{"id":52353,"date":"2014-08-20T23:04:54","date_gmt":"2014-08-20T16:04:54","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=52353"},"modified":"2014-08-21T07:15:10","modified_gmt":"2014-08-21T00:15:10","slug":"cegah-indikasi-fraud-sedini-mungkin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/08\/20\/cegah-indikasi-fraud-sedini-mungkin\/","title":{"rendered":"Upayakan Mencegah Indikasi Fraud Sedini Mungkin"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Operate Efficiently)<\/p>\n<p><b><i>Apa yang dimaksud dengan Fraud<\/i><\/b><b> ?<\/b><\/p>\n<p>Fraud dalam istilah sehari-hari adalah perbuatan melanggar yang dilakukan secara sengaja terhadap peraturan yang berlaku yang dapat menimbulkan kerugian\u00a0 dengan tujuan untuk keuntungan pribadi maupun pihak lain.<\/p>\n<p><b style=\"line-height: 1.5em;\"><i>Mengapa fraud terjadi ?<\/i><\/b><\/p>\n<p>Adanya peluang (<i>opportunity<\/i>), tekanan\/motif (<i>pressure<\/i>) dan alasan yang tepat (<i>a rationalization<\/i>) menjadi motif\/pendorong setiap orang melakukan tindakan <em>fraud<\/em>.<\/p>\n<p>Elemen dari <em>fraud<\/em> dapat digambarkan dalam \u00a0<i>Fraud Triangle<\/i> di bawah ini.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fraud-Triangle.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-52355\" alt=\"Fraud Triangle\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fraud-Triangle.jpg\" width=\"356\" height=\"241\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fraud-Triangle.jpg 356w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fraud-Triangle-300x203.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 356px) 100vw, 356px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><i>Pertama, <\/i><\/b>peluang timbul karena adanya kelemahan dan hilangnya pengendalian internal. Beberapa contoh di antaranya adalah pengawasan dan review, pemisahan tanggung jawab, management approval, dan sistem pengendalian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b style=\"line-height: 1.5em;\"><i>Kedua, <\/i><\/b><span style=\"line-height: 1.5em;\">tekanan\/ motive dapat disebabkan karena kebutuhan keuangan dan motif lainnya, berikut beberapa contohnya: masalah keuangan (harus membayar cicilan rumah, berobat, tagihan listrik, telepon dll), judi, drugs, dan hutang yang berlebihan dan adanya target yang tidak realistis juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan <em>fraud<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b style=\"line-height: 1.5em;\"><i>Ketiga Rationalization<\/i><\/b><span style=\"line-height: 1.5em;\"> \u00a0terjadi pada saat seseorang membuat pembenaran atas tindakan <em>fraud<\/em>,\u00a0 contohnya adalah: <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">\u201cSaya sangat membutuhkan uang ini dan saya akan mengembalikannya pada saat menerima gaji\u201d, \u201dSetiap orang akan memahami jika mereka mengetahui akan kebutuhan saya\u201d, dan \u201dSetiap orang melakukannya (fraud)\u201d.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b style=\"line-height: 1.5em;\"><i><span style=\"text-decoration: underline;\">Bagaimana\u00a0 mengetahui bahwa fraud telah terjadi?\u00a0 Faktor-faktor apa yang dapat menimbulkan fraud?<\/span><\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan <em>fraud<\/em>.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Tidak efektifnya pengendalian intern, seperti:\n<ul>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0Kurangnya kualitas dari seseorang dalam menjalankan fungsi pengendalian<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0Tidak adanya pembagian fungsi tanggung jawab.\n<ul>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0Tidak dibatasi akses terhadap asset atau data penting (cash, catatan pribadi, dll.)<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0Tidak dilakukannya rekonsiliasi asset dengan catatan yang dimiliki<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Kolusi diantara pegawai dengan tiada atau lemahnya pengawasan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<b><i>Other Fraud warning signals:<\/i><\/b><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Turnover pegawai yang tinggi<\/li>\n<li>Moral pegawai yang rendah<\/li>\n<li>Tidak adanya dokumen pendukung dari suatu transaksi<\/li>\n<li>Banyaknya keluhan dari nasabah<\/li>\n<li>Target yang tidak realistis<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><\/b><b><i>Jadi, bagaimana fraud dicegah? detterent<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seluruh pegawai cenderung tidak akan melakukan <em>fraud<\/em> jika mereka percaya bahwa mereka akan ditangkap bila\u00a0 melakukan <em>fraud. Fraud<\/em> masih dapat dilakukan meskipun system pengendali telah ditempatkan secara periodic untuk mencegah <em>fraud<\/em> jika pegawai tidak memperdulikan fungsi control itu sendiri.\u00a0 Prinsip ini dapat bekerja sebaliknya, <em>Fraud<\/em> dapat dicegah meskipun controlnya lemah akan tetapi setiap orang percaya bahwa kontrol tersebut ada pada tempatnya. Jadi kunci untuk mencegah timbulnya <em>fraud<\/em> adalah dengan meningkatkan persepsi bahwa pelaku <em>fraud<\/em> akan ditangkap jika melakukan <em>fraud<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Tujuan ini akan tercapai melalui kombinasi berikut : sistem pengendalian internal yang kuat misalnya dengan melakukan check and recheck kebenaran seluruh isi data dan dokumen oleh checker\/supervisor atau bila perlu oleh manager dan harus dibuktikan dengan tandatangan, tanggal dan waktu dilakukannya check, membentuk <em>fraud hotline<\/em> dan <em>training<\/em> untuk mengenal tanda-tanda dari <em>fraud<\/em>. Manajemen juga harus mempertimbangkan publikasi hasil investigasi fraud untuk menunjukkan kepada seluruh pegawai bahwa seluruh aktivitas fraud tidak dapat ditoleransi dan akibat terburuknya adalah terminasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Dari kasus yang banyak terjadi, maka terlihat bahwa elemen-elemen yang mendorong munculnya <em>fraud<\/em> sbb :<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"1\">\n<li>Peluang, peluang terlihat oleh tersangka dimana pengawasan intern dan review hasil kerja oleh supervisor tidak berjalan dengan baik<\/li>\n<li>Motive ; dari hasil interview dengan tersangka didapat informasi bahwa tersangka <em>fraud<\/em> melakukan ini karena adanya kebutuhan keuangan untuk membiayai keluarganya (istrinya yang sedang hamil) dan membiayai kontrakan rumahnya. Bila kita lihat secara rasional posisi dari tersangka yang hanya seorang sales, mungkin saja kejadian ini timbul karena ingin mencapai target yang telah ditetapkan dengan mengabaikan etika dan moral yang berlaku sebagai sales dalam mencapai tujuan.<\/li>\n<li>Rationalization, masih kuatnya budaya rasionalisasi <em>fraud<\/em> misalnya: <i>\u201dSetiap orang akan memahami jika mereka mengetahui akan kebutuhan saya\u201d, dan \u201dSetiap orang melakukannya (fraud)\u201d.<\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Kasus seperti diatas dapat dideteksi maupun dicegah bila pertama, semua personil memiliki budaya dan moral yang baik dengan tidak mempertaruhkan reputasinya\u00a0 dengan perbuatan yang melanggar aturan yang berlaku. Kedua, peranan supervisor, manajer juga sangat penting dalam mendeteksi dan mencegah timbulnya <em>Fraud<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Lemahnya kontrol dari supervisor dalam mengawasi dan mereview hasil kerja bawahannya dan tidak memberikan arahan sebenarnya dalam proses penjualan sesuai dengan prosedur yang berlaku.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, diluar dari lemahnya faktor tersebut diatas, kurangnya budaya anti <em>fraud<\/em> juga masih sangat rendah di lingkungan sales ditunjukkan dengan tidak adanya keinginan untuk melaporkan gejala dan tindakan fraud yang telah terjadi kepada pihak yang berkepentingan\/ berwenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\"><em>Fraud<\/em> merupakan tindakan kriminal, dan seperti tindakan kriminal lainnnya <em>fraud<\/em> dapat terjadi kepada siapa saja. Seperti yang telah dijelaskan dalam segitiga <em>fraud<\/em>, pencegahan <em>fraud<\/em> merupakan tanggung jawab seluruh bagian dalam suatu perusahaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Pengendalian yang kuat diperlukan untuk peluang yang kelihatan untuk melakukan <em>fraud<\/em>. Menciptakan pengukuran yang proaktif untuk mendeteksi <em>fraud<\/em> melalui <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">fraud assessment questioning<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> dan hotline memberi pegawai kesempatan membantu untuk menghentikan <em>fraud<\/em> dan pada saat yang sama meningkatkan persepsi \u00a0pencegahan sehingga mencegah kemungkinan munculnya <em>fraud<\/em> dimasa depan. Juga dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang positif yang akan meningkatkan moral pegawai dan mengurangi tekanan atau motif melakukan <em>fraud<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em>Ria Felisha\/Contributor\/VMN\/BL<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Operate Efficiently) Apa yang dimaksud dengan Fraud ? Fraud dalam istilah sehari-hari adalah perbuatan melanggar yang dilakukan secara sengaja terhadap peraturan yang berlaku yang dapat menimbulkan kerugian\u00a0 dengan tujuan untuk keuntungan pribadi maupun pihak lain. Mengapa fraud terjadi ? Adanya peluang (opportunity), tekanan\/motif (pressure) dan alasan yang tepat (a rationalization) menjadi motif\/pendorong setiap orang melakukan tindakan fraud. Elemen dari fraud dapat digambarkan dalam \u00a0Fraud Triangle di bawah ini. Pertama, peluang timbul karena adanya kelemahan dan hilangnya pengendalian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":46746,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1051,19],"tags":[1652],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52353"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52353"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52353\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52380,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52353\/revisions\/52380"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52353"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52353"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52353"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}