{"id":57915,"date":"2014-09-10T20:51:28","date_gmt":"2014-09-10T13:51:28","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=57915"},"modified":"2014-09-10T20:52:32","modified_gmt":"2014-09-10T13:52:32","slug":"gaya-kepemimpinan-coercive","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/09\/10\/gaya-kepemimpinan-coercive\/","title":{"rendered":"Menyimak Gaya Kepemimpinan Coercive"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Bagaimanakah seorang pemimpin pemadam kebakaran harus bertindak saat menghadapi kebakaran besar terjadi? Bagaimana pemimpin sebuah kota bertindak saat ada serbuan musuh radikal yang sangat ganas dan tidak memiliki hati nurani? Bagaimana pemimpin bertindak saat bencana alam terjadi dan keadaan begitu tidak terkendali dan kepanikan terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pendekatan kepemimpinan, pemimpin harus menggunakan \u201c<i>coercive style\u201d<\/i> untuk\u00a0 bertindak pada saat\u00a0 situasi yang sangat <i>urgent<\/i> dan <i>important <\/i>terjadi, krisis dan kepanikan terjadi, segalanya tidak terkendali. <i>Coercive style<\/i> sering dipandang negatif dan tanpa perasaan, namun dalam keadaan krisis gaya kepemimpinan seperti ini sangatlah diperlukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perusahaan, contoh kejadian darurat yang membutuhkan kepemimpinan dengan <i>coercive style<\/i>\u00a0 adalah pada saat ada karyawan atau pelanggan yang kecelakaan kerja di sebuah toko produk perusahaan. Keadaan ini tidak mungkin diatasi oleh seorang yang menerapkan gaya kepemimpinan demokrasi, karena disini tidak diperlukan musyawarah,\u00a0 namun tindakan cepat dan tepat seorang pemimpin untuk menyelamatkan nyawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam bagan yang nampak di atas,\u00a0 ada tiga <i>emotional intelligence<\/i> utama\u00a0 yang harus dimiliki dan menggerakkan seorang pemimpin menggunakan <i>coercive style<\/i>. Pertama adalah <i>drive to achieve<\/i>, bila seorang pemimpin memiliki kemampuan emosi ini, maka ia akan kuat sekali untuk mencapai apa yang dinginkan. <i>Initiative <\/i>sangat diperlukan pada saat krisis, sehingga tidak akan berhasil mengatasi krisis bila tidak memiliki inisiatif. <i>Self control,<\/i> dalam kondisi krisis yang menjadi lawan dari seseorang, termasuk seorang pemimpin adalah dirinya sendiri yang panik, ketakutan dan tidak terkendali. Karena itu pemimpin perlu memiliki ketenangan dan penguasaan diri yang baik dalam krisis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Modus operandi seorang pemimpin dalam kondisi\u00a0 seperti ini tercermin dalam sikap atau instruksinya. Jenis instruksi pertama\u00a0 yang timbul adalah <i>demanding, <\/i>instruksinya sangat menuntut, memaksa dan tidak dapat ditawar.\u00a0 Kedua, instruksi atau sikapnya <i>immediate<\/i>, harus dikerjakan dengan cepat, tidak mau berlambat-lambat, tidak boleh ditunda, instruksi sifatnya segera. Ketiga, instruksi sifatnya <i>compliance <\/i>harus ditaati, jangan ada penyimpangan, fokus pada tujuan. Jelas sekali ketiga kemampuan ini harus dimiliki oleh seorang pemimpin pada saat krisis, tidak boleh ada kelemahan instruksi disini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemimpin yang menggunakan <i>coercive style<\/i> selalu akan berkata \u201c<i>do what I tell you! <\/i>ikuti saja perintahku.\u201d Ini adalah sikap yang akan terlihat dari luar, hasil keseluruhan faktor yang membentuk sikap seorang pemimpin. Secara keseluruhan dampak dari pemimpin dengan <i>coercive style<\/i> akan dilihat negatif oleh perusahaan atau organisasi. Pemimpin tidak disukai, dibenci oleh banyak orang karena sikapnya yang tidak banyak tanya namun langsung minta dikerjakan saja. Namun akan segera berubah menjadi sikap yang hormat dikala tindakannya membuat perusahaan atau organisasi keluar dari krisis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Efekifitas penggunaan gaya kepemimpinan tergantung kepada dua hal, yang pertama adalah kondisi pekerjaan atau sifat tugas itu sendiri, dan yang kedua adalah kesiapan atau kematangan seorang bawahan. Bila situasi pekerjaan dalam kondisi yang tidak genting menggunakan <i>coercive style<\/i> hanya akan mendatangkan penolakan, begitu juga bila bawahan tidak siap atau belum dewasa, maka tidak ada instruksi yang akan dikerjakan, yang ada hanyalah kefrustasian bawahan karena merasa pimpinannya terlalu memaksa. Jadi penting sekali menempatkan penggunaan <i>coercive style<\/i> ini pada situasi kondisi yang tepat.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em> Fadjar Ari Dewanto\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Bagaimanakah seorang pemimpin pemadam kebakaran harus bertindak saat menghadapi kebakaran besar terjadi? Bagaimana pemimpin sebuah kota bertindak saat ada serbuan musuh radikal yang sangat ganas dan tidak memiliki hati nurani? Bagaimana pemimpin bertindak saat bencana alam terjadi dan keadaan begitu tidak terkendali dan kepanikan terjadi. Dalam pendekatan kepemimpinan, pemimpin harus menggunakan \u201ccoercive style\u201d untuk\u00a0 bertindak pada saat\u00a0 situasi yang sangat urgent dan important terjadi, krisis dan kepanikan terjadi, segalanya tidak terkendali. Coercive style sering [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":46457,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57915"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57915"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57915\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57919,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57915\/revisions\/57919"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46457"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}