{"id":4538,"date":"2013-03-08T10:55:54","date_gmt":"2013-03-08T03:55:54","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=4538"},"modified":"2014-03-08T11:03:19","modified_gmt":"2014-03-08T04:03:19","slug":"logistik-sumpah-pemuda-itu-supply-chain-management","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/03\/08\/logistik-sumpah-pemuda-itu-supply-chain-management\/","title":{"rendered":"Logistik: Sumpah Pemuda itu Supply Chain Management"},"content":{"rendered":"<p>SOEMPAH PEMOEDA<\/p>\n<p>Pertama :<\/p>\n<p>&#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA<\/p>\n<p>Kedua :<\/p>\n<p>&#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA<\/p>\n<p>Ketiga :<\/p>\n<p>&#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA<\/p>\n<p>Djakarta, 28 Oktober 1928<\/p>\n<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Quality) Hampir semua bangsa Indonesia mengenal teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan diWaltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 &#8211; 28 Oktober 1928. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat<\/p>\n<p>di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum SumpahPemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie<\/p>\n<p>Kong Liong.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Dengan panitia kongres pemoeda yang terdiri dari berbagai latar belakang jelas sekali bahwa inti Soempah Pemoeda adalah Supply Chain Management.<\/p>\n<p>Kata \u201csatoe\u201d yang ada di soempah pemoeda kiranya mengacu ke \u2018satoe\u2019 hal yaitu Supply Chain Management mindset.<\/p>\n<p>Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah \u2018proses payung\u2019 di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000, h197).<\/p>\n<p>Ada 3 (tiga) aliran yang mengalir dalam Supply Chain Management, yaitu arus Barang, Informasi dan Uang yang dalam bahasa sederhana dapatlah digambarkan sebagai suatu pemerataan akan distribusi ketiga hal tersebut.<\/p>\n<p>Penguasaan prinsip end to end dengan dibantu Logistik di masing-masing entitinya seperti Procurement Management, Warehouse Management, Inventory Management, Transportation Management, Material Management, Distribution Management dan lainnya memang tidaklah mudah tetapi dapat dilaksanakan jika kita sudah mempunyai mindset yang sama, yaitu Supply Chain Management.<\/p>\n<p>Prinsip koordinasi dan integrasi haruslah dipegang dalam Supply Chain Management dengan mengedepankan prinsip bangsa diatas golongan.<\/p>\n<p>Jika anda dapat membayangkan atau mendengarkan serta membicarakan Supply Chain Management, pikirkanlah suatu rangkaian rantai yang saling menyambung membentuk rangkaian kuat yang tidak terpatahkan.\u00a0\u00a0 Seperti itulah seharusnya suatu bangsa yang bernama Indonesia.<\/p>\n<p>Supply Chain Management yang menjadi \u2018ikatan\u2019 bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke sehingga tidaklah perlu orang berbondong-bondong merantau ke pulau Jawa untuk sekedar mencari arus barang, informasi dan uang.\u00a0 Melainkan ketiga hal tersebut sudah menyebar merata.<\/p>\n<p>Mengapa sekarang ikatan rantai itu rapuh dan bahkan putus diantaranya?\u00a0 Hal tersebut karena tidak adanya backbone yang menaungi semua yaitu persamaan mindset.\u00a0 Sehingga jelaslah bahwa mindset menduduki nomor satu dalam prasyarat pelaksanaan MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi) Republik Indonesia dapat berjalan dengan mulus laksana arus lalu lintas tol dalam kota pukul 2 dini hari.<\/p>\n<p>Bagaimanakah caranya mendapatkan persamaan mindset tersebut, dapat digunakan metode pendidikan bahwa kita ini senasib sependeritaan dan mempunyai common enemies.\u00a0 Seperti alasan bersatunya The Avengers dalam film mereka yang berjudul sama.<\/p>\n<p>Apa dan siapakah musuh bersama kita itu?\u00a0 Dapatlah kita tunjuk, misalnya, kebosanan kita akan harga tinggi akibat high cost economy sebagai akibat tidak adanya efisiensi dalam distribusi.\u00a0 Namun saya lebih suka menyebutkan\u00a0 contoh, misalnya produk impor untuk barang sejenis yang dapat diproduksi di dalam negeri.\u00a0\u00a0 Sadarkah kita jika ada 1 (satu) produk impor sejenis yang laku terjual maka aka nada 1 (satu) produk lokal yang tidak laku terjual?\u00a0 Tentunya contoh dengan memakai produk lokal dapatlah dimintakan kepada para pemimpin kita agar terjadi proses benchmarking dan duplikasi<\/p>\n<p>Apabila sudah menyebar merata, dapatlah dikatakan bahwa bangsa dan negeri ini sudah gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.\u00a0 Bebas dari radikalisme dan vandalisme.<\/p>\n<p>Salam Logistik dan Supply Chain&#8230;!<\/p>\n<p>(Didiet Rachmat Hidayat\/IK\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SOEMPAH PEMOEDA Pertama : &#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA Kedua : &#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA Ketiga : &#8211; KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA Djakarta, 28 Oktober 1928 (The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Quality) Hampir semua bangsa Indonesia mengenal teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan diWaltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 &#8211; 28 Oktober 1928. Teks [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4539,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4538"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4538"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4538\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27045,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4538\/revisions\/27045"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4539"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}