{"id":65613,"date":"2014-10-10T22:46:18","date_gmt":"2014-10-10T15:46:18","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=65613"},"modified":"2014-10-10T22:46:18","modified_gmt":"2014-10-10T15:46:18","slug":"mengantisipasi-kegagalan-dalam-melakukan-cold-call","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/10\/10\/mengantisipasi-kegagalan-dalam-melakukan-cold-call\/","title":{"rendered":"Mengantisipasi Kegagalan Dalam Melakukan Cold Call"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Dominate The Market)\u00a0<em>Cold call<\/em>, sering kali dianggap mengganggu \u00a0dan sangat-sangat tidak diharapkan. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk melakukan pendekatan, si penerima telepon malahan langsung mematikan sambungan. C<em>old call<\/em> memang banyak tidak diharapkan tetapi siapa bilang bahwa tidak dapat menghasilkan? Sering kali\u00a0<em>cold call<\/em> menjadi awal yang baik dalam menjalin relasi. Namun tentu saja\u00a0jika dilaksanakan secara efektif. Namun, seringkali <em>salespeople<\/em> melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan <em>cold call<\/em>, sehingga tidak memberikan hasil yang positif. Coba kita lihat beberapa ulasan mengenai kesalahan yang seringkali dilakukan dalam sebuah <em>cold call<\/em> dan solusi untuk menghadapinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Izin<\/b><br \/>\nIzin untuk menjual, adalah sesuatu yang mutlak Anda miliki ketika sedang melakukan <em>cold call<\/em>. Ibaratnya seakan orang asing yang ingin memasuki rumah tanpa diundang, <em>cold call<\/em> juga merupakan panggilan telepon dari orang asing yang tidak ditunggu sama sekali. Tentunya untuk memasuki rumah orang lain, Anda perlu izin masuk, begitu pula ketika melakukan <em>cold call<\/em>, Anda harus mengantungi izin untuk menjual. Jika Anda sudah memperoleh izin, maka artinya prospek sudah setuju untuk mendengarkan penawaran dari Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini adalah etika dasar dalam melakukan <em>cold call<\/em>. Pertama-tama, perkenalkan diri Anda. \u201cPerkenalkan, kami dari\u2026\u2026 Apakah Anda bersedia untuk mendengarkan penawaran kami?\u201d Jika mereka merespon dengan positif, maka Anda dapat melanjutkan penawaran. Namun, jika Anda tidak menanyakan izin terlebih dahulu, maka bisa jadi mereka tidak mendengarkan Anda sama sekali dan Anda menghabiskan waktu dengan sia-sia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Berbicara Terlalu Cepat<\/b><br \/>\nKesalahan kedua yang seringkali dilakukan ketika <em>cold call<\/em> adalah Anda berbicara terlalu cepat sehingga prospek tidak dapat mendengarkan dengan baik. Mungkin saja irama berbicara yang cepat bisa diaplikasikan ketika presentasi <em>one-on-one<\/em>, namun melalui <em>cold call<\/em>, tentunya suara melalui telepon sangat mudah terdistorsi dengan suara-suara lingkungan sekitar. Sehingga, Anda harus berbicara dengan artikulasi yang jelas, berirama sedang, sehingga mudah dicerna lawan bicara. Bagaimana lawan bicara memahami benefit yang diperolehnya, jika yang didengarnya adalah ocehan tidak jelas?<br \/>\nUntuk mengevaluasi suara Anda melalui telepon, Anda dapat menghubungi <em>voice mail<\/em> Anda sendiri dan mencoba merekam suara bicara Anda, dan mendengarkannya. Apakah cukup jelas?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>\u2018Pushy\u2019<\/b><br \/>\nAntusiasme memang perlu dimiliki oleh seorang <em>salespeople<\/em>, namun seorang <em>salespeople<\/em> juga harus menjaga supaya antusiasme mereka tidak dipandang sebagai \u2018<em>pushy<\/em>\u2019 atau \u2018ngotot\u2019 di mata prospek. Prospek seringkali merasa tertekan oleh antusiasme berlebihan dari <em>salespeople<\/em>. Misalnya, sales sudah berasumsi duluan bahwa prospek tersebut membutuhkan produk atau layanannya, sehingga langsung \u2018ngotot\u2019 untuk menjualnya, tanpa mengetahui kebutuhan sebenarnya dari sang prospek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebaiknya, minta prospek untuk mengutarakan kebutuhan ataupun masalah yang dihadapinya, baru kemudian kaitkan dengan produk\/layanan Anda yang mungkin bisa menjawab permasalahan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><b>No Problem Solving<\/b><\/em><br \/>\nDalam <em>cold call<\/em>, tetap camkan selalu <em>customer-focused selling<\/em>, yaitu aktivitas <em>selling<\/em> harus berfokus kepada pelanggan, atau dalam kata lain dapat menjawab kebutuhan pelanggan. Seringkali dalam penjualan, tidak terjadi <em>problem solving<\/em> yang menjadi tujuan dari <em>selling<\/em> itu sendiri. Mengapa tidak terjadi <em>problem solving<\/em>? Karena dalam <em>selling<\/em> seringkali Anda berfokus untuk melakukan penjualan, bukan memecahkan masalah. Sehingga, mereka yang bahkan belum membangun kepercayaan dengan Anda, merasa Anda terlalu menekan mereka dalam proses penjualan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam <em>cold call<\/em>, bangun kepercayaan terlebih dulu dengan prospek. Caranya, adalah dengan berfokus untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh prospek. Sehingga ini akan memuluskan jalan Anda dalam melakukan penjualan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>VISA\/Vibiz Consulting\/VMN\/BL<br \/>\n<\/em>Editor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Dominate The Market)\u00a0Cold call, sering kali dianggap mengganggu \u00a0dan sangat-sangat tidak diharapkan. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk melakukan pendekatan, si penerima telepon malahan langsung mematikan sambungan. Cold call memang banyak tidak diharapkan tetapi siapa bilang bahwa tidak dapat menghasilkan? Sering kali\u00a0cold call menjadi awal yang baik dalam menjalin relasi. Namun tentu saja\u00a0jika dilaksanakan secara efektif. Namun, seringkali salespeople melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan cold call, sehingga tidak memberikan hasil yang positif. Coba kita lihat beberapa ulasan mengenai kesalahan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":65139,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1051,16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65613"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65613"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65613\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65617,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65613\/revisions\/65617"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65613"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65613"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65613"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}