{"id":63846,"date":"2014-10-02T21:38:14","date_gmt":"2014-10-02T14:38:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=63846"},"modified":"2014-10-03T07:01:37","modified_gmt":"2014-10-03T00:01:37","slug":"hasan-zein-mahmud-perintis-bursa-efek-bursa-berjangka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/10\/02\/hasan-zein-mahmud-perintis-bursa-efek-bursa-berjangka\/","title":{"rendered":"Hasan Zein Mahmud, Perintis Bursa Efek &#038; Bursa Berjangka"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Achievement)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">H<\/span>asil bincang-bincang tim <a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\">businesslounge.co<\/a> Vibiz Media Network dengan Hasan Zein Mahmud, mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996 ini menuturkan pengalamannya dalam merintis Bursa Efek dan Bursa Berjangka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimulai pada saat semua perdagangan masih berjalan dengan sangat sederhana dan manual. Tidak seperti apa yang kita saksikan sekarang semua terpampang pada <em>Main Board Exchange<\/em> (MBE), tetapi pada itu hanya dengan sebuah amplop dan juga dengan papan tulis yang ditulis secara manual dan juga belum banyak emiten yang bergabung dalam pasar modal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Pasar Modal Model Tertutup<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">H<\/span>asan Zein mengupas kembali memorinya, ini memang bagian dari nostalgia cerita mengenai perdagangan. Ketika pertama kali perdagangan dilakukan dengan memperdagangkan hanya beberapa saham yaitu Semen Cibinong, maka perdagangan pun dilakukan secara tertutup. Pada pagi hari broker akan membawa amplop, kemudian amplop tersebut dikumpulkan dan dituliskan order jual dan order beli secara manual lalu dicarikan harga yang cocok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian sistem ini berkembang seiring dengan bertambahnya saham yang diperdagangkan menjadi sistem <em>call<\/em> terbuka, seperti lelang biasa. Hasan Zein menceritakan bagaimana ia menjadi salah satu pemimpin lelang pada saat itu. Dua hal yang mulai diperhatikan dalam penjualan seperti adalah <em>price priority<\/em> dan <em>time priority<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika jumlah saham yangdiperdagangkan melebihi 20 maka transaksi pun menggunakan papan tulis untuk masing-masing saham. Mereka yang hendak memasukkan <em>order<\/em>\u00a0akan menuliskan pada rentang harga yang telah ditentukan. Namun sistem menulis di papan tulis ini ternyata mengakibatkan terjadinya <em>deadlock<\/em> pada tahun 1994 ketika Indosat menjadi BUMN pertama yang go public dan go internasional. Karena semua orangakan berebut untuk menulis, akhirnya dicarikan jalan keluar dengan mengundi siapa yang akan menulis terlebih dulu. Kedengarannya sangat lucu namun ini memang pernah terjadi. Semua kisah ini kemudian mendorong Bursa Efek untuk mempercepat perdagangan komputerisasi yang akhirnya terlaksana pada tahun 1995.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Melakukan Transformasi Dalam Investasi<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">B<\/span>anyak fungsi dari pasar modal yang dapat diharapkan. Hasan menyebutnya dengan \u201c<i>Wealth Functioning Capital Market<\/i>\u201d atau pasar modal yang berfungsi dengan baik. Bagi Hasan, masyarakat sejajar dengan ekonomi, masyarakat akan bergerak dari <em>saving society<\/em> menjadi <em>investing society<\/em>. <em>Saving society<\/em>\u00a0membuat masyarakat tergantung kepada perbankan sehingga bersifat pasif. Tetapi <em>investing society<\/em>\u00a0mendorong masyarakat secara langsung untuk miliki saham perusahaan sehingga diperlukan untuk aktif memonitor pergerakan pasar. Saat ini Indonesia sedang bergerak ke arah <em>investing society<\/em>\u00a0sehingga pasar modal menjadi ajang latihannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari kacamata perusahaan Hasan menjelaskan bahwa semakin maju suatu negara maka salah satu indikatornya adalah semakin besar dana-dana perusahaan yang dimobilisasi pasar modal dibandingkan pinjaman dari perbankan. kapitalisasi pasar modal pada tahun 1989 hanya kurang dari 2%. Sedangkan tahun 1992, pada saat Bursa Efek menjadi swasta maka mencapai sekitar 30%. Saat ini kapitalisasi bursa sudah lebih besar dari total kredit perbankan artinya dana masuk yang dimobilisasi oleh pasar modal sudah lebih besar dibandingkan dana yang dimobilisasi oleh sistem perbankan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Masuk Dalam Era Komputerisasi<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">B<\/span>ursa pada dasarnya ujung tombak yang memberikan fasilitasi kepada investor untuk melakukan transaksi sehingga bursa harus dapat menyediakan sarana yang memungkinkan investor mendapatkan informasi yang <em>real time<\/em> dan pasar yang efisien serta transaksi yang lancar dan liquid. Sejak tahun 1988-1989, maka banyak <em>securities company<\/em>\u00a0yang mulai masuk bursa sehingga Hasan pun giat melakukan sosialisasi terutama sejak komputerisasi perdagangan pada Mei 1995. Hal ini membawa hasil yang sangat signifikan sehingga anggota bursa berkembang menjadi 197 perusahaan dibawah kepemimpinannya dan yang terpenting adalah mengubah sistem manual menjadi komputerisasi.<\/p>\n<p><iframe src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/8zgX9fHbAtU\" height=\"240\" width=\"320\" allowfullscreen=\"\" frameborder=\"0\"><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/10\/01\/marzuki-usman-pendobrak-pasar-modal-indonesia\/\">Back to Marzuki Usman \u00a0\u2013 Pendobrak Pasar Modal Indonesia<\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/10\/01\/marzuki-usman-pendobrak-pasar-modal-indonesia\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" alt=\"coverA\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/10\/coverA1-300x150.jpg\" width=\"300\" height=\"150\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Mark Sinambela\/Editor Vibiz Media Network\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Achievement) asil bincang-bincang tim businesslounge.co Vibiz Media Network dengan Hasan Zein Mahmud, mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996 ini menuturkan pengalamannya dalam merintis Bursa Efek dan Bursa Berjangka. Dimulai pada saat semua perdagangan masih berjalan dengan sangat sederhana dan manual. Tidak seperti apa yang kita saksikan sekarang semua terpampang pada Main Board Exchange (MBE), tetapi pada itu hanya dengan sebuah amplop dan juga dengan papan tulis yang ditulis secara manual dan juga belum banyak emiten [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":63852,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,1044],"tags":[4402],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63846"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63846"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63846\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63926,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63846\/revisions\/63926"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63852"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}