{"id":5798,"date":"2013-01-12T08:55:01","date_gmt":"2013-01-12T01:55:01","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=5798"},"modified":"2014-03-08T11:03:50","modified_gmt":"2014-03-08T04:03:50","slug":"frontier-karakter-unik-konsumen-indonesia-5-beragama-dan-suka-supranatural","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/01\/12\/frontier-karakter-unik-konsumen-indonesia-5-beragama-dan-suka-supranatural\/","title":{"rendered":"Frontier: Karakter Unik Konsumen Indonesia #5 Beragama dan Suka Supranatural"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; 4 karakter unik konsumen Indonesia sudah kita bahas dalam beberapa tulisan waktu lalu. Kini kita akan membahas karakter unik ketujuh menurut versi Frontier, yakni Beragama dan Suka Supranatural.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karakter religius ini, didasari oleh fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia, sekitar 80 persen, menganut agama Islam. Sehingga, terdapat keinginan menguat dari masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan mengakibatkan karakter ini berkembang dalam konsumen Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai contoh, Promag sukses karena menggunakan simbol agama, dan iklannya populer saat bulan Ramadhan, sebagai obat maag untuk mereka yang berpuasa. Konsumen Indonesia juga suka hal-hal yang berbau syari\u2019ah disukai oleh masyarakat. Misalnya bank syariah yang berkembang pesat sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Tayangan-tayangan agama hingga berbau supranatural juga cukup digandrungi oleh konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsumen muslim sangat <i>concern<\/i> terhadap apa yang dibolehkan ataupun dilarang agama, termasuk masalah makanan\/minuman. Menurut survey Frontier tahun 2001: 57.9% konsumen selalu memperhatikan label halal pada produk; 62.2% konsumen akan mencari alternatif lainnya jika produk yang mereka temukan tidak berlabel halal; dan 46.6% konsumen bersedia membayar premium untuk produk halal.<\/p>\n<p>Karakter ini mengimplikasikan pemasar dapat mengusung strategi sebagai berikut:<\/p>\n<p><b>Strategi Positioning<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25cf Tekankan label \u2018halal\u2019 pada produk Anda<br \/>\n\u25cf asosiasikan dengan agama, misalnya Promag dengan \u2018Assalamu\u2019alaikum\u2019, pakaian muslim dan Deddy Mizwar sebagai endorser<br \/>\n\u25cf Manfaatkan tokoh agama sebagai endorser, karena masyarakat Indonesia lebih percaya dengan tokoh agama.<\/p>\n<p><b>Strategi Produk<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25cf Kembangkan produk baru untuk segmen ini<br \/>\n\u25cf Tekankan pada produk low-involvement, seperti makanan, minuman dan obat-obatan, karena konsumen lebih melibatkan faktor emosional pada pembelian produk-produk ini dibandingkan dengan produk high-involvement seperti produk elektronik.<\/p>\n<p><b>Strategi Pricing<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25cf Pemasar bisa mengenakan harga premium, karena konsumen bersedia untuk membayar lebih bagi produk yang memiliki label halal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(<span>Rinella Putri<\/span>\/AA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; 4 karakter unik konsumen Indonesia sudah kita bahas dalam beberapa tulisan waktu lalu. Kini kita akan membahas karakter unik ketujuh menurut versi Frontier, yakni Beragama dan Suka Supranatural. Karakter religius ini, didasari oleh fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia, sekitar 80 persen, menganut agama Islam. Sehingga, terdapat keinginan menguat dari masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan mengakibatkan karakter ini berkembang dalam konsumen Indonesia. Sebagai contoh, Promag sukses karena menggunakan simbol agama, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":5799,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5798"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5798"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27441,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5798\/revisions\/27441"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5799"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}