{"id":86375,"date":"2015-01-11T18:58:05","date_gmt":"2015-01-11T11:58:05","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=86375"},"modified":"2015-01-11T18:58:05","modified_gmt":"2015-01-11T11:58:05","slug":"batik-dan-tiongkok-style","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/01\/11\/batik-dan-tiongkok-style\/","title":{"rendered":"BATIK DAN TIONGKOK STYLE"},"content":{"rendered":"<p>Batik&#8230;<br \/>\nbuatku, ngangenin banget ..<br \/>\nWarna cemerlangnya ingat senyum Bapak Jokowi tercinta&#8230;<br \/>\nMau dilukis apa aja dan warna apa aja yang namanya batik woouu&#8230;selalu tampak memikat<br \/>\ndan bikin aku jadi putri-putri<br \/>\nPutri apa ya?<br \/>\nYa.. Putri Indonesia dong<br \/>\nApa lagi kalau ingat tangan terampil nenek-nenek yang melukisnya, bikin hati terharu biru setiap kali memakainya.<br \/>\nBatik&#8230; batik&#8230; Pakaian bapakku, bapak Presiden tercinta.<br \/>\nHehehe&#8230; pakai batik serasa sehati dengan bapak Presiden untuk membangun negeri tercinta.<br \/>\nDuh&#8230; senangnya sehati dengan pak Presiden membangun bangsaku<\/p>\n<p>Batik bikin aku Indonesia.. dan Indonesia banget karena bajuku adalah hatiku.<br \/>\nNyanyianku yah\u2026. pastilah Rayuan Pulau Kelapa.<br \/>\nSemangatku Maju Tak Gentar itulah ritme jantungku.<br \/>\nBatik&#8230; Batik ngangenin banget<\/p>\n<p>Lantas kenapa juga kita musti melirik baju import dari Tiongkok yang bukan saja bikin kantong kita merana tapi malah bikin kita enggak mengenali identitas dan kebanggaan atas buatan tangan anak bangsa, ah&#8230; tangan nenek-nenek pula .<br \/>\nTangan nenekku sendiri lho&#8230; yaitu nenek-nenek tua orang Indonesia yang nenekmu juga.<br \/>\nBuatku&#8230; batik bukan sekedar sebuah baju atau <em>design<\/em> tapi lebih dari itu yaitu<br \/>\nIdentitas diri dan senyum manis nenek-nenek pembatiknya dan tentu saja mata teduh Presidenku.<\/p>\n<p>Lantas baju import Tiongkok ini buat aku ingat siapa ya?<br \/>\nYang buat aku enggak kenal&#8230; designnya bukan aku banget&#8230;dan buatku coraknya aneh dan membingungkan karena tak bercerita tentang hati.<br \/>\nDan yang pasti aku ingat adalah uangku ludes karena barang import harganya selangit.. jadi kere aku&#8230; sepotong baju import dari Tiongkok harga 1 bulan gajiku<br \/>\nMau makan apa anak istriku korban sepotong baju import dari Tiongkok ?<\/p>\n<p>Lantas kenapa orang masih tersenyum-senyum seliwar-seliwer dengan baju import dari Tiongkok yg harganya selangit ya?<br \/>\nAku bingung.<\/p>\n<p>Ah&#8230;.<br \/>\nSeandainya Anak Indonesia memakai batik bukan karena <em>trend<\/em> tapi karena hati maka arti batik juga akan semakin mendalam, dan arti akan cinta anak bangsa juga akan semakin kuat.<\/p>\n<p>Teman&#8230;<br \/>\nMari kita pakai batik..<br \/>\nTinggalkan baju import dari Tiongkok<br \/>\nKalau-kalau hari ini dengan baju batik kita sehati dengan pak Presiden maka siapa tahu suatu kali kita akan menjadi presiden ?<br \/>\nMungkinkah?<br \/>\nBisa dong &#8230;kenapa tidak.<br \/>\nDari hati ada cinta pada bangsa dan tentu saja cita-cita membangun bangsa menghantar kita menjadi seorang pemimpin.<\/p>\n<p><em>Jackie Ang\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik&#8230; buatku, ngangenin banget .. Warna cemerlangnya ingat senyum Bapak Jokowi tercinta&#8230; Mau dilukis apa aja dan warna apa aja yang namanya batik woouu&#8230;selalu tampak memikat dan bikin aku jadi putri-putri Putri apa ya? Ya.. Putri Indonesia dong Apa lagi kalau ingat tangan terampil nenek-nenek yang melukisnya, bikin hati terharu biru setiap kali memakainya. Batik&#8230; batik&#8230; Pakaian bapakku, bapak Presiden tercinta. Hehehe&#8230; pakai batik serasa sehati dengan bapak Presiden untuk membangun negeri tercinta. Duh&#8230; senangnya sehati dengan pak Presiden membangun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":34234,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1972,1044,52],"tags":[1649,5557],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86375"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86375"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86375\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86377,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86375\/revisions\/86377"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}