{"id":5364,"date":"2013-03-18T01:10:32","date_gmt":"2013-03-17T18:10:32","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=5364"},"modified":"2014-03-08T11:02:59","modified_gmt":"2014-03-08T04:02:59","slug":"menikmati-loyalitas-customer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/03\/18\/menikmati-loyalitas-customer\/","title":{"rendered":"Menikmati Loyalitas Customer"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Loyalitas dari customer adalah asset yang bisa membawa efek multiplier dalam revenue sebuah perusahaan, salah satu keuntungan loyalitas customer adalah dilakukannya cross selling.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah Brand dalam perusahaan hanya mempunyai nilai bila memiliki potensi dalam menciptakan customer yang loyal. Frederick F Reichheld pada tahun 1993 melakukan study tentang \u2018Loyalty \u2013 Based Management\u2019 hasilnya dituangkan di Harvard Business Review.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengatakan dengan perbaikan 5% dari kesalahan yang ada untuk <i>existing customer<\/i> membuat revenue meningkat 85% untuk sebuah Bank, 50% untuk sebuah perusahaan asuransi dan 30% untuk bengkel. Jadi dampak dari loyalitas customer adalah sangat besar<\/p>\n<p><strong>David A. Aaker menganalisa segmentasi loyalitas customer bisa digolongkan sebagai berikut :<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Bukan Customer : ini adalah golongan mereka yang membeli produk pada competitor dan sama sekali tidak tertarik pada produk kita.<br \/>\n2. \u2019Price Swithchers\u2019 : golongan ini adalah mereka yang sangat sensitif terhadap harga sehingga ketika harga berubah sedikit mereka langsung berubah loyalitasnya.<br \/>\n3. \u2019Fence sitter\u2019 : golongan ini adalah mereka yang puas dengan dua atau tiga produk sejenis.<br \/>\n4. \u2019The committed\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tantangan untuk kita adalah bagaimana kita mengubang \u2019price swithchers\u2019 untuk jumlahnya semkain sedikit dan juga \u2019fence sitter\u2019 dikuatkan untuk commit terhadap produk. Walaupun demikian jangan mengabaikan 2 segementasi ekstrim yang lain yaitu yang bukan customer dan yang <i>committed<\/i> , sering orang memandang dua sisi ini dengan <i>taken for granted<\/i> . Mengelola dua segmen ini justru sangat berdampak pada revenue.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh pengembangan loyalitas pelanggang adalah dengan melakukan apa yang disebut dengan \u2019 Frequent buyer program\u2019 seperti contoh adalah apa yang dilakukan garuda Indonesia dengan mengeluarkan Garuda Frequent Flyer . Strategi yang lain yang cukup handal adalah dengan menciptakan klub customer, seperti produk mainan anak-anak Nintendo, memiliki klub \u2019 Nintendo Club\u2019, atau ada lagi yang lain seperti Club Motor Besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terakhir setelah club dan ferequent buyer tercipta segera disertai dengan cross promotion dan cross selling. Banyak Bank akan mengirimkan newsletter untuk customer yang loyal dengan newsletter.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(Fadjar Ari Dewanto\/AA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Loyalitas dari customer adalah asset yang bisa membawa efek multiplier dalam revenue sebuah perusahaan, salah satu keuntungan loyalitas customer adalah dilakukannya cross selling. Sebuah Brand dalam perusahaan hanya mempunyai nilai bila memiliki potensi dalam menciptakan customer yang loyal. Frederick F Reichheld pada tahun 1993 melakukan study tentang \u2018Loyalty \u2013 Based Management\u2019 hasilnya dituangkan di Harvard Business Review. Ia mengatakan dengan perbaikan 5% dari kesalahan yang ada untuk existing customer membuat revenue meningkat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":5366,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5364"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5364"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5364\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26992,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5364\/revisions\/26992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5366"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}