{"id":98265,"date":"2015-03-04T17:24:59","date_gmt":"2015-03-04T10:24:59","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=98265"},"modified":"2015-03-04T17:24:59","modified_gmt":"2015-03-04T10:24:59","slug":"transferring-knowledge","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/03\/04\/transferring-knowledge\/","title":{"rendered":"Transferring Knowledge"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Pernahkah Anda sulit mendapatkan informasi apalagi\u00a0 ilmu dari seorang pemimpin?\u00a0 Saya pernah melihat seorang pengusaha perusahaan besar yang sangat takut karyawannya menjadi pintar. Sangking takutnya ia tidak pernah merekrut orang-orang professional. Dalam perekrutan, pendidikan tertinggi yang ia rekrut adalah SMU. Orang-orang yang ia rekrut ini berkembang bertahun-tahun dengan pengetahuan seadanya dan menjadi pintar melalui pekerjaan lapangan, yang loyal kemudian diangkat menempati posisi-posisi yang tinggi dalam perusahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Jangan Pelit<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai pemimpin tidak boleh pelit ilmu. Kalau Anda hanya ingin pintar sendiri maka saya pastikan Anda tidak cocok menjadi pemimpin. Seorang pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan kecerdasan dan kemampuannya sendiri. Katakanlah Anda seorang yang sangat pintar\u2026 tapi dengan kepintaran Anda, tetap saja kemampuan Anda terbatas. Anda hanya punya dua tangan dan dua kaki serta satu mulut untuk bekerja. Otak boleh sangat hebat tapi yang lainnya hanya segitu kemampuannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang pemimpin yang cerdas justru tahu bagaimana mencerdaskan karyawannya. Memberikan ilmu yang mereka perlukan untuk menguasai bidang yang mereka kerjakan dan tidak akan pernah takut tersaingi atau dikalahkan.\u00a0 Hal ini harus dimulai dari mental Anda sendiri yang \u201cmurah hati\u201d untuk melakukan\u00a0<i>transferring knowledge<\/i><b>. <\/b>Apalagi sebagai pemimpin utama, maka sikap Anda akan mempengaruhi sikap perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Kaderisasi <\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adalah tugas seorang pemimpin untuk melakukan edukasi, memberikan training baik <i>in class<\/i> maupun <i>on the job training<\/i>, melakukan <i>coaching <\/i>serta memberikan kesempatan untuk maju. Di dalam sebuah perusahaan hal ini semuanya harus ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernahkah Anda mempelajari bisnis Bank? Semua karyawan yang direkrut wajib mengikuti sejumlah training yang meningkatkan <em>skill<\/em> mereka, baik itu <i>hard skill<\/i> maupun <i>soft skill.<\/i> Apakah ada yang setelah ditraining lalu pergi ke Bank lain? Tentu ada\u2026 banyak mungkin. Namun demikian mereka tetap menemukan bibit-bibit potensil, calon pemimpin baru yang loyal yang dapat meneruskan generasi sebelumnya.\u00a0 Anggaplah 100 orang yang Anda training, maka 15% keluar tapi 85 % nya jadi sebagai pemimpin yang Anda harapkan. Proses pengkaderan berjalan terus tanpa pernah kosong atau terhenti.\u00a0 Lebih menguntungkan bukan?\u00a0 Dalam hal ini Anda harus menyadari bahwa pengkaderan terkait dengan sebuah proses menyiapkan pemimpin. Hal ini berarti termasuk proses menyiapkan baik <i>hard skill <\/i>maupun <i>soft skill<\/i> mereka yang juga termasuk di dalamnya <i>leadership<\/i> untuk suatu hari kelak mereka siap menjadi pemimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Membeli Loyalitas<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang salah berpikir mengira dengan <i>transferring knowledge<\/i> ia sedang membuka kesempatan dikhianati pengikutnya sendiri. Tapi justru dengan <i>good transferring knowledge,<\/i> Anda sedang membeli loyalitas karyawan Anda. Jangan salah berpikir! Ketika Anda menunjukkan integritas Anda.. <em>walk the talk<\/em>\u2026 dan memberikan <em>transferring knowledge<\/em> dengan <em>fair<\/em> maka karyawan menemukan bahwa Anda adalah figur yang sulit dicari duanya. Karyawan akan berpikir sulit untuk menemukan boss di tempat lain yang seperti Anda. Karyawan akan berpikir dua kali untuk pindah. Apalagi kalau jenjang karir di perusahaan Anda jelas dan ia tahu ia sedang meniti masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi mari kita sebagai pemimpin tidak pelit ilmu, melainkan murah hati memberi ilmu. Percayalah, ini merupakan suatu nilai tambah bagi kepemimpinan Anda yang mampu membeli loyalitas pengikut!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49296 alignleft\" alt=\"Vera Herlina\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a> <\/em><em>Vera Herlina\/VMN\/BL\/<\/em><em>Managing Partner Leadership, Entrepreneurship and Strategic Management Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Pernahkah Anda sulit mendapatkan informasi apalagi\u00a0 ilmu dari seorang pemimpin?\u00a0 Saya pernah melihat seorang pengusaha perusahaan besar yang sangat takut karyawannya menjadi pintar. Sangking takutnya ia tidak pernah merekrut orang-orang professional. Dalam perekrutan, pendidikan tertinggi yang ia rekrut adalah SMU. Orang-orang yang ia rekrut ini berkembang bertahun-tahun dengan pengetahuan seadanya dan menjadi pintar melalui pekerjaan lapangan, yang loyal kemudian diangkat menempati posisi-posisi yang tinggi dalam perusahan. Jangan Pelit Sebagai pemimpin tidak boleh pelit ilmu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":73945,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,15,1051],"tags":[5969],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98265"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=98265"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":98267,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98265\/revisions\/98267"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73945"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=98265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=98265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=98265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}