(Business Lounge – Global News) Industri energi global kembali diramaikan oleh kabar besar dari dua raksasa minyak dan gas dunia. Shell dikabarkan tengah menjajaki pembicaraan awal untuk mengakuisisi saingannya, BP (British Petroleum), dalam sebuah manuver yang akan menciptakan salah satu penggabungan paling signifikan dalam sejarah sektor energi. Meski Shell telah mengeluarkan bantahan resmi melalui bursa saham, rumor mengenai konsolidasi dua supermajor oil companies ini telah memicu spekulasi luas di pasar keuangan dan geopolitik energi.
Menurut laporan yang pertama kali dimuat oleh Bloomberg dan Financial Times, pembicaraan tersebut masih berada pada tahap sangat awal dan belum ada kepastian apakah akan berujung pada kesepakatan konkret. Namun hanya dengan munculnya kabar ini, para investor dan analis mulai menghitung potensi implikasi dari kemungkinan merger antara dua perusahaan dengan jejak global, portofolio energi yang luas, dan sejarah panjang dalam industri minyak dan gas.
Shell, yang berbasis di London dan terdaftar di bursa saham Inggris dan Belanda, secara cepat mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa mereka “tidak dalam pembicaraan aktif dengan BP mengenai akuisisi apa pun.” Namun pernyataan itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa penjajakan informal atau analisis strategis internal sedang berlangsung—sebuah hal yang lazim dalam fase awal perundingan merger berskala besar.
Di sisi lain, BP sendiri belum mengeluarkan tanggapan langsung terhadap laporan tersebut. Saham kedua perusahaan sempat mengalami pergerakan signifikan di pasar Eropa, dengan saham BP melonjak tipis di tengah ekspektasi premium akuisisi, sementara saham Shell bergerak fluktuatif karena kekhawatiran investor terhadap potensi biaya akuisisi yang sangat besar serta risiko regulasi.
Jika penggabungan ini benar terjadi, maka akan tercipta konglomerasi energi dengan nilai kapitalisasi pasar gabungan yang melampaui US$300 miliar. Kombinasi tersebut akan mengukuhkan posisi perusahaan gabungan sebagai pemimpin global dalam produksi minyak, gas alam cair (LNG), serta portofolio energi terbarukan yang terus berkembang—di saat industri energi tengah bergulat antara menjaga profitabilitas fosil dan transisi menuju energi bersih.
Namun demikian, tantangan hukum dan regulasi tidak bisa diabaikan. Baik Uni Eropa, Inggris, maupun Amerika Serikat memiliki yurisdiksi antimonopoli yang ketat, terutama untuk merger lintas negara di sektor strategis seperti energi. Selain itu, implikasi geopolitik dari konsolidasi dua ikon industri energi Inggris ini juga akan menjadi perhatian pemerintah. Pengaruh Shell dan BP dalam pasar global—mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Asia Tenggara—sangat besar dan merger semacam ini bisa memicu reaksi keras dari negara-negara penghasil minyak.
Secara historis, baik Shell maupun BP telah melalui fase transformasi besar dalam dua dekade terakhir. BP masih membangun kembali reputasinya setelah bencana tumpahan minyak Deepwater Horizon tahun 2010, sementara Shell telah menjual banyak aset dan mengubah strategi energi bersih sejak pandemi COVID-19. Di tengah tekanan dari investor terhadap keberlanjutan lingkungan dan permintaan global terhadap energi terbarukan, kedua perusahaan tengah berada dalam persimpangan strategis yang menentukan arah jangka panjang mereka.
Beberapa analis industri mencatat bahwa penggabungan ini dapat memberikan sinergi skala besar dalam logistik energi, eksplorasi global, serta divisi energi baru. Namun skeptisisme juga muncul: menggabungkan dua kultur korporasi yang sangat besar, struktur operasional yang kompleks, serta sistem tata kelola multi-negara bukanlah perkara mudah. Belum lagi sensitivitas terhadap politik domestik—di mana BP masih dianggap simbol nasional Inggris, dan Shell, meski multinasional, juga memiliki akar dalam sejarah ekonomi Eropa.
Bagi para pemegang saham, isu utama akan berkisar pada nilai tukar saham, struktur kepemilikan pasca-merger, serta strategi jangka panjang dari entitas gabungan. Apakah entitas baru akan berfokus mempercepat diversifikasi energi bersih atau justru menggandakan investasi di minyak dan gas konvensional masih menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.
Sementara itu, pihak regulator dan pengamat pasar energi memperkirakan bahwa kabar ini akan memicu gelombang baru konsolidasi di sektor energi global. Dengan tingginya biaya eksplorasi, tekanan ESG (environmental, social, governance), serta persaingan ketat dari produsen negara seperti Aramco dan perusahaan China, skala menjadi kunci efisiensi dan daya saing. Merger Shell-BP, jika terjadi, bisa menjadi pendorong bagi perusahaan lain untuk meninjau kembali strategi mereka—baik untuk bertahan maupun untuk berkembang.
Meski semua masih dalam tahap spekulasi, momentum konsolidasi semacam ini mencerminkan tekanan struktural yang dihadapi industri energi global. Harga energi yang tidak stabil, ketidakpastian geopolitik, dan transisi energi hijau telah menciptakan lanskap yang menuntut efisiensi luar biasa. Merger antara dua raksasa bukan hanya soal ekonomi skala, tetapi juga tentang bertahan di tengah gelombang perubahan yang mendefinisikan ulang energi dunia.

