{"id":62600,"date":"2014-09-29T18:19:59","date_gmt":"2014-09-29T11:19:59","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=62600"},"modified":"2014-10-01T09:06:46","modified_gmt":"2014-10-01T02:06:46","slug":"penerapan-full-time-equivalent-dalam-manajemen-sumber-daya-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/09\/29\/penerapan-full-time-equivalent-dalam-manajemen-sumber-daya-manusia\/","title":{"rendered":"Penerapan Full Time Equivalent Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Empower People)\u00a0<i>Full Time Equivalent (FTE) <\/i>adalah sebuah alat pengukur produktifitas dari seorang pegawai, FTE menjadi indikator beban kerja seorang pegawai yang bisa dibandingkan dengan unit lain. Bila nilai FTE seorang pegawai adalah 1,0 maka pegawai ini berarti sangat produktif. Dengan kata lain, seluruh waktu standar dipakai untuk menghasilkan output yang diharapkan. Dalam rangka mengukur produktifitas, nilai standar FTE\u00a0 ditentukan oleh masing-masing perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana menghitung standar FTE? Secara umum bagi sebuah perusahaan dalam menghitung FTE dimulai dengan standar jumlah jam kerja\u00a0 per hari yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Standar jumlah jam kerja per hari di Indonesia umumnya adalah delapan jam kerja diluar waktu istirahat.\u00a0 Apakah delapan jam sehari dapat dipergunakan dengan penuh, memerlukan kajian di masing-masing perusahaan bahkan kajian di masing-masing departemen. Sebuah penelitian menyatakan bahwa umumnya pegawai bekerja dengan efektif selama 6 jam dari standar delapan jam kerja yang diberikan. Dua jam waktu akan terbuang untuk kepentingan-kepentingan pribadi, mulai dari ke kamar kecil, bicara dengan rekan kerja hingga waktu-waktu menghilangkan kejenuhan. Tentunya untuk lebih tepat bisa digunakan penelitian dengan <i>time and motion study, <\/i>sebuah cara pengukuran yang mengamati gerak dari seorang pegawai yang menjadi obyek pengamatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">FTE digunakan sebagai standar untuk mengukur produktifitas pegawai melalui perbandingan waktu yang efektif digunakan, pengalaman ini bisa dilakukan melalui <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">self assessment<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, ataupun melalui pengamatan atasan yang secara random mengukur berapa jumlah kerja yang menghasilkan dari seorang karyawan. Bila standar yang dimiliki adalah 6 jam sedangkan kenyataan jam kerja efektif 4 jam, maka pegawai tersebut tidak produktif.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">FTE dapat digunakan juga untuk menyusun perencanaan tenaga kerja <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">(man power planning)<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">. Target bisnis yang hendak dicapai pada satu periode ke depan biasanya selalu memperhitungan kebutuhan tenaga kerja. Target penjualan yang meningkat 50 persen memberi dampak kepada kebutuhan tenaga penjualan yang mungkin meningkat dalam jumlah yang sama bila kapasitas tenaga penjual pada saat sekarang sudah maksimal hingga 100 persen. Permintaan terhadap jumlah<\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\"> teller<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dalam bisnis perbankan, berjalan searah dengan peningkatan jumlah transaksi yang dipengaruhi oleh peningkatan jumlah nasabah yang memiliki rekening. Dengan FTE dapat dihitung berapa kebutuhan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">teller <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">untuk dapat melayani nasabah-nasabah baru ini. Bila standar FTE\u00a0 <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">teller <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">mencapai angka di atas 8 jam tentulah jumlah kebutuhan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">teller<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> di bawah kebutuhan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">teller <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">dengan standar FTE sebesar 6 jam.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">FTE bisa dibandingkan antara satu divisi dengan divisi lain, manajemen puncak harus mengkaji apakah standar FTE sudah memenuhi kualifikasi, sehingga meminimalkan biaya tenaga kerja yang harus dikeluarkan. FTE juga bisa bertumbuhan berdasarkan pengalaman kerja, semakin berpengelaman seorang pegawai seharusnya akan semakin tinggi FTE yang dapat dicapai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Ari Dewanto\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Empower People)\u00a0Full Time Equivalent (FTE) adalah sebuah alat pengukur produktifitas dari seorang pegawai, FTE menjadi indikator beban kerja seorang pegawai yang bisa dibandingkan dengan unit lain. Bila nilai FTE seorang pegawai adalah 1,0 maka pegawai ini berarti sangat produktif. Dengan kata lain, seluruh waktu standar dipakai untuk menghasilkan output yang diharapkan. Dalam rangka mengukur produktifitas, nilai standar FTE\u00a0 ditentukan oleh masing-masing perusahaan. Bagaimana menghitung standar FTE? Secara umum bagi sebuah perusahaan dalam menghitung FTE dimulai dengan standar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":59949,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62600"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62600"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62600\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":62606,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62600\/revisions\/62606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}