{"id":6754,"date":"2013-07-01T10:25:45","date_gmt":"2013-07-01T03:25:45","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=6754"},"modified":"2013-07-01T10:25:45","modified_gmt":"2013-07-01T03:25:45","slug":"the-common-mistakes-of-marketing-behave-and-action-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/01\/the-common-mistakes-of-marketing-behave-and-action-2\/","title":{"rendered":"The Common Mistakes of Marketing Behave and Action"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Dalam memasarkan sebuah produk, perlu diperhatikan etika dan tindakan kita selaku seorang sales \/ marketing.\u00a0 Keteledoran etika dan tindakan dapat berakibat fatal dan memperpendek usia produk yang sedang kita pasarkan.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Seorang ibu sedang berada di sebuah department store dan jika diperhatikan sedang dengan santai melihat barang \u2013 barang yang ada di etalase, memperhatikan dan sesekali melihat kualitas barang\u00a0 ataupun label harganya.\u00a0 Melihat hal tersebut, seorang SPG menghampirinya dan menanyakan apa yang bisa dibantu \u2013 namun dijawab dengan senyum.\u00a0 Mungkin maksud SPG tersebut baik hendak memberikan layanannya sehingga sudut \/ bagian manapun customer tersebut melangkah dia membuntutinya dekat dekat bahkan seperti tidak memberi ruang kebebasan bagi customer untuk melihat \u2013 lihat dan malah membuat risih.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kejadian tersebut kerap sering terjadi dan bagi kebanyakan orang customer sangat mengganggu kenyamanan kebebasan berbelanja.\u00a0 Ini adalah contoh kecil yang dapat menggagalkan transaksi penjualan. Banyak contoh lainnya yang terjadi di lapangan dan bahkan membuat orang enggan untuk mampir melihat ada apa lagi yang dijual.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kesalahan dalam tingkah laku dan tindakan yang umumnya sering terjadi adalah:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">-Tidak memberi layanan yang ramah \/ cenderung cuek dan\u00a0 asal \u2013 asalan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">-Tidak menguasai informasi dengan lengkap perihal produk yang dipasarkannya sehingga tidak dapat memberikan jawaban memuaskan kepada calon customer<\/div>\n<div>-Penampilan yang berantakan, wajah tidak fresh dan pakaian tidak rapih<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">-Membiarkan calon customer sendiri tanpa bantuan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Disamping\u00a0 itu seorang marketing \/ sales harus memahami betul produk apa yang dia jual dan ditunjang dengan tingkah laku yang santun dan ramah akan lebih menawan hati calon customer dan dapat terjadi transaksi bahkan dari yang tadinya tidak ada minat customer untuk membeli.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Michael Fleischner sebagai salah satu pakar dalam bidang marketing menyatakan bahwa saat kita memasarkan produk \/ service barang dagangannya, kita harus benar benar mengerti target pasar yang hendak dibidik adalah siapa, pesan yang akan disampaikan seperti apa, penawaran yang bisa diberikan dan ketepatan waktu yang paling optimal untuk menjalankan marketing campaign.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kesalahan umum yang sering terjadi oleh seorang marketing \/ sales adalah:<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.Memasarkan produk tidak tepat waktu<br \/>\nContohnya: musim pancaroba menuju musim hujan dipasarkan launching produk ice cream baru<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.Gagal dalam memasarkan produk dengan headline news<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">3.Kegagalan memberikan penawaran sehingga kurang menarik bahkan tidak menarik sama sekali<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">4.Mengandalkan komunikasi satu arah saja sehingga tidak memahami apa yang menjadi kebutuhan pasar<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">5.Tidak mempunyai alat indicator keberhasilan sehingga tidak terdeteksi dengan jelas letak kegagalannya dimana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">6.Kegagalan dalam menciptakan dialog yang interaktif dan menarik<\/div>\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jangan pernah berhenti untuk belajar dari kegagalan orang lain karena itu akan memperkaya ilmu kita sendiri dan mempertajam insting kita dalam menjual suatu produk.\u00a0 Dan untuk dapat meraih sukses dalam bidang marketing, teruskanlah bekerja dengan mengembangkan efektivitas marketing anda dan hindari kesalahan umum yang sering terjadi dalam dunia marketing dan anda berada dalam perjalanan anda menuju hasil yang memuaskan sebagai seorang marketing.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebagai marketing yang profesional memang sudah seharusnya kita memperhatikan secaa detail apa yang menjadi sikap dan perbuatan kita.\u00a0 Karena apa yang kita perbuat \/ kerjakan terhadap client \/ customer banyak memberikan dampak terhadap keberhasilan produk yang kita jual; &#8220;Small things give big impact&#8221;.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>(ST. Hwa\/IC\/BL)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Dalam memasarkan sebuah produk, perlu diperhatikan etika dan tindakan kita selaku seorang sales \/ marketing.\u00a0 Keteledoran etika dan tindakan dapat berakibat fatal dan memperpendek usia produk yang sedang kita pasarkan. Seorang ibu sedang berada di sebuah department store dan jika diperhatikan sedang dengan santai melihat barang \u2013 barang yang ada di etalase, memperhatikan dan sesekali melihat kualitas barang\u00a0 ataupun label harganya.\u00a0 Melihat hal tersebut, seorang SPG menghampirinya dan menanyakan apa yang bisa dibantu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":24990,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6754"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6754"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6754\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}