{"id":87959,"date":"2015-01-19T07:14:20","date_gmt":"2015-01-19T00:14:20","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=87959"},"modified":"2015-01-19T09:37:19","modified_gmt":"2015-01-19T02:37:19","slug":"marks-spencer-berjuang-dapatkan-pasarnya-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/01\/19\/marks-spencer-berjuang-dapatkan-pasarnya-lagi\/","title":{"rendered":"Marks &#038; Spencer Berjuang Dapatkan Pasarnya Lagi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Business Insight) Anak-anak di Inggris selama beberapa generasi telah menjadi konsumen Marks &amp;Spenser terutama produk pakaian yang mereka kenakan ke sekolah. Sedangkan para remaja akan memilih untuk mengenakan setelan buatan M&amp; S sebagai setelan pertama mereka. Belum lagi konsumen dari berbagai usia yang menjadi pelanggan tetap M &amp; S untuk produk pakaian dalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun ada yang berubah selama 20 tahun terakhir ini, ketika busana murah namun terlihat mewah mulai merebut konsumen M &amp; S sehingga secara perlahan perusahaan pakaian milik Inggris ini mulai kehilangan daya tariknya. Selama 14 kuartal berturut-turut perusahaan ini pun mengalami penurunan dalam penjualan pakaian,\u00a0<span style=\"line-height: 1.5em;\">alas kaki, dan peralatan rumah tangga demikian seperti dilansir oleh Reuters. \u00a0<\/span>M &amp; S pun berupaya untuk melakukan perubahan untuk kembali merebut pasarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Salah satu yang dilakukan adalah perubahan penampilan pada beberapa toko pengecer terbesar di Inggris dalam beberapa bulan terakhir ini dan M &amp; S pun berupaya untuk menjadikan kesempatan ini sebagai sebuah momentum. Upaya pun mulai membuahkan hasil ketika perusahaan ini mendapatkan dukungan dari beberapa investor teratas serta adanya\u00a0<\/span>tanda-tanda yang jelas untuk peningkatan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">M &amp; S memang memiliki reputasi untuk kualitas dan inovasi dalam makanan dan juga pakaian yang tidak lagi direplikasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kualitas juga telah ditingkatkan melalui penggunaan serat alami, ini juga merupakan upaya untuk M &amp; S dapat lebih kompetitif menyaingi Zara, produk pakaian dari Spanyol Inditex. Perusahaan juga merombak rantai pasokan untuk merespon lebih cepat untuk tren fashion dan meningkatkan margin.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selama Natal kemarin, penjualan pakaian wanita memiliki <em>performance<\/em>\u00a0terbaik. Hal ini merupakan pertanda yang baik untuk <em>performance<\/em> pada musim semi. Masih dalam rangka mengubah penampilannyanya, M &amp; S pun mengubah tampilan websitenya dengan menambahkan masukan pelanggan, link ke media sosial, dan konten yang disesuaikan untuk perangkat mobile meskipun ada sedikit masalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi ini memang belum memberikan penjualan yang lebih tinggi, tetapi paling tidak ada perbaikan margin, memberikan harapan kepada investor untuk pembayaran yang lebih tinggi dengan harapan adanya peningkatan dividen pada bulan Mei depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"line-height: 1.5em;\">Dressing the Nation<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kios Marks &amp; Spencer pertama kali didirikan pada tahun 1884 di sebuah pasar di Inggris utara yang kemudian berkembang pada pertengahan abad kedua puluh.\u00a0Pada tahun 1960 berbagai inovasi pun dilakukan seperti produk stoking dan kemudian pakaian dalam. Salah satu kisah menarik terjadi ketika\u00a0Margaret Thatcher, perdana menteri Inggris\u00a01979-1990 dalam sebuah wawancara ketika ditanyakan tentang di mana ia membeli pakaian dalamnya, maka dengan heran ia menjawab, &#8220;Tentu saja<span style=\"line-height: 1.5em;\">\u00a0Marks &amp; Spencer. Bukankah semua orang demikian?&#8221; Hal ini menggambarkan bahwa memang pada waktu itu hampir semua orang mengenakan produk M &amp; S untuk pakaian mereka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 1997, M &amp; S menjadi pengecer Inggris pertama yang memposting keuntungan dari \u00a3 1 miliar (sekitar 19 triliun rupiah jika menggunakan kurs saat ini), tetapi beberapa tahun kemudian penjualan dan keuntungannya jatuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"line-height: 1.5em;\">Terus Melakukan Perbaikan<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">M &amp; S memang mengalami tantangan untuk meraih kembali pasarnya. Salah satu strateginya melalui sistem online, walaupun kemudian memiliki masalah dalam distribusi. Penjualan dengan online telah menyumbang sekitar 15 persen dari pendapatan non-makanan terhadap lebih dari 37 persen penjualan secara online. Namun penjualan berikutnya turun 5,9 persen dalam 13 minggu hingga 27 Desember.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Marks &amp; Spencer terus berupaya melakukan pembenahan untuk dapat kembali merajai dunia <em>fashion<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em>uthe\/Journalist\/VMN\/BL<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage: wikipedia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Insight) Anak-anak di Inggris selama beberapa generasi telah menjadi konsumen Marks &amp;Spenser terutama produk pakaian yang mereka kenakan ke sekolah. Sedangkan para remaja akan memilih untuk mengenakan setelan buatan M&amp; S sebagai setelan pertama mereka. Belum lagi konsumen dari berbagai usia yang menjadi pelanggan tetap M &amp; S untuk produk pakaian dalam. Namun ada yang berubah selama 20 tahun terakhir ini, ketika busana murah namun terlihat mewah mulai merebut konsumen M &amp; S sehingga secara perlahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":87963,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[4909,5633,5635],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87959"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87959"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87959\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87976,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87959\/revisions\/87976"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87963"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}