{"id":54180,"date":"2014-08-27T14:32:36","date_gmt":"2014-08-27T07:32:36","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=54180"},"modified":"2014-08-27T23:22:50","modified_gmt":"2014-08-27T16:22:50","slug":"prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia-nilai-tambah-dan-lingkungan-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia-nilai-tambah-dan-lingkungan-hidup\/","title":{"rendered":"Prof. Dr. Emil Salim (#3\/4): Pondasi Ekonomi Indonesia &#8211; Nilai Tambah dan Lingkungan Hidup"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Achievement)\u00a0Dalam karirnya Emil Salim pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Perhubungan. Sehingga masalah lingkungan hidup dan transportasi bukan lagi menjadi masalah yang asing baginya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kepada businesslounge.co \u2013 Vibiz Media Network, Emil Salim memparkan bahwa hal yang penting dilakukan berkaitan dengan lingkungan hidup adalah bagaimana menanamkan wawasan kepada masyarakat dan kepada pemerintahan bahwa daya dukung alam adalah kunci dari pembangunan. Daya dukung alam yang meliputi seluruh wilayah Indonesia akan menjadi kunci pembangunan Indonesia, sehingga pembangunan harus mampu memanfaatkan seluruh daya dukung yang kita miliki ini, dari Sumatera sampai Papua. Apabila pembangunan hanya difokuskan kepada Sumatera, Jawa, dan Bali maka akan terjadi suatu ketimpangan, dimana wilayah-wilayah di Indonesia Timur akan tertinggal dan tidak bisa memberi kontribusi optimal sebagai daya dukung ekonomi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Daya Dukung Optimal<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Oleh karena itu pemerintah perlu menciptakan nilai tambah dari pembangunan dengan memindahkan daya dukung alam yang ada, tidak hanya menggunakan daya dukung alam yang ada pada Pulau Jawa dan Sumatera, tetapi juga mulai menggunakan daya dukung alam bagian timur Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Saat ini, Jawa sudah melewati daya dukung alamnya, sehingga Emil Salim berpendapat bahwa ia tidak setuju dengan pembangunan jembatan di Selat Sunda, yang menghubungkan Sumatera dan Jawa. Sebab itu hanya akan memajukan Jawa dan Sumatera padahal Pulau Jawa dan Sumatera telah melewati daya dukung lingkungannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Emil Salim lebih setuju jika pemerintah membuat suatu <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">roll on roll off system <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">konektivitas laut dari Indonesia bagian barat ke bagian Timur. Mulai dari Pulau Jawa ke Bali, Bali ke NTB, NTB ke NTT dan seterusnya hingga sampai ke Papua. Bukan membangun jembatan tetapi tersedianya kapal-kapal besar yang dapat mengangkut mobil-mobil, dimana kapal-kapal ini memberi layanan konektivitas laut dua arah dari barat ke timur dan \u00a0demikian sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tranportasi Konektivitas Laut<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Perlu disadari bahwa 2\/3 dari Indonesia ini adalah laut sehingga transportasi laut yang dapat menghubungkan seluruh wilayah Indonesia sangat perlu untuk dipikirkan tidak hanya Selat Sunda saja. Anggaran untuk pembanguan jembatan tersebut bisa dimanfaatkan untuk anggaran yang diarahkan ke pemanfaatan daya dukung ekonomi di Indonesia bagian timur, sehingga bila terserap alokasinya untuk pembangunan jembatan Selat Sunda, hal ini justru dapat menambah ketimpangan pembangunan Barat dan Timur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Dalam pembicaraan ini, Emil Salim pun memberikan contoh ketika Amerika Serikat membangun Amerika Timur, maka langkah yang diambil oleh pemerintah adalah membangun kereta api ke Barat. Saat itu tidak ada yang bertanya tentang <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">Return Cargo<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, tidak ada yang bertanya <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">What is the Cost<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dari kereta itu, tetapi ketika kereta api dibangun, maka California pun terbangun sehingga barat dan timur dari Amerika Serikat sama sama maju.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Begitu pula dengan Indonesia, kepada businesslounge.co \u2013 Vibiz Media Network, Emil Salim mengusulkan untuk pembangunan transportasi ke Timur dapat dilakukan. Memang tidak ada <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">return cargo<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dari Papua, sama dengan California tetapi cara berpikir ekonominya yang harus diubah. \u201cBukan <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">the ship follow the trade<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, tetapi ada <em>ship<\/em><\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u00a0dulu baru ada <em>trade<\/em><\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\"><\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">, baru ada <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">return cargo<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">.\u201d demikian papar Emil Salim,\u00a0<\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">Trade will follow the Ship<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">. Alat angkut dulu harus dipastikan ada baru perdagangan pun akan mengikutinya. Tanpa adanya alat angkut, bagaimanakah orang di Papua, di Maluku dapat masuk ke dalam pasar yang ada di Jawa?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Mungkin akan dibutuhkan subsidi, hal ini dapat disesuaikan dengan volumenya nantinya, yang penting dibuatkan sistemnya yang dapat terdiri dari kapal perintis yang ada pada jalur utama, <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">turn line<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dan kemudian akan ada juga <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">feeder line<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">. Semua harus ada jadwalnya dan harus berjalan sesuai dengan yang telah ditetapkan seperti sistem yang telah ada pada penerbangan kita.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>We are One Nation, One Economy<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Emil Salim pun menambahkan bahwa membangun Indonesia secara menyeluruh baik Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur adalah merupakan bagian dari penerapan Bhinneka Tunggal Ika. Kesatuan yang ada bukan hanya secara politik tetapi juga kesatuan ekonomi antara timur dan barat. \u201cWe are one nation, one economy,\u201d demikian Emil Salim berujar.<\/span><\/p>\n<p><iframe src=\"\/\/www.youtube.com\/embed\/Z-IXo5SVFIk?list=UU5e1s9LMtHdhA7K_K8uqa4w\" height=\"360\" width=\"640\" allowfullscreen=\"\" frameborder=\"0\"><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia\/\">Back to Prof. Dr. Emil Salim \u00a0\u2013 Pondasi Ekonomi Indonesia<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2014\/08\/27\/prof-dr-emil-salim-pondasi-ekonomi-indonesia\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-54145\" alt=\"banner 2b\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-300x129.jpg\" width=\"300\" height=\"129\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-300x129.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b-1024x442.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/banner-2b.jpg 1199w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<div class=\"sixcol first\"><br \/>\n<a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/pak-Yo.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft\" alt=\"pak Yo\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/pak-Yo.jpg\" width=\"72\" height=\"72\" \/><\/a>Kristanto Nugroho<br \/>\nEditor in Chief Vibiz Media Network<br \/>\n<\/div>\n<div class=\"sixcol last\"><\/p>\n<p><em><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignleft\" alt=\"ruth_revisi\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\" width=\"72\" height=\"72\" \/><\/a><\/em>Ruth Berliana<br \/>\nEditor in Chief businesslounge.co<\/p>\n<p><\/div><div class=\"clearfix\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Achievement)\u00a0Dalam karirnya Emil Salim pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Perhubungan. Sehingga masalah lingkungan hidup dan transportasi bukan lagi menjadi masalah yang asing baginya. Kepada businesslounge.co \u2013 Vibiz Media Network, Emil Salim memparkan bahwa hal yang penting dilakukan berkaitan dengan lingkungan hidup adalah bagaimana menanamkan wawasan kepada masyarakat dan kepada pemerintahan bahwa daya dukung alam adalah kunci dari pembangunan. Daya dukung alam yang meliputi seluruh wilayah Indonesia akan menjadi kunci pembangunan Indonesia, sehingga pembangunan harus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":54347,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,1044],"tags":[3866,3853,3879,3877,3868],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54180"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54180"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54180\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54528,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54180\/revisions\/54528"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}