Produsen Asal Barat Banyak Buka Toko Online Cina

(Business Lounge – Business Today) – Besarnya peluang e-commerce di Cina telah menarik minat perusahaan asing selama bertahun-tahun. Namun demikian, perusahaan seperti eBay, Google, dan Groupon telah lama bergelut di negeri tersebut sebagian karena menghadapi persaingan dari raksasa setempat. Para peritel Barat pun mengeluhkan sulitnya distribusi di Cina, selain tuntutan para pembeli online akan harga barang yang rendah.

Kian banyak produsen asal negeri Barat membuka toko online di Cina untuk merangkul konsumen. Mereka mengadopsi formula sukses yang telah diterapkan oleh Alibaba Group Holdings.

Namun, sektor e-commerce Cina—yang dalam ukuran tertentu berhasil melewati Amerika Serikat (AS) pada 2013 sebagai pasar ritel online terbesar dunia—terlalu besar untuk dikesampingkan. Penjualan ritel secara online di Cina diharapkan mencapai nilai $540 miliar pada 2015 dibandingkan dengan pencapaian AS sebesar $345 miliar, demikian keterangan firma konsultasi Bain & Co. Penjualan ritel secara online di Cina meningkat lebih dari 70% per tahun sejak 2009 dibandingkan dengan AS yang mencapai 13%.

“Jika akan memasuki Cina, e-commerce akan menjadi hal pertama yang akan menjadi pertimbangan. Jika telah berada di negeri tersebut, kita akan susah payah untuk melakukan adaptasi,” ujar Duncan Clark, presiden direktur BDA China, badan penasihat investasi di Beijing.

Merek-merek terkenal seperti Zara, Coach, dan toko serba ada Neiman Marcus Group memulai usaha toko online di Cina pada akhir 2012.

Brand pakaian olahraga Puma membangun situs e-commerce di Cina pada Agustus lalu. Sementara itu, merek ternama di dunia fashion, Hugo Boss dan produsen pakaian, Cherokee membuka toko online pada Februari. Selain itu, National Football League mulai menjual merchandise pada October. Gap berencana menawarkan Old Navy di Cina, baik online maupun offline, pada semester pertama 2014.

Setelah menutup toko di Cina, peritel rumah Home Depot dan waralaba elektronik Best Buy tahun ini meresmikan toko di situs Tmall milik Alibaba. Sementara itu, nama konsultan seperti Advangent dan Export Now beberapa tahun belakangan mencuat demi melayani naiknya permintaan akan barang online milik perusahaan Barat di Cina.

K’Nex Brands, produsen mainan proyek bangunan yang membuka toko online di Tmall pada Agustus memanfaatkan data transaksi untuk cepat mendapat masukan mengenai produk dan harga yang dikehendaki oleh para konsumen Cina. “Kami ingin memastikan bahwa saat kami mulai [melakukan penjualan di toko-toko Cina], imbalannya sesuai dengan risiko yang kami ambil,” ujar Direktur Utama Michael Araten. Sejumlah peritel mengatakan perluasan ke pasar e-commerce tidak mengorbankan keberadaan toko fisiknya.

(IC/IC/BL-WSJ)

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x