{"id":54195,"date":"2014-08-27T16:13:29","date_gmt":"2014-08-27T09:13:29","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=54195"},"modified":"2014-08-27T23:38:54","modified_gmt":"2014-08-27T16:38:54","slug":"prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia-indonesia-sustainable-development","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia-indonesia-sustainable-development\/","title":{"rendered":"Prof. Dr. Emil Salim (#2\/4) : Pondasi Ekonomi Indonesia &#8211; Indonesia Sustainable Development"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Achievement)\u00a0Penduduk Indonesia terus bertambah sedangkan luas wilayahnya tetap sama, Jikalau kita berpikir ke depan, bahwa kita ingin bertahan hingga tahun 2045 saat usia kemerdekaan kita mencapai yang ke-100 tahun, maka kita harus memikirkan pentingnya melakukan<em> resources efficiency <\/em>yaitu melakukan efisiensi didalam menggunakan sumber daya yang ada. Sehingga harus ada perubahan di dalam pola pembangunan yang tidak lagi kepada <i>resources exploitation<\/i> tetapi kepada <i>resources enrichment<\/i>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Resources Enrichment<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i style=\"line-height: 1.5em;\">Resources exploitation <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">yaitu ketika kita mengambil batubara, ketika kita menanam kelapa sawit yang kemudian minyaknya kita ekspor. Sedangkan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">resources enrichment<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> adalah ketika kita memberikan nilai tambah kepada hutan kita. Hutan itu bukan sekedar hutan tetapi kita melihat apa saja yang ada di dalamnya yang dapat menjadi nilai tambah. Sebagai contoh, Emil Salim menyebutkan lintah yang kalau menggigit akan mengeluarkan suatu zat yang dapat menyebabkan rasa gatal. Tetapi ternyata zat itu adalah obat yang dapat mencairkan darah yang kental. Zat ini ternyata dapat dijadikan obat untuk mengatasi penyakit stroke. Dalam <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">resource enrichment<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> maka perlu dipikirkan bagaimana mengubah zat yang ada pada lintah yang terdapat di dalam hutan Indonesia ini menjadi obat untuk mengatasi penyakit stroke.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Contoh lainnya yang Emil Salim berikan adalah melakukan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">resources enrichment <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">terhadap hutan sagu yang ada di Papua. Sampai hari ini seluruh hutan sagu yang ada di Papua apabila ditebang sekali pun, hutan itu akan tumbuh lagi tanpa ditanam. Sesungguhnya hutan sagu di Papua akan dapat mencukupi keperluan karbohidrat dari seluruh penduduk Indonesia yang sudah melebih 240 juta orang. Mungkin orang akan berkata bahwa ia tidak terbiasa makan sagu, rata-rata orang Indonesia terbiasa dengan makan nasi. Tetapi dengan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">resurces enrichment<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> maka dapat dipikirkan bagaimana mengubah sagu menjadi butiran beras sebagai\u00a0<em>virtual rice<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Brain Power and Value Added<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Apa yang menjadi poin bagi Emil Salim adalah apabila kita dapat membuat zat makanan, zat obat, zat pembangunan yang banyak sekali tanpa melakukan penebangan atau membuat habis sumber-sumber yang ada maka akan lahirlah pola pembangunan yang memperhitungkan daya dukung alam.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Pembangunan mula-mula akan memperhitungkan tata ruang. Kita lihat seluruh tata ruang tanah dan air. Di mana ada sagu maka jangan dibongkar, di mana ada hutan maka jangan dibongkar. Apa saja yang merupakan daya dukung alam jangan dilewati tetapi tetap dijaga kelestariannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Jika dilewati, maka alam akan menghantam balik sebagai bencana sebagai contoh terjadinya banjir yang merupakan bentuk amarah dari alam yang telah over eksploitasi. Oleh karena itu sangat perlu adanya keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan, itulah yang disebut dengan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">sustainable development<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">.\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">Dengan demikian proses pembangunan pun akan terus berlanjut dan masyarakat pun menjadi lebih maju tetapi hal ini tidak menimbulkan kerusakan alam.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kuncinya adalah mengandalkan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">brain power<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, bukan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">muscle power<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">. <\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">Sehingga melakukan pembangunan dengan selalu menimbulkan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">value added<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kembali Emil Salim memberikan contoh pada perkebunan kepala sawit Indonesia. Mengapa kita mengekspor minyak kelapa sawit mentah? Seharusnya kita dapat mengolahnya terlebih dahulu menjadi produk untuk wewangian, produk kosmetika baru diekspor. Padahal Belanda atau Perancis mengolah minyak kelapa sawit mentah itu menjadi parfum, menjadi kosmetik dan mengekspornya kembali dengan harga yang dapat beratus kali lipat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Intinya adalah dengan menggunakan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">brain <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">power maka kita dapat menciptakan banyak <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">added value<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> yang akan menguntungkan kita.<\/span><\/p>\n<p><iframe src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/EFK2ZbGyWgA?list=UU5e1s9LMtHdhA7K_K8uqa4w\" height=\"360\" width=\"640\" allowfullscreen=\"\" frameborder=\"0\"><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia\/\">Back to Prof. Dr. Emil Salim \u00a0\u2013 Pondasi Ekonomi Indonesia<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-54145\" alt=\"banner 2b\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-300x129.jpg\" width=\"300\" height=\"129\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-300x129.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-1024x442.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b.jpg 1199w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<div class=\"sixcol first\"><br \/>\n<a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/pak-Yo.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft\" alt=\"pak Yo\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/pak-Yo.jpg\" width=\"72\" height=\"72\" \/><\/a>Kristanto Nugroho<br \/>\nEditor in Chief Vibiz Media Network<br \/>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: left;\"><div class=\"sixcol last\"><\/p>\n<p><em><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft\" alt=\"ruth_revisi\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\" width=\"72\" height=\"72\" \/><\/a><\/em><\/p>\n<p>Ruth Berliana<br \/>\nEditor in Chief businesslounge.co<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><\/div><div class=\"clearfix\"><\/div><\/p>\n<p><em style=\"line-height: 1.5em;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\">\u00a0<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Achievement)\u00a0Penduduk Indonesia terus bertambah sedangkan luas wilayahnya tetap sama, Jikalau kita berpikir ke depan, bahwa kita ingin bertahan hingga tahun 2045 saat usia kemerdekaan kita mencapai yang ke-100 tahun, maka kita harus memikirkan pentingnya melakukan resources efficiency yaitu melakukan efisiensi didalam menggunakan sumber daya yang ada. Sehingga harus ada perubahan di dalam pola pembangunan yang tidak lagi kepada resources exploitation tetapi kepada resources enrichment. Resources Enrichment Resources exploitation yaitu ketika kita mengambil batubara, ketika kita menanam kelapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":54371,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,1044],"tags":[3880,3866,3853,3882,3868,173],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54195"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54195"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54195\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54531,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54195\/revisions\/54531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}