{"id":99903,"date":"2015-03-11T08:02:27","date_gmt":"2015-03-11T01:02:27","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=99903"},"modified":"2015-03-11T16:56:11","modified_gmt":"2015-03-11T09:56:11","slug":"metode-penilaian-sebuah-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/03\/11\/metode-penilaian-sebuah-bisnis\/","title":{"rendered":"Metode Penilaian Sebuah Bisnis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Manage Your Finances) Acap kali seorang pebisnis mengalami kesulitan dalam menilai besarnya ekuitas sebuah bisnis. Informasi ini sering dibutuhkan oleh seorang pebisnis saat hendak melakukan keputusan investasi, membeli atau menjual perusahaan, penentuan komposisi pemegang saham saat melakukan kerjasa dengan partnernya, dan kepentingan lainnya. Laporan keuangan yang ada tidak mencerminkan besarnya nilai ekuitas yang sebenarnya karena masih menggunakan nilai <em>historical<\/em> (<em>historical value<\/em>). Beberapa penyesuaian perlu dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan dan metode penilaian yang umum digunakan dalam menilai ekuitas, prosedur penilaian perusahaan dilaksanakan\u00a0 dengan\u00a0 mengaplikasikan pendekatan dan metode penilaian usaha yang berlaku umum dalam penilaian\u00a0 perusahaan atau ekuitas sesuai dengan Standar Penilaian Indonesia (SPI) 2007 yang ditetapkan oleh Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI) dan\u00a0 Masyarakat\u00a0\u00a0 Profesi\u00a0 Penilai\u00a0 Indonesia (MAPPI). Ada tiga pendekatan dalam penilaian usaha yang umum digunakan, yaitu :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pendekatan Aktiva (<em>Asset Based Approach)<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan ini dituangkan pada\u2013 SPI 2007, PPPI 6, butir 3.29. Suatu cara untuk memperkirakan nilai dari suatu bisnis atau ekuitas menggunakan metode\u00a0 yang\u00a0 berdasarkan\u00a0 pada\u00a0 nilai\u00a0 pasar\u00a0 aset\u00a0 bisnis\u00a0 secara\u00a0 individu\u00a0 dikurangi dengan kewajiban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nilai pasar sebuah asset tentu berbeda dengan nilai buku, perkiraan nilai pasar sebuah aset bisa ditarik hingga batas proyeksi rugi laba yang dilakukan untuk optimalisasi nilai aset. Bila proyeksi rugi laba dilakukan selama sepuluh tahun, maka penilaian aset dapat dilakukan hingga sepuluh tahun.\u00a0 Aset seperti tanah, merupakan bentuk aset yang terus bertambah nilainya dan sangat tidak sesuai dengan nilai buku.\u00a0Setelah taksiran nilai pasar aset ditentukan, maka ekuitas akan didapatkan sesudah nilai kewajiban ditentukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pendekatan Pasar (<em>Market Approach<\/em>)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam menghitung nilai perusahaan pendekatan pasar diatur pada SPI 2007, PPPI 6, butir 3.31. Cara\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 lazim\u00a0\u00a0 untuk\u00a0\u00a0 memperkirakan\u00a0\u00a0 indikasi\u00a0\u00a0 nilai\u00a0\u00a0 suatu\u00a0\u00a0 bisnis, hak\u00a0\u00a0 atas kepemilikan bisnis, atau sekuritas menggunakan satu atau lebih metode yang membandingkannya\u00a0 dengan\u00a0 bisnis\u00a0 yang sama,\u00a0 hak atas kepemilikan\u00a0 bisnis,\u00a0 atau sekuritas sejenis yang telah dijual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai contoh dalam menentukan nilai ekuitas sebuah perusahaan properti maka dapat dilakukan penghitungannya melalui perbandingan dengan nilai kapitalisasi pasar, earning per share (EPS), price earning ratio (PER), 1\/PER yang bisa menunjukan berapa pengembalian saham yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pendekatan Pendapatan (<em>Income Approach)<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 lazim\u00a0\u00a0 untuk\u00a0\u00a0 memperkirakan\u00a0\u00a0 indikasi\u00a0\u00a0 nilai\u00a0\u00a0 suatu\u00a0\u00a0 bisnis,\u00a0\u00a0 hak\u00a0\u00a0 atas kepemilikan usaha, atau sekuritas menggunakan satu atau lebih metode dimana nilai diperkirakan\u00a0\u00a0 dengan\u00a0 mengkonversi\u00a0\u00a0 keuntungan\u00a0\u00a0 yang\u00a0 diantisipasi\u00a0\u00a0 menjadi\u00a0\u00a0 nilai modal. Pendekatan ini disebut dengan discounted cash flow method yang menghitung nilai perusahaan dengan mendapatkan nilai sekarang dari pendapatan yang akan diterima kemudian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga metode yang digunakan umumnya juga dilakukan rekonsiliasi nilai yang merupakan kombinasi dari ketiga penilaian yang dilakukan dengan adjusted weighted yang nilainya berbeda-beda tergantung penilaian seorang penilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Ari Dewanto\/VMN\/BD\/Regional Head-Vibiz Research Center<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Manage Your Finances) Acap kali seorang pebisnis mengalami kesulitan dalam menilai besarnya ekuitas sebuah bisnis. Informasi ini sering dibutuhkan oleh seorang pebisnis saat hendak melakukan keputusan investasi, membeli atau menjual perusahaan, penentuan komposisi pemegang saham saat melakukan kerjasa dengan partnernya, dan kepentingan lainnya. Laporan keuangan yang ada tidak mencerminkan besarnya nilai ekuitas yang sebenarnya karena masih menggunakan nilai historical (historical value). Beberapa penyesuaian perlu dilakukan. Pendekatan dan metode penilaian yang umum digunakan dalam menilai ekuitas, prosedur penilaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":59951,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,5,1051],"tags":[5130],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99903"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99903"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99903\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100025,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99903\/revisions\/100025"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}