{"id":56870,"date":"2014-09-05T19:59:38","date_gmt":"2014-09-05T12:59:38","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=56870"},"modified":"2014-09-05T20:04:39","modified_gmt":"2014-09-05T13:04:39","slug":"tahapan-dalam-melakukan-delegasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/09\/05\/tahapan-dalam-melakukan-delegasi\/","title":{"rendered":"Tahapan Dalam Melakukan Delegasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Kegagalan seorang pemimpin dalam mencapai tujuan dipengaruhi juga dengan cara bagaimana melakukan delegasi. Untuk proses keberhasilan sebuah kepemimpinan diperlukan keahlian dalam mendelegasikan pekerjaan. Yang terutama harus disadari bahwa pendelegasian pekerjaan harus memperhatikan kesiapan seorang bawahan, diperlukan kejelian pemimpin dalam melihat kesiapan seorang bawahan. Pendelegasian pekerjaan umumnya juga harus disertai dengan pendelegasian wewenang, memberikan pekerjaan saja tanpa memberikan wewenang membuat gagalnya tugas yang diberikan. Berikut ini beberapa tahapan sederhana dalam mendelegasikan pekerjaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahapan Pendelegasian<br \/>\n1. <em>Introduce the task<\/em><br \/>\nTahap pertama saat melakukan pendelegasan tugas adalah dengan memberikan pengenalan yang jelas tentang apa yang yang harus dilakukan. Kesalahan bawahan melakukan pekerjaan seringkali bukan karena tingkat kemampuannya yang rendah, namun ketidakjelasan atasan menyampaikan tugas membuat gagalnya sebuah pekerjaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Demonstrate clearly<br \/>\nSetelah memperkenalkan tugas atau pekerjaan yang harus dilakukan, seorang atasan sangat perlu untuk memperagakan bagaimana pekerjaan itu harus dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan menggambarkan, menggerak, dan bentuk-bentuk visualisasi yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Ensure the understanding<br \/>\nPengertian seorang bawahan terhadap apa yang harus dilakukan memerlukan konfirmasi kembali. Konfirmasi bisa dilakukan dengan bertanya kembali, meminta untuk menjelaskan ulang apa yang sudah disampaikan atasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4. Allocate authority &amp; information<br \/>\nMengalokasikan wewenang dan informasi diperlukan untuk suksesnya pendelegasian. Apabila seorang atasan mendelegasikan kepada bawahannya untuk memimpin pertemuan, atau bernegosiasi dengan pelanggan, sangat diperlukan bawahan mengerti informasi tentang pertemuan itu dan wewenang untuk memutuskan, bila tidak maka tentu kekacauan saja yang akan terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5. Let him go<br \/>\nProses pendelegasian memerlukan kepercayaan atasan kepada bawahan, itulah sebabnya maka langkah selanjutnya adalah biarkan bawahan melakukan apa yang ditugaskan. Kekuatiran pemimpin dalam mendelegasikan seringkali membuat bawahan berulangkali ditanya tentang progres sebuah pekerjaan, sehingga hal ini membuat bawahan seolah tidak dibiarkan mengerjakan tugasnya sendiri. Kekuatiran seorang pemimpin terjadi pada saat pertamakali mendelagasikan kepada bawahan yang belum dikenal reputasinya. Kebesaran hati pemimpin terletak pada keberaniannya untuk mempercayakan tugas kepada bawahan, dan menolongnya untuk berhasil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6. Support and monitor<br \/>\nSetelah tahap-tahap pendelegasian dilakukan, maka tahap yang terpenting dalam pendelegasian adalah usaha seorang pemimpin untuk memonitor dan memberikan dukungan kepada bawahan. Tentunya dukungan diperlukan bukan saja pada saat terakhir, seluruh proses pendelegasian memerlukan dukungan dari atasan.<br \/>\nTahapan-tahapan pendelegasian memerlukan juga pendekatan kepribadian kepada bawahan. Adaptasi kepribadian seorang pemimpin diperlukan untuk membuat berhasil pendelegasian. Saat memperkenalkan, mendemonstrasikan, mengkonfirmasikan diperluka sikap yang memahami bawahan. Saat mengalokasikan wewenang dan membiarkan bawahan melakukan pekerjaannya diperlukan sikap yang memotivasi bawahan. Hanya pada saat memonitor diperlukan sebuah sikap yang tegas untuk memastikan keberhasilan pekerjaan.<br \/>\nProses pendelegasian sangat diperlukan bukan saja untuk keberhasilan sebuah pekerjaan namun juga untuk pengembangan seorang bawahan mencapai kemampuannya yang optimal. Proses legacy dalam kepemimpinan memerlukan pendelegasian pemimpin kepada bawahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a>Fadjar Ari Dewanto\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Kegagalan seorang pemimpin dalam mencapai tujuan dipengaruhi juga dengan cara bagaimana melakukan delegasi. Untuk proses keberhasilan sebuah kepemimpinan diperlukan keahlian dalam mendelegasikan pekerjaan. Yang terutama harus disadari bahwa pendelegasian pekerjaan harus memperhatikan kesiapan seorang bawahan, diperlukan kejelian pemimpin dalam melihat kesiapan seorang bawahan. Pendelegasian pekerjaan umumnya juga harus disertai dengan pendelegasian wewenang, memberikan pekerjaan saja tanpa memberikan wewenang membuat gagalnya tugas yang diberikan. Berikut ini beberapa tahapan sederhana dalam mendelegasikan pekerjaan. Tahapan Pendelegasian 1. Introduce [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":46472,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56870"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56870"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56870\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57639,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56870\/revisions\/57639"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56870"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56870"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56870"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}