{"id":5174,"date":"2010-05-25T05:58:34","date_gmt":"2010-05-24T22:58:34","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=5174"},"modified":"2014-03-08T11:05:28","modified_gmt":"2014-03-08T04:05:28","slug":"etika-berkomunikasi-dalam-pelayanan-pelanggan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2010\/05\/25\/etika-berkomunikasi-dalam-pelayanan-pelanggan\/","title":{"rendered":"Etika Berkomunikasi Dalam Pelayanan Pelanggan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager\u2019s Lounge \u2013 Service) \u2013 Customer Service harus punya etika tersendiri mengenai bagaimana sikap, perkataan maupun ucapan kepada pelanggan. Pekerjaan customer service yang bertugas selalu di garis depan, menghadapi berbagai macam nasabah atau pelanggan, bukanlah hal yang mudah, dikarenakan mereka harus bisa menahan diri untuk tidak terpancing emosi, terutama ketika customer merasa tidak puas dan marah-marah.<\/p>\n<p>Contohnya, suatu ketika saya bertemu langsung dengan customer yang sedang emosi, Tugasnya sebagai customer service adalah menjawab dengan sopan dan juga dalam batas-batas kesopanan. Mari kita uraikan satu persatu:<\/p>\n<p><b>1. Menunjukkan kesopanan<\/b><br \/>\nPelanggan, selain ingin merasa diterima dan nyaman, juga ingin diperlakukan dengan sopan. Oleh karena itu, hal ini harus menjadi sikap otomatis dari seluruh petugas pelayanan. Lebih dari hanya sekedar mengucapkan terima kasih dan kembali, kesopanan adalah tingkah laku yang didengar dan dirasakan oleh pelanggan.<\/p>\n<p>Pelanggan yang sungguh-sungguh melakukan hubungan bisnis dengan kita haruslah kita perlakukan dengan sikap sopan dalam setiap situasi, meskipun pelanggan\/customer marah dan menunjukkan sikap permusuhan atau agresif. Kita harus mendengarkan juga alasan mengapa pelanggan menjadi marah, hindari untuk bersikap emosional sesaat, dan berbicaralah dengan sopan kepada pelanggan, dan berharap mendapatkan solusi yang dapat diterima. Profesionalisme mewajibkan seorang customer service tetap dapat menghadapi tingkah laku pelanggan dengan sopan.<\/p>\n<p><b>2. Mengucapkan terima kasih<\/b><\/p>\n<p>Pada akhir percakapan biasakan untuk mengucapkan terima kasih, beberapa contoh yang dapat disampaikan mengenai ucapan terima kasih, sbb :<\/p>\n<p>\u2022 Terima kasih, anda telah menghubungi kami<br \/>\n\u2022 Terima kasih untuk pesanan anda<br \/>\n\u2022 Kami menghargai usaha anda<br \/>\n\u2022 Jangan ragu-ragu untuk menghubungi setiap waktu, saya senang berhubungan dengan anda<br \/>\n\u2022 Terima kasih telah berbisnis dengan anda<br \/>\n\u2022 Silakan menghubungi kami kembali<br \/>\n\u2022 Telepon anda selalu kami tunggu<br \/>\n\u2022 Saya ingin berbicara lagi dengan anda di waktu yang akan datang<\/p>\n<p>Bagaimana anda menutup pembicaraan itu yang paling penting, karena hal itu sangat mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap perusahaan anda ataupun terhadap petugas customer service. Pelanggan mungkin akan lebih mudah untuk melupakan atau mengabaikan kesalahan anda.<\/p>\n<p>Akhirnya, lakukanlah sesuai arahan dengan contoh-contoh diatas, untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi.<\/p>\n<p>(Margaretha Shakuntala\/DH\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager\u2019s Lounge \u2013 Service) \u2013 Customer Service harus punya etika tersendiri mengenai bagaimana sikap, perkataan maupun ucapan kepada pelanggan. Pekerjaan customer service yang bertugas selalu di garis depan, menghadapi berbagai macam nasabah atau pelanggan, bukanlah hal yang mudah, dikarenakan mereka harus bisa menahan diri untuk tidak terpancing emosi, terutama ketika customer merasa tidak puas dan marah-marah. Contohnya, suatu ketika saya bertemu langsung dengan customer yang sedang emosi, Tugasnya sebagai customer service adalah menjawab dengan sopan dan juga dalam batas-batas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4825,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5174"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5174"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5174\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27910,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5174\/revisions\/27910"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4825"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5174"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5174"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5174"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}