{"id":94597,"date":"2015-02-17T09:51:34","date_gmt":"2015-02-17T02:51:34","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=94597"},"modified":"2015-02-17T09:51:34","modified_gmt":"2015-02-17T02:51:34","slug":"arrogant-that-harm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/02\/17\/arrogant-that-harm\/","title":{"rendered":"Arrogant That Harm"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Suatu pagi saya mendengar teriakan seorang boss di pasar kepada anak buahnya dengan nada arogan, \u201cBodoh banget sih kamu.. masak begini saja tidak becus? Selama saya punya anak buah belum ada yang sebodoh kamu!\u201d Sang karyawan hanya tertegun, entah terima atau tidak teguran yang datang tetapi ia terhenyak sesaat menyadari kesalahannya ataukah kebodohannya, mungkin. Karyawan ini cukup baik karena meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Di lain waktu lagi saya memperhatikan seorang karyawan terpancing emosi ketika atasannya membentak dan membalas mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas dituliskan disini. Beberapa pemimpin bahkan memiliki <em>habit<\/em> melabrak habis kesalahan anak buah tanpa melihat waktu dan tempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seringkali ketika kita ada dalam sebuah posisi seorang pemimpin, kita menuntut orang melakukan ini dan itu bagi kita. Kita memerintahkan sesuatu dan meminta pengikut kita untuk melakukannya tepat seperti apa yang kita inginkan. Ketika ada kesalahan dalam tugas yang kita berikan kepada anak buah kita, mungkin kita akan kesal, marah, emosi dengan kesalahan yang dibuat oleh anak buah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sadar ataupun tidak, ketika seorang pemimpin memiliki pengikut maka tanpa disadari pengikut itu telah menjadi orang yang pasti melayani pemimpin.\u00a0 Tetapi pantaskah seorang pemimpin itu mendapatkan pengabdian pengikutnya?\u00a0 Kisah anak pemilik Korean Air baru-baru ini yang sangat arogan pada insiden kacang yang terkenal akhirnya harus masuk ke dalam penjara untuk jangka waktu 1 tahun, membuat saya \u00a0berpikir bahwa arogansi pemimpin seringkali membuat ia selalu ingin dilayani tapi tidak membuktikan dirinya pantas dilayani. Arogansi pemimpin membuat pemimpin dapat kehilangan nurani, rasa kemanusiaan dan akal sehatnya. Arogansi seringkali membabi buta karena emosi. Arogansi pemimpin sungguh mencelakakan.\u00a0 Bayaran yang harus diterima si anak boss Korean Air yang juga bertindak sebagai wakil dirut sungguh mahal karena ia harus belajar kerendahan hati melalui sebuah penjara. Ia harus belajar menghargai orang lain melalui sebuah hukuman. Ia harus belajar bahwa arogansi adalah sebuah kebodohan setelah terlambat. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun, bagi orang yang ingin berubah tidak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapa diri kita yang sebenarnya ditunjukkan melalui keseharian kita dan Sebagai pemimpin, bukankah tiada hari tanpa memimpin?Tiada hari tanpa bersama dengan orang lain, tiada hari tanpa berinteraksi dengan orang. Tiada hari tanpa menjadi sorotan seluruh anak buah Anda. Penting sekali bagi seorang pemimpin <em>to be humble<\/em>\u2026 menjadi sosok yang rendah hati. Sosok yang tahu menghargai orang lain sebelum ia sendiri dihargai. Nicholai Velimirovic mengatakan\u2026<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>\u201cBe humble, for the worst thing in the world is of the same stuff as you\u201d<\/i><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang yang sombong, tidak mampu melihat dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya sama buruknya dengan orang yang ia hina. Orang sombong tidak mau berkaca dan selalu hanya melihat kesalahan orang lain dan pada akhirnya ia hanya mempermalukan dirinya sendiri. \u00a0Jauhlah dari pemimpin arogansi, kesombongan sebab hanya akan membuat pemimpin terlihat bodoh di mata semua orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49296 alignleft\" alt=\"Vera Herlina\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a> <\/em><em>Vera Herlina\/VMN\/BL\/<\/em><em>CEO of Management Soft Skill Academies Vibiz Consulting Group<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Suatu pagi saya mendengar teriakan seorang boss di pasar kepada anak buahnya dengan nada arogan, \u201cBodoh banget sih kamu.. masak begini saja tidak becus? Selama saya punya anak buah belum ada yang sebodoh kamu!\u201d Sang karyawan hanya tertegun, entah terima atau tidak teguran yang datang tetapi ia terhenyak sesaat menyadari kesalahannya ataukah kebodohannya, mungkin. Karyawan ini cukup baik karena meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya. Di lain waktu lagi saya memperhatikan seorang karyawan terpancing [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":59949,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,15,1051],"tags":[5857],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94597"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94597"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94597\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":94609,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94597\/revisions\/94609"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94597"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94597"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94597"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}