{"id":58519,"date":"2014-09-12T18:09:21","date_gmt":"2014-09-12T11:09:21","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=58519"},"modified":"2014-09-15T17:58:27","modified_gmt":"2014-09-15T10:58:27","slug":"satu-s-lima-h-manajemen-tiongkok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/09\/12\/satu-s-lima-h-manajemen-tiongkok\/","title":{"rendered":"Belajar Dari Satu S Lima H Manajemen Tiongkok"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge \u2013 How To Manage Your Business) &#8211; Tiongkok memiliki kemajuan yang luar biasa dalam banyak segi, kemajuan ini tidak terlepas dari kepiawaian pengusaha-pengusaha didalamnya dalam menjalankan bisnis yang membuat di Indonesia mengenal pepatah \u2018 belajarlah ke negri Cina.\u2019 Manajemen bisnis Tiongkok mengenal satu S lima H sebagai kiat cara menjalankan bisnisnya, resep ini digunakan terus menerus dari generasi ke generasi hingga berhasil dengan ide-ide yang luar biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kiat H yang pertama adalah <i>Sangye yishi<\/i>, ini dimengerti sebagai ketajaman untuk mendapatkan sumber pendapatan yang baik. Dalam manajemen barat <i>Sangye yishi<\/i> dikenal dengan <i>good business sense, <\/i>sewaktu <i>Sangye yishi<\/i> dimiliki maka pendapatan akan mengalir seperti air yang deras. <i>Sangye yishi<\/i> memerlukan latihan dan ketekunan, sebagai contoh Prayogo Pangestu pemilik Barito Pacific yang menguasai bisnis kayu pernah berada sepuluh tahun di hutan sebelum sukses sebagai pengusaha. <i>Sangye yishi <\/i>juga memerlukan latihan mengasah pikiran terus menerus agar mengalirkan <i>wisdom, <\/i>\u201c jangan sampai seperti ikan mati\u201d ujar mantan kepala Bapepam Marzuki Usman kepada saya. Maksud Marzuki, saat tidak pernah mengasah pikiran maka mata kita terbuka lebar namun pikiran kosong seperti ikan mati. Untuk mendapatkan <i>Sangye yishi <\/i>latihlah pikiran dengan tekun, menekuni bisnis yang dijalani tanpa mengenal lelah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya yang perlu dimiliki adalah <i>hopeng, hopeng<\/i> dalam manajemen barat dikenal dengan <i>network. Hopeng<\/i> ini diterjemahkan sebagai kawan baik, <i>Sangye yishi <\/i>saja tanpa <i>network<\/i> tidak akan menghasilkan apa-apa. <i>Network<\/i> adalah <i>asset <\/i>yang sangat berharga, karena itu milikilah <i>hopeng<\/i> sebanyak mungkin untuk mendapatkan keberhasilan dalam bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam manajemen barat dikenal dengan <i>winner mentality, can do mentality,<\/i> hal ini dalam manajemen Tiongkok disebut <i>hokie<\/i> atau keberuntungan yang bisa dikejar dan bukan menunggu nasib. Saat <i>Sangye yishi<\/i> dan <i>hopeng<\/i> dimiliki <i>hokie<\/i> menjadi bagian yang akan didapatkan asal jangan mudah menyerah dan percaya bahwa pasti bisa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya satu S dua h yang pertama adalah langkah yang mendasar sebelum masuk ke langkah-langkah selanjutnya. Langkah keempat, kelima dan keenam adalah buah dari rangkaian kiat manajemen Tiongkok. Langkah keempat yang menjadi buah hasil kerja keras dan ketekunan adalah <i>homiau<\/i>. <i>Homiau<\/i> adalah kondisi yang nyaman yang dimililiki pengusaha hasil kerja kerasnya, saat seperti ini langkah-langkah pengusaha sudah menghasilkan. Kelima adalah <i>hocia<\/i> adalah kondisi dimana makanan yang dimakan menjadi nyaman dan cukup. Keenam adalah <i>hosui<\/i>, seperti yang dikenal dalam <i>seven habits<\/i> oleh <i>Covey<\/i> maka <i>end in mind<\/i> dari semuanya adalah akan bagaimana kondisi akhir hidup seseorang, apakah terhormat atau tidak. <i>Hosui<\/i> adalah sebuah keadaan akhir dari kehidupan yang terhormat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manajemen Tiongkok\u00a0 ini membangun motivasi yang kuat kepada para pengusaha untuk berkompetisi tanpa mengenal menyerah, benang merah yang menghubungkan satu S lima H ini adalah sikap mental yang tekun dan tidak pernah menyerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Ari D\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge \u2013 How To Manage Your Business) &#8211; Tiongkok memiliki kemajuan yang luar biasa dalam banyak segi, kemajuan ini tidak terlepas dari kepiawaian pengusaha-pengusaha didalamnya dalam menjalankan bisnis yang membuat di Indonesia mengenal pepatah \u2018 belajarlah ke negri Cina.\u2019 Manajemen bisnis Tiongkok mengenal satu S lima H sebagai kiat cara menjalankan bisnisnya, resep ini digunakan terus menerus dari generasi ke generasi hingga berhasil dengan ide-ide yang luar biasa. Kiat H yang pertama adalah Sangye yishi, ini dimengerti sebagai ketajaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":42972,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[4152],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58519"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58519"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58519\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59054,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58519\/revisions\/59054"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/42972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58519"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58519"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58519"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}