{"id":65607,"date":"2014-10-10T20:06:40","date_gmt":"2014-10-10T13:06:40","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=65607"},"modified":"2014-10-10T20:07:18","modified_gmt":"2014-10-10T13:07:18","slug":"menaksir-nilai-sebuah-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/10\/10\/menaksir-nilai-sebuah-perusahaan\/","title":{"rendered":"Pentingnya Menaksir Nilai Sebuah Perusahaan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Manage Your Finances)\u00a0Dalam sebuah perjalanan bisnis, seorang pemilik perusahaan ada kalanya\u00a0berkeinginan menjual perusahaan yang dimilikinya karena berbagai\u00a0alasan. Seorang pengusaha yang saya kenal hendak menjual hotelnya di\u00a0Bali, bukan karena alasan kerugian ataupun karena dia tidak memiliki\u00a0waktu lagi untuk mengelola. Namun ia menjualnya karena bermaksud\u00a0mengalihkan bisnis hotelnya ke bentuk bisnis yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apapun alasannya seorang pemilik bisnis mau menjual perusahaan yang\u00a0sedang dijalankannya, diperlukan penilaian harga pasar perusahaan itu,\u00a0untuk menentukan harga jualnya. Tanpa harga pasar maka harga jual\u00a0perusahaan akan terlalu mahal atau terlalu murah. Dalam pendekatan\u00a0yang umum digunakan ketika hendak menilai harga sebuah perusahaan,\u00a0dilakukan dengan menilai berapa nilai asset secara total. Misalnya\u00a0perusahaan yang akan dijual adalah perusahaan penjual burger maka\u00a0harga perusahaan ini bisa dinilai dengan harga gerobak yang dimiliki\u00a0misalnya seharga 100 ribu rupiah, alat-alat masaknya 200 ribu rupiah,\u00a0dan perabotnya 50 ribu rupiah, bila dijumlahkan 350 ribu rupiah. Bila\u00a0ada penawaran untuk membeli perusahaan penjual burger ini seharga 400\u00a0ribu rupiah tentunya segera bisa dijual karena masih menguntungkan 50\u00a0ribu rupiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah cara tersebut merupakan cara yang tepat untuk menilai sebuah\u00a0perusahaan, tentulah memerlukan penilaian keuntungan yang sudah\u00a0dihasilkan selama ini. Bila perusahaan penjual burger tersebut\u00a0menghasilkan satu juta rupiah setahun, maka menjual dengan harga 400\u00a0ribu rupiah akan menciptakan kehilangan sebesar satu juta rupiah.\u00a0Bagaimanakah sekarang menilai perusahaan dengan penghasilan satu juta\u00a0rupiah setahun, apakah akan tetap dengan nilai 350 ribu rupiah? Atau\u00a0dengan nilai lain?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara sederhana cara menilainya bisa dibandingkan dengan pertama\u00a0melihat berapa bunga deposito pada tahun itu, kemudian ditentukan\u00a0berapa dana yang harus ditanam untuk menghasilkan satu juta rupiah\u00a0setahun. Sebesar dana deposito yang harus ditanam untuk menghasilkan\u00a0pendapatan setahun penjual burger sebesar itulah nilai perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seandainya bunga deposito yang berlaku saat itu adalah 10 persen,\u00a0tentulah dana deposito yang perlu ditanam sebesar 10 juta rupiah untuk\u00a0menghasilkan pendapatan bunga sebesar satu juta rupiah. Dengan\u00a0demikian nilai perusahaan penjual burger tadi tidak lagi sebesar 500\u00a0ribu rupiah melainkan menjadi 10 juta rupiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari model perhitungan sederhana ini, bila diaplikasikan dalam\u00a0perhitungan yang kompleks memerlukan kecermatan dalam menghitung\u00a0proyeksi pendapatan yang akan diperoleh, asumsi-asumsi yang digunakan\u00a0sejak dari pendapatan yang diterima hingga penetapan harga pokok\u00a0penjualan memerlukan ketepatan sebab sangat mempengaruhi nilai sebuah<br \/>\nperusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nilai sebuah perusahaan tidak serta merta menjadi harga jual sebuah\u00a0perusahaan. Harga jual perusahaan tergantung dari pertimbangan penjual\u00a0memberikan keuntungan kepada pembeli. Tentulah pertimbangan seseorang\u00a0membeli perusahaan memiliki motif yang berbeda-beda, bila perusahaan\u00a0yang dibeli akan dipadukan dengan perusahaan lain yang bisa memberikan\u00a0nilai efisiensi yang besar, tentulah pembeli masih sanggup membeli\u00a0sebesar nilai perusahaan. Hal ini akan berbeda bila tujuan pembelian\u00a0adalah murni untuk menjadikan perusahaan penghasil keuntungan yang\u00a0tunggal, dalam hal ini pembeli cenderung membeli di bawah nilai\u00a0perusahaan itu sendiri. Negosiasi antara penjual dan pembeli yang\u00a0dipengaruhi nilai dari perusahaan akan menghasilkan harga jual sebuah\u00a0perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Ari Dewanto\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Manage Your Finances)\u00a0Dalam sebuah perjalanan bisnis, seorang pemilik perusahaan ada kalanya\u00a0berkeinginan menjual perusahaan yang dimilikinya karena berbagai\u00a0alasan. Seorang pengusaha yang saya kenal hendak menjual hotelnya di\u00a0Bali, bukan karena alasan kerugian ataupun karena dia tidak memiliki\u00a0waktu lagi untuk mengelola. Namun ia menjualnya karena bermaksud\u00a0mengalihkan bisnis hotelnya ke bentuk bisnis yang berbeda. Apapun alasannya seorang pemilik bisnis mau menjual perusahaan yang\u00a0sedang dijalankannya, diperlukan penilaian harga pasar perusahaan itu,\u00a0untuk menentukan harga jualnya. Tanpa harga pasar maka harga jual\u00a0perusahaan akan terlalu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":65137,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[5,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65607"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65607"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65607\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65611,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65607\/revisions\/65611"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}