(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)
Banyak orang mengira Shark Tank adalah acara tentang pitching. Anggapan itu keliru. Shark Tank pada dasarnya adalah acara tentang manusia. Tentang para inventor dan wirausahawan dengan latar belakang hidup yang unik, yang berada di satu titik krusial dalam perjalanan bisnis mereka dan membutuhkan bantuan untuk membawa produknya ke tahap berikutnya.
Sebelum sebuah pitch disampaikan, penonton selalu diajak masuk ke dalam cerita personal sang entrepreneur. Kita diperlihatkan apa yang memotivasi mereka, seberapa keras mereka bekerja membangun prototipe, kegagalan apa yang pernah mereka alami, dan apa yang dipertaruhkan dalam beberapa menit singkat di hadapan para “sharks”. Pitch produk baru muncul setelah emosi penonton dan investor dibangun melalui cerita. Barulah kemudian masuk ke pembahasan rasional seperti valuasi, skema investasi, dan mentoring.
Inilah pelajaran terpenting dari Shark Tank: cerita adalah fondasi utama pitching. Bukan hanya bagi investor, tetapi juga bagi calon pelanggan. Bahkan, dalam praktik angel investing, keputusan sering kali lebih ditentukan oleh tim dan cerita di baliknya, bukan semata-mata oleh produknya.
Shark Tank sendiri merupakan acara realitas bisnis asal Amerika Serikat yang telah bertahan lebih dari satu dekade dan masih tayang hingga saat ini. Acara ini mempertemukan para entrepreneur tahap awal dengan panel investor berpengalaman untuk bernegosiasi secara langsung mengenai pendanaan, valuasi, dan arah bisnis. Namun, di balik format kompetitifnya, Shark Tank berfungsi sebagai etalase budaya pitching modern yang dikonsumsi jutaan penonton di seluruh dunia.
Yang menarik, Shark Tank tidak pernah memposisikan diri sebagai kelas bisnis formal. Ia adalah hiburan. Tetapi justru dari sanalah kekuatannya muncul. Melalui televisi, publik luas diperkenalkan pada konsep-konsep yang sebelumnya hanya dikenal di ruang tertutup seperti angel investing, equity, valuation, hingga due diligence. Pitch yang biasanya berlangsung di ruang rapat privat, kini dikemas menjadi tontonan massal yang emosional dan dramatis.
Format ini secara tidak langsung membentuk ekspektasi publik tentang seperti apa seorang entrepreneur “seharusnya” tampil: percaya diri, visioner, mampu menjelaskan angka dengan cepat, dan—yang terpenting—mampu menceritakan kisah hidupnya secara meyakinkan dalam waktu singkat. Di sinilah Shark Tank berperan besar dalam memperkuat pergeseran pitching dari sekadar presentasi bisnis menjadi pertunjukan narasi.
Bagi investor, acara ini menegaskan bahwa data dan proyeksi tidak pernah berdiri sendiri. Mereka selalu dibaca melalui lensa karakter pendirinya. Sementara bagi calon entrepreneur, Shark Tank menjadi referensi tidak resmi tentang standar komunikasi bisnis global: singkat, tajam, personal, dan penuh emosi. Dalam konteks inilah storytelling bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi pitching modern.
Mengapa Cerita Entrepreneur Sangat Penting?
Sebagai entrepreneur, Anda memang wajib menguasai aspek teknis: masalah yang diselesaikan, solusi yang ditawarkan, value proposition, target pasar, hingga lanskap kompetisi. Namun, pitch yang kuat tidak berhenti di sana. Pitch yang melekat adalah pitch yang mampu menyampaikan kisah perjalanan manusia di balik ide tersebut.
Salah satu kerangka paling universal untuk membangun cerita adalah struktur dongeng atau fairy tale. Bukan untuk menciptakan ilusi, melainkan untuk membantu menyusun perjalanan wirausaha secara runtut dan emosional.
Kerangkanya sederhana:
- Dulu ada sebuah masalah.
- Lalu kami menemukan solusi yang paling masuk akal.
- Kami bekerja keras, gagal berkali-kali, hingga menemukan versi terbaiknya.
- Solusi inilah yang Anda lihat hari ini.
- Kami membangunnya dengan pengorbanan besar, dan kini Anda bisa menjadi bagian darinya.
- Bukan hanya memiliki produk, tetapi memiliki ide dan masa depan bisnisnya.
- Bersama, kita bisa membawa inovasi ini ke jutaan orang, menciptakan nilai, dan tumbuh bersama.
Struktur ini bukan formula baku, tetapi alat untuk membantu entrepreneur menanamkan makna, perjuangan, dan visi ke dalam pitch yang rasional.
Dari Cerita Pribadi ke Corporate Narrative
Seiring pertumbuhan perusahaan, cerita pun ikut berkembang. Kisah pendiri berubah menjadi corporate narrative. Bukan lagi dongeng personal, tetapi narasi tentang bagaimana sebuah ide kecil tumbuh menjadi organisasi besar yang melayani jutaan orang.
Contoh klasiknya adalah Hewlett-Packard (HP). Bill Hewlett dan David Packard memulai bisnis mereka dari sebuah garasi kecil di California pada 1930-an. Narasi “bermula dari garasi” bukan sekadar romantisasi sejarah, tetapi simbol tentang inovasi, keberanian, dan kerendahan hati dalam membangun sesuatu dari nol. Hingga hari ini, cerita tersebut masih menjadi pengingat visi awal bagi karyawan dan pemimpin HP.
Storytelling, Brand Advocate, dan Lahirnya FOMO
Keunggulan utama storytelling dalam pitching dan pemasaran adalah sifatnya yang relatable. Cerita membantu orang memahami sesuatu yang baru melalui sudut pandang manusia. Ketika pitch disampaikan dari perspektif seorang pengguna setia atau brand advocate, nilai produk tidak lagi terasa sebagai klaim sepihak, melainkan pengalaman yang ingin dibagikan.
Nike dengan Air Jordan adalah contoh nyata. Komunitas penggemarnya tidak sekadar membeli sepatu, tetapi membeli cerita. Cerita tentang menjadi bagian, walau sedikit, dari kehebatan seorang legenda olahraga. Mereka rela mengantre, menunggu rilis terbaru, dan merasa bangga menjadi yang pertama memiliki produk tersebut.
Di titik inilah storytelling bersinggungan dengan FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah rasa takut tertinggal dari lingkaran sosial, terutama di era media sosial. Orang ingin merasa “hadir”, ingin menjadi bagian dari momen, ingin memiliki apa yang orang lain kagumi. Dalam konteks bisnis, FOMO dapat mendorong euforia terhadap merek dan mempercepat adopsi produk.
Namun, di sisi lain, FOMO juga menciptakan kebutuhan yang dimanufaktur. Konsumsi tidak lagi berbasis fungsi, melainkan identitas dan pengakuan sosial. Kritikus menilai bahwa keterikatan berlebihan pada merek atau barang material berpotensi mengaburkan makna nilai hidup yang lebih esensial.
Etika Storytelling dan Mengelola FOMO
Kemampuan membangun narasi bukanlah lisensi untuk memanipulasi. Pitching yang efektif seharusnya sejalan dengan dampak sosial yang dipertimbangkan. Entrepreneur ditantang untuk menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan tanggung jawab sosial, baik dalam bisnis komersial maupun inisiatif kewirausahaan sosial.
Ada pula narasi lain yang perlu diwaspadai: mitos entrepreneur super-sukses yang “memiliki segalanya”. Kenyataannya, banyak kisah sukses dipengaruhi oleh timing, keberuntungan, dan kondisi eksternal. Terlalu terbuai oleh cerita sendiri dapat membuat entrepreneur mengabaikan masalah pasar, kelemahan produk, atau sinyal kegagalan yang seharusnya diperbaiki.
Hal yang sama berlaku pada teknologi. Jika corporate narrative terlalu menekankan bahwa perusahaan selalu “paling update” dan menguasai semua inovasi terbaru, maka FOMO justru bisa menjadi jebakan strategis. Tidak mungkin sebuah organisasi menguasai seluruh perkembangan ICT dan manufaktur sekaligus. Mengelola FOMO secara bijak justru membantu perusahaan bekerja dari posisi yang lebih seimbang dan realistis.
Cerita yang Sehat adalah Cerita yang Jujur
Peran seorang entrepreneur sebagai komunikator bukanlah menciptakan dongeng untuk dihidupi, melainkan menyampaikan kemampuan untuk bertumbuh, belajar, dan mengatasi tantangan. Cerita yang kuat bukan cerita tanpa kegagalan, tetapi cerita tentang bagaimana kegagalan dihadapi secara sadar dan strategis.
Dalam dunia pitching, storytelling adalah alat yang sangat kuat. Digunakan dengan bijak, ia mampu menggerakkan investor, membangun loyalitas pelanggan, dan menciptakan makna jangka panjang. Digunakan tanpa refleksi, ia bisa berubah menjadi ilusi, FOMO berlebihan, dan keputusan yang rapuh.
Di sinilah kedewasaan seorang entrepreneur diuji: bukan hanya seberapa menarik ceritanya, tetapi seberapa bertanggung jawab ia dalam membangunnya.

