{"id":57507,"date":"2014-09-09T17:43:48","date_gmt":"2014-09-09T10:43:48","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=57507"},"modified":"2014-09-09T18:06:53","modified_gmt":"2014-09-09T11:06:53","slug":"efek-gas-rumah-kaca-pada-atmosfer-capai-tingkat-tertinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/09\/09\/efek-gas-rumah-kaca-pada-atmosfer-capai-tingkat-tertinggi\/","title":{"rendered":"Efek Gas Rumah Kaca pada Atmosfer Capai Tingkat Tertinggi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; News &amp; Insight) Lonjakan tingkat CO2 sebagai akibat efek rumah kaca telah mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2013, demikian dikatakan PBB pada Selasa (9\/9) seperti dilansir oleh Business Insider.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kita tahu telah mengetahui bahwa iklim kita telah berubah dan cuaca menjadi begitu ekstrim sebagai akibat dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar,&#8221; demikian diucapkan Michel Jarraud, kepala World Meteorological Organization (WMO) yang merilis pelaporan mengenai permasalahan ini pada Selasa (9\/9). Jarraud menambahkan bahwa kita harus membalikkan tren ini dengan mengurangi emisi CO2 dan gas rumah kaca lainnya di seluruh bagian atau kita akan segera kehabisan waktu. Laporan tersebut juga mencantumkan level tertinggi dari metana dan nitrogen dioksida.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsentrasi CO2 yang menjadi penyebab utama dari pemanasan global telah melonjak menjadi 396 bagian per million pada tahun lalu, atau 142 persen dari tingkat pra-industri. Kenaikan ini mencapai 2,9 bagian per million antara tahun 2012 dan 2013 saja (kenaikan tahunan yang terbesar dalam 30 tahun).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laporan ini juga menunjukkan bahwa apa yang disebut efek radiasi, atau efek pemanasan pada iklim kita berkaitan langsung dengan gas rumah kaca seperti CO2, telah meningkat 34 persen bila dibandingkan dengan tahun 1990.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperempat emisi diserap oleh samudera, sementara seperempat lainnya terhisap ke dalam biosfer, kedua hal ini secara alami membatasi tingkat pemanasan gas di atmosfer. \u00a0Tetapi CO2 yang berada di atmosfer tetap berada di sana selama ratusan tahun, sedangkan CO2 yang terserap ke dalam samudera dapat bertahan lebih lama lagi. CO2 yang disimpan di samudera mengakibatkan peningkatan keasaman dan mengubah ekosistem laut. Menurut WMO, tingkat pengasaman laut seperti sekarang ini belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya selama 300 juta tahun terakhir, dan kemungkinannya hal ini akan bertambah buruk. Sehingga ada 2 dampak kumulatif dari CO2 yaitu pemanasan global dan pengasaman laut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Efek Rumah Kaca<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Efek rumah kaca sebenarnya ditimbulkan oleh dua hal berbeda, yaitu efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi dan efek rumah kaca yang terjadi akibat aktivitas manusia. Energi yang terpancar ke bumi dan kemudian diserap oleh bumi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan gas CO<sub>2<\/sub> dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun efek meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi yang kemudian akan mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Salah satu efek lainnya adalah adalah mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut serta meningkatnya suhu air laut sehingga terjadilah peningkatan permukaan laut. Hal ini jelas akan memberikan pengaruh yang signifikan pada negara-negara kepulauan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain gas CO2, yang juga dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO<sub>2<\/sub>) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokabon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>uthe\/Journalist\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Image: wikimedia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; News &amp; Insight) Lonjakan tingkat CO2 sebagai akibat efek rumah kaca telah mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2013, demikian dikatakan PBB pada Selasa (9\/9) seperti dilansir oleh Business Insider. &#8220;Kita tahu telah mengetahui bahwa iklim kita telah berubah dan cuaca menjadi begitu ekstrim sebagai akibat dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar,&#8221; demikian diucapkan Michel Jarraud, kepala World Meteorological Organization (WMO) yang merilis pelaporan mengenai permasalahan ini pada Selasa (9\/9). Jarraud menambahkan bahwa kita harus membalikkan tren [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":57531,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1050],"tags":[4105],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57507"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57507"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57535,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57507\/revisions\/57535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}