{"id":90973,"date":"2015-02-02T20:12:29","date_gmt":"2015-02-02T13:12:29","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=90973"},"modified":"2015-02-13T10:24:32","modified_gmt":"2015-02-13T03:24:32","slug":"terlambat-follow-up","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/02\/02\/terlambat-follow-up\/","title":{"rendered":"Terlambat Follow Up"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Dominate the Market)\u00a0\u201cMaaf pak, mereka sudah menggunakan jasa konsultan lain dan tidak jadi menggunakan jasa kita.\u201d Kalimat itu datang dari tim saya dalam sebuah pertemuan rutin untuk membahas daftar prospek yang ada. Mendengar kabar seperti ini, membuat saya heran, sebab calon pelanggan ini adalah <i>hot customer, <\/i>\u00a0sudah memiliki kebutuhan mendesak dan tergolong <i>customer<\/i> dengan <i>money, needs<\/i> dan <i>authority<\/i> yang sudah segera menggunakan jasa konsultasi kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penasaran dengan keadaan ini, saya mencoba menggalinya apa yang menjadi penyebabnya. Temuan sederhana yang terjadi adalah, kami terlambat dalam melakukan <i>follow up. <\/i>Dalam <i>8 superior selling steps<\/i> yang dikeluarkan oleh Vibiz <i>Sales Academy<\/i>, dikenal tahap <i>follow up<\/i> yang sangat penting dalam berbagai <i>sales strategy. <\/i>Tahap ini membutuhkan <i>endurance<\/i> dari seorang <i>sales person.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan seorang <i>sales person<\/i> yang berhasil dan yang gagal terletak pada indikator ini. Banyak penjualan tidak terjadi karena seorang <i>sales person<\/i> berhenti melakukan <i>follow up <\/i>ditengah jalan atau pada saat terjadi penolakan <i>(objection).<\/i> <i>Endurance <\/i>adalah kebutuhan mendasar dalam melakukan <i>follow up.\u00a0<\/i>Bila hal ini berhasil ditanamkan pada seorang <i>sales person, <\/i>maka ketrampilan lainnya menjadi pelengkap yang dapat dilatih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti sebuah proses menanam, <i>follow up<\/i> adalah aktifitas menyirami dan memberi pupuk agar benih awal dari sebuah proses penjualan bertumbuh dan menghasilkan buah. Bayangkan bila dalam proses menanam ini, terlambat menyirami dan memberi pupuk hingga satu hari berlalu, seminggu, sebulan bahkan setahun, yang terjadi adalah tanaman itu mati dan tidak ada buah yang bisa dipetik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>Endurance <\/i>dalam follow up lahir dari <i>enthusiasm.\u00a0<\/i>Seorang bijaksana mengatakan <i>enthusiasm is the mother of the spirit, without it nothing great has ever been accomplished! <\/i>Itulah sebabnya antusias dalam perilaku seorang <i>sales person <\/i>sangat menentukan. Sebuah penelitian kepada para sales person yang berhasil pernah dilakukan dan indikator keberhasilannya yang terbesar bukan terletak pada pengetahuannya\u00a0 tentang produk atau jasa yang dijual melainkan pada perilakunya yang antusias.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu pertanyaannya darimana asal energi antusias yang dibutuhkan untuk mengalir tiap-tiap hari pada darah seorang <i>sales person?<\/i> Menurut saya apa yang menjadi energi seorang <i>sales person <\/i>yang professional adalah kebanggaan pada profesinya, <i>proud is the fuel of being professional. <\/i>Komando Pasukan Khusus atau <i>&#8220;Special Forces Command&#8221; <\/i>yang terkenal dengan tentara Kopassus TNI AD, bergerak dengan professional. Mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap profesinya sehingga sangat antusias dalam tugas-tugasnya dan menjadi pasukan andalan untuk negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain <i>proud<\/i> atau kebanggaan terhadap profesi, hal yang sederhana sebagai energi antusias seorang <i>sales person<\/i> adalah <i>love &amp; enjoy the work. <\/i>Fakta sederhana ini sebenarnya sering dilupakan oleh banyak orang, bahwa ketika orang senang dan mencintai pekerjaannya maka akan terdapat energi yang amat besar, <i>endurance<\/i> yang sangat panjang, dan tentunya menumbuhkan tanaman prospek yang menghasilkan buah yang manis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a>Fadjar Ari Dewanto \/Managing Partner Vibiz Consulting Divisi Business Advisory<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Dominate the Market)\u00a0\u201cMaaf pak, mereka sudah menggunakan jasa konsultan lain dan tidak jadi menggunakan jasa kita.\u201d Kalimat itu datang dari tim saya dalam sebuah pertemuan rutin untuk membahas daftar prospek yang ada. Mendengar kabar seperti ini, membuat saya heran, sebab calon pelanggan ini adalah hot customer, \u00a0sudah memiliki kebutuhan mendesak dan tergolong customer dengan money, needs dan authority yang sudah segera menggunakan jasa konsultasi kami. Penasaran dengan keadaan ini, saya mencoba menggalinya apa yang menjadi penyebabnya. Temuan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":75141,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1051,16],"tags":[5058],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90973"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90973"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90973\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93615,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90973\/revisions\/93615"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}