{"id":48984,"date":"2014-08-07T19:00:40","date_gmt":"2014-08-07T12:00:40","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=48984"},"modified":"2014-08-07T19:00:40","modified_gmt":"2014-08-07T12:00:40","slug":"10-tipe-yang-menjadi-penghalang-sebuah-visi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/08\/07\/10-tipe-yang-menjadi-penghalang-sebuah-visi\/","title":{"rendered":"10 Tipe Yang Menjadi Penghalang Sebuah Visi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Visi yang dilihat oleh seorang pemimpin bisa jadi tidak seperti yang dilihat orang lain, atau pengikutnya. Ketika sebuah visi dihalang-halangi, biasanya ini merupakan masalah tipe orang dalam sebuah organisasi, Maxwell menyebutkan ada sepuluh tipe orang yang selalu menghalangi visi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i style=\"line-height: 1.5em;\">1. Limited Leader<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernyataan seorang perdana menteri Perancis dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa bila melakukan hal yan besar akan menarik orang besar, jika melakukan hal yang kecil hanya akan menarik orang yang kecil. Seorang <i>limited leader <\/i>akan kekurangan visi atau mempunyai pengalaman kegagalan mencapai sebuah visi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>2. <\/i>Pemikir yang konkrit<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seseorang yang mempunyai pemikiran yang konkrit hanya melihat sesuatu dari apa yang dilihatnya dan bukan seorang berpikiran kreatif yang memimpikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i style=\"line-height: 1.5em;\">3. <\/i><i style=\"line-height: 1.5em;\">Dogmatic Talker<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak visi gagal ketika berhadapan dengan seorang yang memiliki ideologi yang sulit dirubah yang menjelma menjadi dogma.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>4. <\/i>Seorang yang gagal terus menerus <i>(Continual Losers)<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak orang melihat kegagalannya di masa lalu dan merasa takut akan resiko mengejar visi, dia juga menghancurkan usaha orang untuk mencobanya kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i>5. <\/i>Orang yang telah puas (<i>Satisfied Sitter)<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang akan cenderung memilih kondisi yang nyaman, dapat diperkirakan dan kehidupan yang aman, tapi alas kaki kenyamanan adalah rasa puas yang salah <i>(complacency).<\/i><i>\u00a0<\/i>Kondisi yang dapat diperkirakan menyebabkan kebosanan, dan keadaan aman menyebabkan tidak ada visi. Fisikawan Prof. Yohanes Surya pernah menyampaikan kepada saya konsep \u2018Mestakung singkatan Semesta Mendukung\u2019. Ia mengatakan tempatkan diri pada situasi kritis, maka alam pun akan memberikan dukungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">6. Pencinta Tradisi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di <i>House of Common <\/i>gedung parlemen Inggris ada kebiasaan berjalan berjingkat ketika melewati tangga parlemen, kebiasaan ini diteruskan dari tahun ke tahun tanpa alasan kenapa. Setelah di selidiki rupanya hal itu dilakukan ketika tangga sedang di cat dan harus berjingkat melewatinya supaya jangan kotor, namun setelah cat selesai berjingkat tetap dilakukan, itulah tradisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">7. Melihat Masalah Saja<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada orang yang selalu saja melihat masalah dimana saja, apapun solusi yang diberikan yang dia lihat adalah masalah terus menerus. Beberapa orang beranggapan bahwa seorang yang bisa melihat masalah adalah seorang yang matang, padahal seorang yang selalu melihat masalah adalah seorang tanpa visi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">8. Pencinta Diri<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang yang hidup untuk dirinya sendiri sulit untuk melihat visi ke depan dan akan gagal untuk bisa mengerjakan banyak, pencinta diri ini disebut juga <i>vision-busters.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><\/i><i>9. <\/i><i>Census Takers<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada juga karakter orang yang selalu mengikuti pilihan banyak orang, dia tidak merasa nyaman dengan pilihan sendiri, biasanya untuk mengikuti visi dia bertanya kepada banyak orang, kalau kebanyakan tidak mengikuti dia akan menghindari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">10. Perencana Kegagalan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih dari melihat masalah, tipe orang ini selalu pesimis akan hasil yang dikerjakan, dan segala sesuatu tidak berkembang ataupun bertumbuh. Ada pepatah Tiongkok mengatakan, \u201corang yang berkata bahwa tidak dapat dilaksanakan akan menginterupsi orang yang sedang melakukannya\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesepuluh tipe orang yang ada dalam setiap organisasi menjadi catatan seorang pemimpin untuk mengenalinya, dan dari keadaan mereka ini beranjak pada penemuan cara-cara apa yang diperlukan untuk mempengaruhi mereka menuju visi yang dilihat seorang pemimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Fadjar Ari Dewanto\/Managing Partner Business Advisory Vibiz Consulting\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Visi yang dilihat oleh seorang pemimpin bisa jadi tidak seperti yang dilihat orang lain, atau pengikutnya. Ketika sebuah visi dihalang-halangi, biasanya ini merupakan masalah tipe orang dalam sebuah organisasi, Maxwell menyebutkan ada sepuluh tipe orang yang selalu menghalangi visi. 1. Limited Leader Pernyataan seorang perdana menteri Perancis dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa bila melakukan hal yan besar akan menarik orang besar, jika melakukan hal yang kecil hanya akan menarik orang yang kecil. Seorang limited leader [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":46451,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15,1051],"tags":[231,1308],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48984"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48984"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48984\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48988,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48984\/revisions\/48988"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46451"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}