{"id":89139,"date":"2015-01-26T07:00:46","date_gmt":"2015-01-26T00:00:46","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=89139"},"modified":"2015-01-26T15:20:17","modified_gmt":"2015-01-26T08:20:17","slug":"89139","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/01\/26\/89139\/","title":{"rendered":"Badan Pesawat QZ8501 Dua Kali Gagal Diangkat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; News &amp; Insight) Sudah hampir sebulan pasca jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di perairan Selat Karimata, Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) telah berhasil mengevakuasi 69 jenazah (dari 162 penumpang di dalamnya), ekor, dan\u00a0<em>black box.<\/em>\u00a0Kini upaya mengangkat badan pesawat pun dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjuangan untuk mengangkat badan pesawat QZ8501 memang tidaklah mudah. Setelah dua kali mengalami kegagalan maka hari ini tim Basarnas akan kembali berupaya untuk mengangkat badan pesawat AirAsia tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Sabtu (24\/1), dalam waktu tidak sampai 1 jam, badan pesawat QZ8501 telah berhasil dimiringkan serta diangkat hingga ketinggian 27 meter dari dasar laut yang berada di perbatasan Laut Jawa dan Selat Karimata. Upaya kedua ini dilakukan dengan menggunakan 4 buah\u00a0<em>lifting bag<\/em>\u00a0(balon apung) yang masing-masing memiliki kapasitas 10 ton yang dikembungkan yang diikatkan pada badan pesawat dengan menggunakan\u00a0tali baja sling rope belt. Namun kondisi medan yang tiba-tiba berubah memburuk,\u00a0arus kuat, dan pinggiran pintu darurat yang tajam membuat tali penyambung putus dan s<span style=\"line-height: 1.5em;\">erta merta badan pesawat dengan panjang 24 meter dan lebar 8 meter serta potongan sayap dengan panjang 3 meter kembali jatuh ke dasar laut.\u00a0<\/span>Tercatat angin bertiup hingga 30-35 knot, langit gelap, dan hujan mulai turun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terhitung 73 tim penyelam marinir pun ikut serta dalam upaya pengangkatan badan pesawat tersebut.\u00a0Kapal Crest Onyx milik SKK Migas pun telah bersiap untuk menampung badan pesawat.\u00a0<span style=\"line-height: 1.5em;\">Bersamaan dengan upaya tersebut, 4 jenazah pun ditemukan dan berhasil dievakuasi.\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kondisi badan pesawat pun sudah lemah dan rapuh membuat posisi (tali pengikat) tidak stabil sehingga badan pesawat kembali lepas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Tim SAR pun kemudian memprioritaskan pengangkatan jenazah yang terperangkap pada badan pesawat. Namun, upaya tersebut masih terhalang oleh reruntuhan yang memenuhi kabin. Selain itu banyaknya kabel dan barang-barang di dalam kabin cukup membahayakan. Setelah mencoba menyelam memasuki badan pesawat selama 3 hari,\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">sedikitnya delapan jenazah telah berhasil ditemukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Upaya pengangkatan untuk pertama kalinya juga dilakukan pada Sabtu (24\/1) namun tali yang digunakan juga putus.<\/span><\/p>\n<p><em>uthe\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage: Antara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; News &amp; Insight) Sudah hampir sebulan pasca jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di perairan Selat Karimata, Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) telah berhasil mengevakuasi 69 jenazah (dari 162 penumpang di dalamnya), ekor, dan\u00a0black box.\u00a0Kini upaya mengangkat badan pesawat pun dilakukan. Perjuangan untuk mengangkat badan pesawat QZ8501 memang tidaklah mudah. Setelah dua kali mengalami kegagalan maka hari ini tim Basarnas akan kembali berupaya untuk mengangkat badan pesawat AirAsia tersebut. Pada Sabtu (24\/1), dalam waktu tidak sampai 1 jam, badan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":89142,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1050],"tags":[517,5449],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89139"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89139"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89145,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89139\/revisions\/89145"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}