(Business Lounge Journal – News and Insight)
Setelah bertahun-tahun bereksperimen dengan berbagai format ritel fisik tanpa hasil yang benar-benar spektakuler, Amazon kembali mengambil langkah berani. Kali ini, bukan dengan konsep kecil atau toko tanpa kasir, melainkan dengan toko fisik terbesar yang pernah dibangunnya.
Raksasa e-commerce asal Amerika Serikat tersebut mengumumkan rencana pembukaan megastore seluas 230.000 kaki persegi di Orland Park, pinggiran kota Chicago, Illinois. Proyek ini telah mendapatkan persetujuan akhir dari dewan desa setempat dan ditargetkan mulai beroperasi paling cepat pada 2027, meski sempat menuai keberatan dari sebagian warga.
Skala yang Tidak Main-Main
Toko ini akan berdiri di atas lahan 35 acre, dilengkapi sekitar 800 area parkir, dan—yang cukup menarik—tidak mewajibkan pengunjung menjadi anggota Amazon Prime. Keputusan ini menunjukkan upaya Amazon untuk menjangkau konsumen arus utama, bukan hanya pelanggan loyal ekosistem digitalnya.
Meski disebut sebagai “toko”, tidak seluruh bangunan akan difokuskan pada area belanja. Amazon menyebut lebih dari separuh bangunan akan digunakan untuk operasional back-of-house, meskipun perusahaan menegaskan fasilitas tersebut bukan pusat logistik atau gudang pemenuhan pesanan.
Perpaduan Ritel dan Konsumsi Harian
Dari sisi konsep, Amazon tampaknya mengadopsi pendekatan mirip Costco. Fokus utama toko ini mencakup:
- Produk kebutuhan sehari-hari
- Merchandise umum
- Bahan makanan
- Makanan siap saji yang diproduksi langsung di lokasi
Strategi ini menempatkan toko sebagai destinasi belanja terpadu—bukan sekadar tempat membeli barang, tetapi juga ruang konsumsi dan pengalaman.
Mengapa Amazon Kembali ke Toko Fisik?
Langkah ini mencerminkan realitas penting dalam industri ritel Amerika Serikat: penjualan online masih menyumbang kurang dari 20% total pasar ritel. Artinya, mayoritas konsumen masih berbelanja di toko fisik.
Meski Amazon memimpin pasar e-commerce global, dominasi tersebut belum otomatis diterjemahkan menjadi kesuksesan di ritel offline. Beberapa inisiatif sebelumnya justru dipangkas:
- Amazon Fresh: kini tersisa lebih dari 50 toko, jauh berkurang dari puncaknya
- Amazon Go: tinggal 14 gerai, setelah penutupan besar-besaran sejak 2023
Satu-satunya akuisisi ritel yang relatif konsisten performanya adalah Whole Foods, namun perlu dicatat bahwa jaringan tersebut sudah sukses bahkan sebelum diambil alih Amazon.
Uji Coba Strategis, Bukan Sekadar Ekspansi
Megastore Orland Park dapat dibaca sebagai laboratorium strategis. Jika format ini terbukti efektif—baik dari sisi profitabilitas, traffic pengunjung, maupun efisiensi operasional—Amazon membuka peluang untuk mereplikasi model serupa di kota-kota besar lain.
Bagi Amazon, taruhan ini bukan sekadar soal ukuran, melainkan upaya menemukan formula ritel fisik yang relevan di era digital: menggabungkan skala besar, kebutuhan harian, dan pengalaman belanja yang efisien.
Apakah “bigger is better” akan berlaku kali ini? Jawabannya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan. Namun satu hal jelas: Amazon belum siap menyerah pada dunia ritel fisik—dan kini mereka memilih untuk melawannya dengan ukuran maksimal.

