{"id":77232,"date":"2014-11-28T10:58:52","date_gmt":"2014-11-28T03:58:52","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=77232"},"modified":"2014-11-28T14:42:25","modified_gmt":"2014-11-28T07:42:25","slug":"value-added-hasan-zein-mahmud-mantan-direktur-utama-bursa-efek-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/11\/28\/value-added-hasan-zein-mahmud-mantan-direktur-utama-bursa-efek-jakarta\/","title":{"rendered":"Value Added &#8211; Hasan Zein Mahmud, Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Management Tips) Hasan Zein Mahmud memiliki prinsipnya sendiri tentang nilai tambah (<em>value added)<\/em>. &#8220;Harus ada nilai tambah, dan nilai tambah itu kan legitimasinya di tengah masyarakat,&#8221; demikian ia berujar. Pria mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta ini memiliki pemikiran bahwa setiap manusia memang akan berupaya melakukan kebajikan-kebajikan. Lalu apa yang menjadi ukuran bahwa sesuatu itu merupakan kebajikan? Hasan menjawab bahwa ukurannya adalah nilai tambah, yaitu adanya manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk memperkuat penjelasannya, Hasan menggunakan filosofi seorang tukang. Ia mengibaratkan dirinya adalah seorang tukang. Bilamana seorang tukang tersebut dapat dikatakan seorang tukang yang baik. Ada 3 poin yang jabarkannya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Tukang yang baik dapat menegosiasikan upah tetapi tidak &#8220;nyolong&#8221; harta majikan. &#8220;Silakan Anda\u00a0mengimpretasikan sendiri,&#8221; demikian ia berujar sambil tersenyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Pekerjaan seorang tukang adalah memberi nilai tambah dengan cara menciptakan yang tidak ada dari bahan-bahan yang sudah ada yang dikaruniakan Tuhan, sehingga terciptalah nilai tambah. Atau,\u00a0seorang tukang memperbaiki sesuatu yang masih bisa diperbaiki sehingga memiliki nilai tambah. Apa yang dapat digarisbawahi dari poin ke-2 ini adalah selalu memberikan nilai tambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Seorang tukang juga memiliki konsekuensi. Ada 2 konsekuensi yang Hasan berikan kepada businesslounge.co Vibiz Media Network.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsekuensi 1: Seorang teknisi televisi memperbaiki sebuah televisi. Ketika pekerjaan telah selesai, maka si teknisi haruslah berhenti dan dengan demikian selesailah pekerjaannya. &#8220;Tidak lucu kalau perbaikan televisi sudah selesai lalu si teknisi tetap berada di tempat dan tidak pulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsekuensi 2: Jika si teknisi sudah berupaya memperbaiki televisi namun tidak berhasil, maka si teknisi pun harus berhenti sebab dengan demikian berarti ia membutuhkan teknisi yang lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua konsekuensi ini menunjukkan kapan kita dapat berhenti untuk memberikan nilai tambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasan Zein pun berujar, &#8220;Barangkali ilustrasi kecil ini memberikan kita arahan bahwa seseorang itu harus berkarya dengan orientasi nilai tambah.&#8221; Demikianlah Hasan Zein Mahmud memandang betapa pentingnya memberikan nilai tambah atas semua yang ia kerjakan.<\/p>\n<p><em>Uthe\/Journalist\/VMN\/BL<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Management Tips) Hasan Zein Mahmud memiliki prinsipnya sendiri tentang nilai tambah (value added). &#8220;Harus ada nilai tambah, dan nilai tambah itu kan legitimasinya di tengah masyarakat,&#8221; demikian ia berujar. Pria mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta ini memiliki pemikiran bahwa setiap manusia memang akan berupaya melakukan kebajikan-kebajikan. Lalu apa yang menjadi ukuran bahwa sesuatu itu merupakan kebajikan? Hasan menjawab bahwa ukurannya adalah nilai tambah, yaitu adanya manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Untuk memperkuat penjelasannya, Hasan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":77244,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,2510,319,52],"tags":[4885,5092],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77232"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77232"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77331,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77232\/revisions\/77331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/77244"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}