{"id":8762,"date":"2012-03-24T07:37:23","date_gmt":"2012-03-24T00:37:23","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=8762"},"modified":"2014-03-08T11:04:34","modified_gmt":"2014-03-08T04:04:34","slug":"marketing-ethics","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2012\/03\/24\/marketing-ethics\/","title":{"rendered":"Marketing Ethics"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Norma merupakan standar perilaku yang diharapkan dan dipelihara masyarakat atau organisasi profesional. Adapun nilai merupakan konsepsi kolektif masyarakat mengenai apa yang penting dan diinginkan sesuai moral yang tepat. Nilai juga berfungsi sebagai kriteria untuk mengevaluasi tindakan-tindakan pribadi kita sendiri dan orang lain. Strategi komunikasi pemasaran selalu mengalami perubahan dari jaman-ke jaman. Mulai dari era media konvensional sampai era digital dengan hadirnya beragam bentuk social media.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuk pesan komunikasi yang ingin disampaikan juga bervariatif dengan konsep ide yang tidak terduga, tetapi tidak boleh melupakan etika atau norma yang berlaku. Tidak dipungkiri media komunikasi telah berevolusi dengan cepat dan tumbuh lebih maju. Namun, setiap marketing memiliki tanggung jawab moral yang tertanam hakiki di setiap manusia, yaitu etika. Etika bukan peraturan tertulis yang mengekang kreativitas para marketing dalam melakukan promosi yang begitu brilian. Tetapi, masalah etika ini lebih kepada tanggung jawab moral secara personal.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebagai Marketing, harus diakui bahwa kita tidak hanya melayani atas nama perusahaan, tetapi kita juga bertindak sebagai pelayan masyarakat dalam menciptakan, melaksanakan dan memfasilitasi transaksi\u00a0 bisnis. Dalam perannya ini, marketing diharapkan untuk memiliki norma-norma etika profesional dan nilai-nilai etis yang ditunjukan oleh tanggung jawab kita, khususnya terhadap pelanggan atau masyarakat, pada umumnya. Contoh yang kita sering temukan dalam kehidupan sehari-hari, produk yang ditawarkan disertai dengan janji manis atau keuntungan agar calon konsumen hanya memilih produk tersebut dan tidak melirik kepada produk merek lain, namun ternyata dibelakangnya ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon konsumen. Misalnya promosi yang dilakukan dengan iming-iming \u201cBeli 2 Gratis 1\u201d, tapi hanya\u00a0 berlaku pada jam 10.00 \u2013 12.00.<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Informasi tersebut yang dipandang menarik bagi konsumendibesar-besarkan padahal informasi tersebut tidak berlaku universal dan selamanya. Konsumen, terutama yang terjebak mungkin saja menganggap ini penipuan terselubung dan akhirnya mereka cenderung tidak suka pada brand tertentu.<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oleh sebab itu, ada beberapa nilai etika yang perlu diperhatikan marketing dalam menawarkan produknya, antara lain :<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">1. Kejujuran \u2013 Sebagai marketing, kita harus memiliki kejujuran dalam berhubungan dengan customer dan harus:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">a. Berusaha untuk menjadi jujur pada setiap situasi dan kondisi<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">b. Memberikan kontribusi terhadap efektivitas proses pertukaran serta menghindari penipuan dalam desain produk, harga, komunikasi, dan pengiriman\/distribusi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">c. Memenuhi nilai produk yang dijanjikan saat menawarkan produk<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">d. Berdiri dibelakang produk jika produk mereka gagal untuk memberikan manfaat sesuai yang dijanjikan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">2. Tanggung Jawab \u2013 Sebagai marketing, kita harus menerima konsekuensi dan harus:<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">a. Menghindari tindakan berbahaya atau kelalaian dalam mewujudkan standar etika yang tinggi serta mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku dalam pilihan yang kita buat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">b. Mengupayakan melayani kebutuhan pelanggan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">c. Hindari penawaran dan penggunaan paksaan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">d. Mengakui adanya kewajiban sosial terhadap masyarakat<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">e. Memiliki komitmen pelayanan terbaik<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">f. Pertimbangkan kepedulian terhadap lingkungan dalam setiap kebijakan yang kita ambil<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">3. Respek \u2013 Sebagai marketing, kita harus menghargai pembeli dan harus:<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">a. Mendengarkan kebutuhan pelanggan serta membuat semua upaya yang wajar untuk memantau dan meningkatkan kepuasan mereka secara berkelanjutan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">b. Melakukan segala upaya untuk memahami dan memperlakukan dengan hormat pembeli, karena pepatah katakan bahwa \u201cPembeli adalah Raja\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">c.\u00a0 Berusaha untuk melindungi informasi prbadi\/rahasia dari pelanggan, karyawan dan mitra<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">4. Transparansi \u2013 Sebagai marketing, kita harus memiliki semangat keterbukaan dalam melakukan pemasaran dan harus:<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">a. Mengupayakan untuk berkomunikasi dengan jelas kepada para customer<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">b. Menerima kritik dan saran yang membangun dari pelanggan, pimpinan atau rekan kerja kita<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">c. Jelaskan dan tentukan aksi yang tepat mengenai risiko produk atau layanan, yang dapat mempengaruhi persepsi pelanggan yang membeli produk kita. Mengungkapkan daftar harga dan persyaratan pembiayaan sesuai harga yang tersedia<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam hal ini tampak etika merupakan sisi yang paling berperan untuk mempengaruhi keputusan konsumen memilih produk yang ditawarkan, bahkan mereka pun bersedia membayar produk yang mereka inginkan dengan biaya yang amat tinggi. Selanjutnya, brand perlu memperhatikan apakah strategi promosi yang dilakukan sudah benar atau tidak menurut norma yang berlaku dan bagaimana pesan komunikasi yang akan mereka sampaikan mengenai brand tersebut. Jadi bukan hanya memperhatikan cara marketing menawarkan produknya tapi bentuk promosi yang dilakukan harus\u00a0 memiliki etika. Etika sangat berperan dalam brand yang pada akhirnya menjadi kekuatan perusahaan dalam persaingan global.<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">So, sebagai marketing professional, kita harus mematuhi nilai etika atau norma yang berlaku untuk mencapai target pemasaran !!!!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(<span>Friska Carolina<\/span>\/AA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Norma merupakan standar perilaku yang diharapkan dan dipelihara masyarakat atau organisasi profesional. Adapun nilai merupakan konsepsi kolektif masyarakat mengenai apa yang penting dan diinginkan sesuai moral yang tepat. Nilai juga berfungsi sebagai kriteria untuk mengevaluasi tindakan-tindakan pribadi kita sendiri dan orang lain. Strategi komunikasi pemasaran selalu mengalami perubahan dari jaman-ke jaman. Mulai dari era media konvensional sampai era digital dengan hadirnya beragam bentuk social media. Bentuk pesan komunikasi yang ingin disampaikan juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":8763,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8762"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8762"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27801,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8762\/revisions\/27801"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8763"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}