(Business Lounge – Global News) Kekhawatiran soal gelembung kecerdasan buatan kembali mengemuka seiring melonjaknya valuasi perusahaan teknologi dan derasnya aliran modal ke sektor AI. Namun bagi Jensen Huang, CEO Nvidia, kekhawatiran itu justru tidak menjadi alasan untuk mengerem investasi. Berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Huang menegaskan bahwa dunia justru masih berada di tahap awal revolusi AI dan membutuhkan investasi yang jauh lebih besar agar manfaat ekonominya benar-benar terasa.
Dalam pandangannya, persoalan utama bukanlah apakah AI akan menjadi gelembung atau tidak, melainkan bagaimana teknologi itu diterapkan secara nyata di berbagai industri. Huang menekankan bahwa nilai ekonomi AI tidak terletak pada model atau chip semata, melainkan pada aplikasi spesifik yang memecahkan masalah riil di sektor seperti kesehatan, manufaktur, transportasi, hingga keuangan. Pernyataan ini disampaikan di hadapan para pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan dunia, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Menurut Huang, sejarah teknologi selalu menunjukkan pola serupa. Setiap lompatan besar—mulai dari listrik, internet, hingga komputasi awan—awalnya dipenuhi skeptisisme dan kekhawatiran akan pemborosan modal. Namun seiring waktu, investasi besar justru menjadi fondasi bagi produktivitas jangka panjang. Dalam konteks AI, ia menilai dunia masih berada di fase pembangunan infrastruktur, sehingga kebutuhan modal yang besar adalah sesuatu yang wajar.
Nvidia sendiri menjadi simbol utama ledakan AI global. Perusahaan ini menikmati lonjakan permintaan luar biasa terhadap chip grafisnya yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Kapitalisasi pasar Nvidia meroket dalam dua tahun terakhir, menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Meski demikian, Huang menegaskan bahwa kesuksesan Nvidia bukan sekadar hasil spekulasi pasar, melainkan refleksi dari kebutuhan nyata industri terhadap komputasi berperforma tinggi.
Dalam forum tersebut, Huang juga menyoroti pentingnya penerapan AI yang tepat guna. Menurutnya, AI tidak bisa diperlakukan sebagai solusi generik untuk semua masalah. Nilai ekonomi terbesar justru muncul ketika teknologi ini disesuaikan dengan konteks industri tertentu, misalnya untuk mempercepat riset obat, mengoptimalkan rantai pasok, atau meningkatkan efisiensi produksi. Bloomberg mencatat bahwa pandangan ini sejalan dengan strategi Nvidia yang kini tak hanya menjual chip, tetapi juga platform perangkat lunak dan ekosistem AI terintegrasi.
Pernyataan Huang sekaligus menjadi respons terhadap kekhawatiran sebagian investor yang menilai lonjakan saham perusahaan AI menyerupai gelembung dot-com pada akhir 1990-an. Kala itu, euforia teknologi berujung pada kejatuhan besar-besaran ketika ekspektasi tak sejalan dengan realitas bisnis. Namun Huang menilai situasi saat ini berbeda. Menurutnya, AI sudah terbukti menciptakan nilai nyata, bukan sekadar janji masa depan.
Ia menambahkan bahwa tantangan utama ke depan justru terletak pada kesiapan industri dan tenaga kerja dalam mengadopsi AI. Tanpa investasi pada infrastruktur, pelatihan, dan integrasi sistem, potensi AI tidak akan maksimal. Karena itu, ia mendorong perusahaan dan pemerintah untuk tidak ragu menanamkan modal, meskipun manfaatnya mungkin baru terasa dalam jangka menengah hingga panjang.
Pandangan ini mendapat perhatian luas karena datang di tengah perdebatan global soal arah investasi teknologi. Banyak pemerintah tengah menimbang bagaimana menyeimbangkan dorongan inovasi dengan risiko ketimpangan, keamanan data, dan ketergantungan pada segelintir perusahaan teknologi besar. Dalam konteks ini, pernyataan Huang mencerminkan optimisme kalangan industri bahwa AI akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi global berikutnya.
Di sisi lain, para analis menilai sikap Nvidia juga mencerminkan posisi strategis perusahaan tersebut. Dengan permintaan chip AI yang masih jauh melampaui pasokan, Nvidia berada di posisi yang relatif aman untuk mendorong narasi perlunya investasi berkelanjutan. Financial Times mencatat bahwa belanja modal perusahaan teknologi besar untuk pusat data AI diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, meski kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil.
Pesan utama Huang di Davos cukup jelas: ketakutan terhadap gelembung tidak seharusnya menghambat kemajuan. Menurutnya, AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan fondasi baru bagi ekonomi digital. Selama investasi diarahkan pada aplikasi nyata dan produktif, teknologi ini diyakini akan menciptakan nilai jangka panjang yang jauh melampaui biaya yang dikeluarkan hari ini.
Dengan semakin banyak perusahaan dan pemerintah yang berlomba mengadopsi AI, perdebatan soal gelembung kemungkinan akan terus berlanjut. Namun seperti yang ditegaskan Huang, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar investasi yang digelontorkan, melainkan seberapa cerdas dunia memanfaatkan AI untuk menciptakan manfaat ekonomi yang nyata, sebagaimana disorot oleh Reuters, Bloomberg, dan Financial Times.

