{"id":80573,"date":"2014-12-12T11:57:57","date_gmt":"2014-12-12T04:57:57","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=80573"},"modified":"2014-12-12T11:57:57","modified_gmt":"2014-12-12T04:57:57","slug":"downstream-value-added-hasan-zein-mahmud-mantan-dirut-bursa-efek-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/12\/12\/downstream-value-added-hasan-zein-mahmud-mantan-dirut-bursa-efek-jakarta\/","title":{"rendered":"Downstream Value Added &#8211; Hasan Zein Mahmud, Mantan Dirut Bursa Efek Jakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Management Tips) Hasan Zein Mahmud menjelaskan kepada businesslounge.co Vibiz Media Network mengenai salah satu masalah terbesar yang saat ini dialami oleh Bangsa Indonesia, yaitu masalah menurunnya ekspor yang mengakibatkan\u00a0defisit transaksi perdagangan, melemahnya nilai rupiah, dan cadangan devisa yang menurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Apakah yang menyebabkan menurunnya ekspor?&#8221; demikian Hasan bertanya. &#8220;Karena harga bahan-bahan mentah yang juga menurun,&#8221; demikian ia\u00a0menjawab sendiri pertanyaannya. Hal ini dialami oleh empat komoditi ekspor Indonesia yaitu batubara yang merupakan komoditi ekspor terbesar Indonesia, diikuti\u00a0CPO sebagai komoditi terbesar kedua, serta gas, dan karet pada posisi ketiga dan keempat. Harga keempat komoditi tersebut menurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita memang masih sangat tergantung pada ekspor keempat komoditi tersebut dan hal inilah yang harus diubah dengan memperhatikan\u00a0<em>downstream<\/em> atau nilai hilir. &#8220;Hilirisasi bertujuan memberikan nilai tambah, namun hilirisasi\u00a0itu membutuhkan teknologi, infrastruktur yang tidak dapat dibangun dalam satu hari,&#8221; demikian dijelasakan mantan dirut BEJ ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah sebabnya ketika ada larangan bagi para pengusaha untuk tidak mengekspor mineral mentah dan mengharuskan mengubah mineral mentah lebih jauh, maka kita pun menemukan kesulitan berikutnya. Sebab secara realita <em>downstream <\/em>yang seharusya belum lagi siap, maka proses ini pun tidak dapat berjalan. Akibatnya komoditi ekspor\u00a0<span style=\"font-size: 14px; line-height: 1.5em;\">pun menumpuk, devisa menurun, dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini sebenarnya terlambat untuk diantisipasi secara ekonomi makro. Sebab tidak bisa tidak, harus dilakukan <em>research<\/em> dan<em> development.<\/em>\u00a0&#8220;Penguasaan teknologi <em>is a matter of survive,&#8221;\u00a0<\/em>demikian dikatakan Hasan untuk menggambarkan betapa pentingnya teknologi sesungguhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hilirisasi memang membutuhkan teknologi yang tinggi sementara sampai saat ini Indonesia masih tergantung kepada orang lain. Ini yang dirasa Hasan paling pincang di dalam perekonomian internasional. Hasan kembali menegaskan bahwa\u00a0nilai tambah itu terletak pada <em>downstream\u00a0<\/em>dan hal inilah yang harus ditangani terlebih dahulu untuk menambahkan nilai tambah bagi komoditi ekspor kita.<\/p>\n<p><em>uthe\/Journalist\/VMN\/BL<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Management Tips) Hasan Zein Mahmud menjelaskan kepada businesslounge.co Vibiz Media Network mengenai salah satu masalah terbesar yang saat ini dialami oleh Bangsa Indonesia, yaitu masalah menurunnya ekspor yang mengakibatkan\u00a0defisit transaksi perdagangan, melemahnya nilai rupiah, dan cadangan devisa yang menurun. &#8220;Apakah yang menyebabkan menurunnya ekspor?&#8221; demikian Hasan bertanya. &#8220;Karena harga bahan-bahan mentah yang juga menurun,&#8221; demikian ia\u00a0menjawab sendiri pertanyaannya. Hal ini dialami oleh empat komoditi ekspor Indonesia yaitu batubara yang merupakan komoditi ekspor terbesar Indonesia, diikuti\u00a0CPO sebagai komoditi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":80587,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,2510,52],"tags":[4885],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80573"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80573"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":80599,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80573\/revisions\/80599"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80587"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}