beberapa kondisi serius, seperti serangan jantung (infark miokard), stroke iskemik, dan emboli paru, dengan tujuan membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat secepat mungkin agar kerusakan jaringan bisa dibatasi.
Berbeda dengan thrombektomi yang bersifat akut, penanganan plak lemak di arteri koroner lebih fokus pada masalah jangka panjang. Plak aterosklerotik terbentuk dari akumulasi lemak, kolesterol, kalsium, dan jaringan ikat di dinding pembuluh darah. Seiring waktu, plak ini bisa menebal dan menyempitkan arteri, atau bahkan retak dan memicu pembentukan bekuan darah baru.
Istilah “pembersihan” plak sebenarnya tidak selalu berarti mengikis plak secara langsung. Langkah paling umum adalah terapi medis jangka panjang dengan obat penurun kolesterol seperti statin, ezetimibe, atau PCSK9 inhibitor. Obat-obatan ini membantu menurunkan kadar kolesterol, memperlambat pertumbuhan plak, dan membuat plak lebih stabil sehingga tidak mudah pecah.
Jika penyempitan sudah cukup berat dan menimbulkan gejala seperti nyeri dada, dokter dapat melakukan intervensi endovaskular, misalnya balon angioplasti dengan pemasangan stent. Balon akan membuka pembuluh darah yang menyempit, sementara stent menjaga agar arteri tetap terbuka. Pada kasus tertentu dengan plak yang sangat tebal atau keras, prosedur atherectomy dapat dilakukan untuk mengurangi volume plak menggunakan alat khusus.
Baik thrombektomi maupun penanganan plak lemak memiliki tujuan yang sama: meningkatkan aliran darah ke jantung, mengurangi risiko serangan jantung, dan memperbaiki kualitas hidup penderita jantung koroner. Keduanya bukan pengganti gaya hidup sehat, melainkan bagian dari strategi medis menyeluruh untuk menjaga jantung tetap bekerja optimal.

