{"id":45730,"date":"2014-07-25T20:25:19","date_gmt":"2014-07-25T13:25:19","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=45730"},"modified":"2014-08-06T19:35:04","modified_gmt":"2014-08-06T12:35:04","slug":"seleksi-karyawan-untuk-membangun-corporate-culture-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/07\/25\/seleksi-karyawan-untuk-membangun-corporate-culture-2\/","title":{"rendered":"Seleksi Karyawan untuk Membangun Corporate Culture"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/Infog-65.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-45689 aligncenter\" alt=\"Infog-65\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/Infog-65.jpg\" width=\"750\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/Infog-65.jpg 750w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/07\/Infog-65-300x160.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Zappos.com, sebuah ritel sepatu online ternama asal Amerika Serikat, mempunyai budaya luar biasa di lingkungan kerjanya yang berfokus pada customer service. Segala kebijakan perusahaan yang diterapkan pada karyawan, fokus akhirnya adalah pada pelanggan.<br \/>\nPada tahun 2008 Zappos membukukan pendapatan US$ 1 miliar, padahal tahun 1999 nyaris sama sekali tidak ada keuntungan, dan tahun 2000 hanya US$1,6 juta. Apa yang membuat Zappos.com berhasil? Terletak di kuatnya budaya perusahaan yang dimulai sejak rekrutmen karyawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syarat rekrutmen karyawan di Zappos.com adalah costumer service culture. Mereka tidak akan merekrut orang yang tidak sesuai dengan budaya perusahaan.<br \/>\nSebelum resmi bekerja, karyawan diharuskan mengikuti program pelatihan selama empat minggu. Selama itu, mereka menerima materi mengenai strategi, culture hingga obsesi terhadap pelanggan. Pada masa ini karyawan tetap mendapat gaji penuh.<br \/>\nSetelah program pelatihan, selain menawarkan gaji kepada karyawan sesuai dengan jumlah jam kerja, perusahaan juga akan menawarkan uang sebesar US$ 1.000 pada karyawan baru tersebut untuk berhenti, jika ia merasa tidak cocok dengan Zappos. Zappos menyebutnya \u201dThe Offer\u201d.<br \/>\nInti dari diimplementasikannnya \u201dThe Offer\u201d adalah supaya perusahaan benar-benar memperoleh karyawan yang sesuai dengan budaya perusahaan. Zappos.com berprinsip, dari pada mendapatkan karyawan yang tidak sesuai dengan budaya perusahaan dan berdampak buruk dalam jangka panjang, lebih baik mengeluarkan dana di awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sungguh menarik melihat fakta dari implementasi \u201dThe Offer\u201d, menurut CEO Zappos Tony Hsieh, pada tahun 2007 ada 3% karyawan baru yang berhenti, 2008 ada 1% dan sejak 2009, tidak ada satu pun yang berhenti. Secara berkala Zappos.com mengukur kekuatan budaya perusahaan melalui survey karyawan. Demikianlah Zappos hing\u00acga meraih prestasinya berkat kekuatan budaya perusahaannya.<br \/>\nKesimpulannya, Zappos.com memiliki budaya customer service culture oriented yang sangat mengutamakan sikap yang sesuai dengan budayanya dan\u00a0 untuk menemukan orang yang tepat, Zappos.com menyampaikan ekspektasi yang jelas kepada calon karyawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Seleksi Karyawan<\/strong><br \/>\nSeleksi adalah usaha awal yang harus dilakukan perusahaan untuk menemukan sumber daya manusia yang qualified sehingga pembinaan, pengembangan, dan pengaturan karyawan menjadi lebih mudah.<br \/>\nBerikut beberapa penyebab kesalahan dalam proses seleksi karyawan :<br \/>\n1. Keharusan mengisi jabatan yang kosong sesegera mungkin, sehingga penyeleksi sangat cepat membuat keputusan mengenai palamar;<br \/>\n2. \u00a0Perusahaan hanya mengandalkan pada wawancara;<br \/>\n3. Pertanyaan yang diajukan pewawancara tidak fokus pada pekerjaan bahkan terkadang menyimpang ke urusan pribadi pelamar;<br \/>\n4. Pelamar tidak tertarik dengan wawancara yang dilakukan karena pewawancara bersikap meremehkan atau pewawancara terlalu banyak bicara;<br \/>\n5. \u00a0Adanya \u201dfaktor lain\u201d yang memepengaruhi keputusan seleksi, seleksi dilakukan secara parsial. Keputusan menerima karyawan didasarkan pada persepsi pihak penyeleksi, bisa juga faktor hubungan keluarga atau uang pelicin yang diberikan calon karyawan.<br \/>\n6. Perusahaan tidak memiliki divisi HR (biasanya perusahaan menengah kebawah) atau memiliki divisi HR tetapi job descriptionnya hanya mengerjakan fungsi admin saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Carilah karyawan yang sesuai dengan budaya perusahaan anda, sebab merekalah yang akan membuat budaya perusahaan anda semakin kuat dan membawa perusahaan anda untuk menjadi berhasil.<br \/>\nOleh karena itu kegiatan proses penyeleksian\u00a0 perlu dilaksanakan secara ketat agar dapat berjalan sesuai dengan ketentuan perusahaan, sehingga setiap ketentuan yang telah dilalui oleh calon karyawan, merekalah yang diterima dan momen tersebut menjadi awal dari keberhasilan proses seleksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Maria Donna\/Contributor\/VMN\/BL<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) Zappos.com, sebuah ritel sepatu online ternama asal Amerika Serikat, mempunyai budaya luar biasa di lingkungan kerjanya yang berfokus pada customer service. Segala kebijakan perusahaan yang diterapkan pada karyawan, fokus akhirnya adalah pada pelanggan. Pada tahun 2008 Zappos membukukan pendapatan US$ 1 miliar, padahal tahun 1999 nyaris sama sekali tidak ada keuntungan, dan tahun 2000 hanya US$1,6 juta. Apa yang membuat Zappos.com berhasil? Terletak di kuatnya budaya perusahaan yang dimulai sejak rekrutmen karyawan. Syarat rekrutmen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":45689,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45730"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45730"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45734,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45730\/revisions\/45734"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45689"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}