(Business Lounge – Art)
- Pendahuluan: Ruang Hangat di Kedutaan Austria
Di tengah suasana yang hangat, aroma kopi dan deretan lembaran buku menjadi saksi bertemunya berbagai kisah lintas benua. Berlangsung di Kedutaan Besar Austria, pertemuan kultural ini terasa berkesan. Ruangan yang nyaman dengan tata suara yang mendukung turut memberikan pengalaman tersendiri, terutama saat permainan piano Ananda Sukarlan terdengar jernih dan dinikmati oleh para hadirin.
Diprakarsai atas kolaborasi Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta, acara bertajuk “Books and Identity Over Coffee: Vienna · Kyiv · Jakarta“ hadir sebagai ruang dialog sastra dan musik yang melintasi batas-batas wilayah dan sejarah. Pertemuan ini menjadi salah satu agenda kultural bagi para sastrawan mancanegara yang tiba di Jakarta sebelum meneruskan perjalanan mereka menuju perhelatan bergengsi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF).
Inisiatif ini membawa misi mendalam: menunjukkan bagaimana karya sastra dan musik mampu memperkuat serta melestarikan identitas nasional sekaligus menjadi jembatan emosional antarbudaya.
- Sub-bab Tematik & Profil Empat Penulis: Menelusuri Jejak Identitas Lewat Karya Tulis
Diskusi ini menghadirkan empat penulis dari Indonesia, Austria, dan Ukraina yang berbagi kisah serta gagasan melalui karya-karya mereka.
- Laksmi Pamuntjak (Fall Baby & Blue Iris):
Laksmi Pamuntjak adalah novelis, penyair, dan peraih penghargaan internasional bergengsi seperti LiBeraturpreis 2016 di Jerman serta Singapore Book Award 2020.
Melalui Fall Baby, Laksmi Pamuntjak mengangkat kisah Bhisma Rashad, ayah biologis tokoh utama, seorang dokter yang dikirim sebagai tahanan politik ke Pulau Buru pada 1971 meskipun ia bukan komunis. Setelah kamp tahanan dibubarkan pada 1979, Bhisma memilih tetap tinggal di pulau itu untuk melayani masyarakat setempat. Kisahnya tidak hanya menyentuh sejarah penahanan politik Indonesia, tetapi juga mengangkat ikatan keluarga, ingatan, dan bagaimana sosok seorang ayah dapat membentuk identitas anaknya, bahkan ketika keduanya tidak sempat saling mengenal dengan baik.
Sementara itu, dalam Blue Iris, Laksmi merefleksikan identitas melalui pengalaman generasi muda yang bergaul tanpa menjadikan perbedaan ras sebagai dasar hubungan. Ia juga menceritakan pengalaman ketika identitas agamanya diasumsikan berdasarkan penampilan fisik, serta mempertanyakan prasangka yang muncul dari penilaian semacam itu. Refleksinya kemudian meluas pada Indonesia sebagai sebuah bangsa yang menyatukan keragaman etnis, pulau, bahasa, dan kebudayaan dalam satu identitas nasional.
Kedua karya tersebut menghadirkan sudut pandang berbeda tentang identitas: melalui sejarah keluarga dan pengalaman personal, maupun melalui pertanyaan tentang bagaimana seseorang dan sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.
- Stefan Kutzenberger (Friedinger):
Sastrawan dan dosen universitas di Wina yang telah meraih berbagai penghargaan internasional—seperti Prize of the International Literary Dialogues—ini membawakan narasi autofiksinya, Friedinger. Stefan menelusuri silsilah keluarga yang melintasi benua, berawal dari kisah nenek dari pihak ibunya, seorang perempuan Yahudi yang melarikan diri dari rezim Nazi. Dari Berlin, ia menempuh perjalanan melalui Amsterdam hingga akhirnya tiba di Indonesia, tempat ia kemudian menikah dengan seorang pria Tionghoa-Indonesia.
Kisah ini berlanjut pada gelombang represi tahun 1966 yang memaksa keluarganya berpindah ke Austria. Dalam proses kreatifnya, Stefan membedah dilema penulisan identitas: ia menolak hanya menyoroti silsilah ibunya yang terkesan “eksotis” di Asia, melainkan memilih merangkul sejarah keempat kakek-neneknya dari Austria hingga Indonesia. Stefan menegaskan bahwa memori masa lalu dan garis keturunan yang tersembunyi merupakan fondasi penting dalam membentuk konstruksi identitas seorang manusia.
Penuturan Stefan tentang sejarah keluarganya dan keputusannya untuk merangkul kisah keempat kakek-neneknya memperlihatkan bahwa pencarian identitas dapat melintasi batas negara, sejarah, dan generasi.
- Irena Karpa (I, Atrey):
Irena Karpa adalah seorang penulis, musisi (vokalis utama dan penulis lagu band alternatif Qarpa), serta jurnalis asal Ukraina. Karyanya dikenal memadukan humor tajam, komentar sosial, dan suara yang berani serta khas. Menariknya, Irena memiliki ikatan emosional yang erat dengan Indonesia karena pernah tinggal di sini semasa studi pascasarjananya—sebuah pengalaman yang kemudian tertuang dalam novelnya Freud Would Cry.
Dalam acara ini, Irena tampil sebagai sosok yang hangat, humoris, dan penuh energi, sekaligus memancarkan ketegaran di tengah situasi sulit yang dialami negaranya. Di balik kehangatan komunikasinya, karyanya I, Atrey menyuarakan realitas penderitaan dan trauma pascaperang (post-traumatic stress disorder atau PTSD) dengan jujur. Ia menyoroti bagaimana warga sipil—dari mantan guru, ahli IT, hingga petani—yang tadinya hidup tenang, mendadak terlempar ke garis depan perang dalam apa yang ia sebut secara ironis sebagai “Liga Champions Baru” di kota-kota yang hancur. Melalui metafora yang menyentuh tentang “debu perang yang tak pernah benar-benar bisa terhapus dari hati” serta pencarian “tempat tenang untuk hidup damai”, Irena menunjukkan bahwa ujian terberat seorang penyintas tidak selalu berakhir ketika pertempuran mereda. Bagi sebagian orang, perjuangan berikutnya justru terletak pada upaya membangun kembali kehidupan di tengah trauma dan kehampaan.
- Dhianita Kusuma Pertiwi (Buku Harian Keluarga Kiri):
Dhianita Kusuma Pertiwi adalah penulis, penerjemah, editor, dan peraih Nusantara Academic Award 2020.
Melalui novelnya Buku Harian Keluarga Kiri (2019), Dhianita mengangkat kisah yang berakar pada pengalaman keluarganya sendiri. Cerita ini berpusat pada sosok kakeknya, Pak Suwadi, seorang pegawai negeri di Malang yang hidup bersama keluarganya dan mengagumi Bung Karno.
Berlatar kehidupan di Malang pada 1966, kisah tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga yang semula tenang berubah ketika sekelompok orang berseragam hijau dari organisasi paramiliter Banser datang dan membawa Pak Suwadi secara paksa di hadapan keluarganya, tanpa proses peradilan yang jelas. Ia kemudian diasingkan sebagai tahanan politik di Pulau Buru selama lebih dari sepuluh tahun.
Melalui sudut pandang personal dan historis, Dhianita merekonstruksi ingatan keluarga, mengangkat pengalaman interogasi dan penahanan, serta memperlihatkan beban mental yang ditimbulkan oleh stigma “dosa turunan” dan pembatasan ruang gerak sosial-politik.
- Peran Moderator dan Dinamika Diskusi
Keberhasilan diskusi ini tidak terlepas dari peran Debra H. Yatim selaku moderator. Dengan kepiawaian dan kehangatan dalam memandu percakapan, ia berhasil merajut benang merah dari latar belakang para penulis yang sangat beragam.
Melalui pertanyaan-pertanyaan yang bernas dan pendekatan wawancara yang suportif, para penulis terdorong untuk mengungkapkan latar belakang emosional, pergulatan batin, serta realitas di balik karya mereka. Yang mengesankan, para penulis menyampaikan pengalaman pribadi mereka dengan jujur dan menyentuh, tanpa membangun kesan meminta belas kasihan.
Sebaliknya, melalui karya-karya mereka, pengalaman tersebut diolah menjadi refleksi yang lebih mendalam tentang diri, sejarah, dan kehidupan. Hal ini menciptakan suasana diskusi yang hidup, jujur, dan menggugah siapa pun yang mengikutinya.
- Refleksi Kemanusiaan, Sentuhan Musik Ananda Sukarlan, dan Kehadiran Tokoh Lintas Negara
Kedutaan Besar Austria menilai komposer dan pianis ternama Ananda Sukarlan sebagai sosok yang tepat untuk terlibat dalam acara ini. Ia dikenal memiliki hubungan erat dengan dunia sastra melalui gubahan lebih dari 500 tembang puitik serta opera yang berbasis karya sastrawan Indonesia dan dunia. Melalui karya-karyanya, terutama seri Rapsodia Nusantara, Ananda memperlihatkan bagaimana seni musik dapat menjadi sarana untuk melestarikan identitas nasional.
Penampilan Ananda Sukarlan malam itu menambahkan dimensi emosional pada keseluruhan acara.
- Rapsodia Nusantara No. 39 (“Oras Loro Malirin”): Karya berbasis lagu daerah NTT ini ditulis khusus untuk dimainkan hanya dengan tangan kiri. Karya ini digubah Ananda untuk yayasan “Superhuman” di Ukraina sebagai bentuk penghormatan dan dedikasi kepada para musisi yang kehilangan anggota tubuh akibat perang.
- Karya Etnik & Penutup: Ia juga membawakan komposisi “Paradise Lost” yang kental dengan nuansa etnik Bali, serta “Urip iku Urup” yang sarat akan filsafat seni Jawa. Penampilannya ditutup dengan karya terbarunya, “Under Juliet’s Balcony”, yang baru ditulisnya pada Juni lalu di Verona, Italia. Para hadirin menyambut penampilannya dengan antusias setelah ia menyelesaikan permainan.
Kehadiran sosok Ananda—seorang musisi peraih gelar kesatriaan dari Presiden Italia (Cavaliere Ordine della Stella d’Italia), penghargaan Real Orden de Isabel la Católica dari Kerajaan Spanyol, serta masuk dalam daftar 100 Asia’s Most Influential oleh Majalah Tatler Asia— memperkaya dimensi kultural dari perhelatan ini.
Kehangatan acara ini juga terasa dalam interaksi antara para penulis, tamu undangan, dan diplomat yang hadir. Sejumlah perbincangan akrab berlangsung bersama Duta Besar Austria Alexander Rieger, Duta Besar Finlandia Pirjo Suomela-Chowdhury, serta perwakilan dari Kedutaan Besar Georgia. Para diplomat dan perwakilan negara sahabat tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini serta menikmati kebersamaan dengan seluruh peserta.
Penulis juga berkesempatan berbincang langsung dengan Ananda Sukarlan, Dhianita Kusuma Pertiwi, Irena Karpa, para penyelenggara, serta rekan-rekan media yang hadir dalam acara tersebut. Berbagai interaksi tersebut meninggalkan kesan positif dan memperlihatkan terjalinnya hubungan lintas budaya dalam suasana yang akrab.
- Penutup & Pandangan Jurnalis
Dari sudut pandang jurnalistik Business Lounge Journal (BLJ), acara Books and Identity Over Coffee menghadirkan perpaduan sastra, musik, dan dialog lintas budaya dalam suasana yang hangat dan akrab. Acara ini bukan sekadar forum diskusi sastra formal, melainkan ruang kultural yang membuka kesempatan bagi para peserta, seniman, diplomat, dan penikmat sastra untuk membangun persahabatan lintas budaya.
Sore itu memperlihatkan bahwa sastra dan musik dapat melampaui batas sebuah acara seremonial. Dari Wina, Kyiv, hingga Jakarta, pertemuan ini menjadi pengingat akan pentingnya nilai kemanusiaan, kerinduan akan keadilan, serta indahnya membangun persahabatan di tengah perbedaan.

