{"id":437,"date":"2013-07-09T13:59:01","date_gmt":"2013-07-09T06:59:01","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=437"},"modified":"2017-05-30T10:26:18","modified_gmt":"2017-05-30T03:26:18","slug":"bagaimana-meningkatkan-budaya-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/09\/bagaimana-meningkatkan-budaya-perusahaan\/","title":{"rendered":"Bagaimana Meningkatkan Budaya Perusahaan?"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Budaya perusahaan yang positif dapat mempengaruhi banyak hal :\u00a0 moral yang lebih baik, kekurangan omset\u00a0 ,\u00a0 tingginya\u00a0 tingkat absensi,\u00a0 besarnya efisiensi, dan kurangnya inovasi.\u00a0 Di dalam perusahaan Anda\u00a0 terdapat\u00a0 apa yang namanya budaya perusahaan . Yang patut dipertanyakan, apakah budaya\u00a0 perusahaan dalam perusahaan Anda\u00a0 dapat diandalkan\u00a0 dalam arti budaya perusahaan dapat bekerja sama di dalam mendukung pencapaian target perusahaan. Atau\u00a0 sebaliknya budaya perusahaan ternyata berlawanan dengan tujuan perusahaan.<\/p>\n<p>Budaya perusahaan\u00a0 adalah kumpulan sikap-sikap, pengalaman dan nilai-nilai yang memandu cara karyawan berperilaku. Bahkan suatu bisnis berjalan dimulai dengan\u00a0 memiliki budaya perusahaan, namun dalam pelaksanaannya ada 3 group manager yang\u00a0 yang berbeda dalam cara menangani budaya perusahaan\u00a0 tergantung dari asal dekade pembangunan, yaitu:\u00a0 group\u00a0 pertama, yang biasanya terlibat dalam bisnis manufaktur tradisional \u2013 biasanya yang termasuk dalam\u00a0 industry perakitan. Mereka mengabaikan pentingnya budaya perusahaan dan lebih banyak\u00a0 berupaya\u00a0 dalam menyempurnakan efisiensi operasi mereka. Mereka yang berada di group kedua mengakui pentingnya budaya perusahaan, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mengembangkan atau meningkatkan itu. Kadang-kadang mereka overload dalam tugasnya\u00a0 dan tidak punya waktu untuk sisi &#8220;soft&#8221; dari bisnis. Di lain waktu, mereka memiliki waktu dan motivasi tetapi tidak tahu apa yang harus mengambil arah, atau mereka menganggap bahwa budaya akan mengurus\u00a0 dirinya sendiri. Group ketiga,\u00a0\u00a0 termasuk manajer yang tidak hanya percaya bahwa budaya perusahaan adalah penting dan membutuhkan waktu untuk menciptakan dan memelihara budaya dalam bisnis namun\u00a0 mereka juga memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk memelihara budaya perusahaan\u00a0 secara sehat.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/mkt-4.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-12995\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2013\/03\/mkt-4.jpg\" alt=\"mkt 4\" width=\"284\" height=\"177\" \/><\/a><br \/>\nDari pernyataan di atas maka dapat disimpulkan\u00a0 bahwa dua bagian yang pertama merupakan jenis perusahaan yang\u00a0 tidak memiliki budaya perusahaan sedangkan bagian yang ketiga\u00a0 merupakan perusahaan yang menikmati adanya perusahaan yang sehat karena ada budaya perusahaan. Apakah ada yang bisa mengatakan mana yang paling benar dari ketiganya?\u00a0 Yang tidak dapat dipungkiri bahwa dimana ada orang bekerja, maka biasanya disitu ada budaya yang dianut.<\/p>\n<p>Pertanyaannya adalah, apakah bedanya perusahaan yang punya budaya dengan yang tidak ada budaya? Hampir setiap pengamat perilaku organisasi selama tiga dekade terakhir telah menjawab pertanyaan ini secara\u00a0 afirmatif. Budaya yang sehat berarti moral yang lebih baik,\u00a0 omset kurang dan absensi menurun, efisiensi yang lebih besar, lebih banyak inovasi dan keuntungan yang lebih besar.<\/p>\n<p>Hal yang di timbulkan\u00a0 dari kenyataan bahwa salah satu keinginan dasar karyawan (untuk semua umat manusia) adalah berkorelasi ke hasil keseluruhan yang lebih besar.\u00a0 Dengan memiliki budaya yang sehat, maka ada keinginan dari karyawn yang mendorong mereka untuk membangun dan memelihara hubungan antara\u00a0 karyawan dan organisasi mereka.<\/p>\n<p>Perusahaan-perusahaan yang\u00a0\u00a0 tidak berusaha untuk membangun budaya perusahaan\u00a0 berisiko mengembangkan budaya\u00a0 &#8220;Aku tidak peduli&#8221; .\u00a0 Yang ada adalah\u00a0 karyawan yang\u00a0 tidak memiliki cara untuk\u00a0 memperoleh\u00a0 tujuan yang lebih besar dalam organisasi, tidak ada cara untuk mengidentifikasi , tidak ada yang memberikan makna kerja lebih besar dari produksi. Perusahaan yang\u00a0 memiliki budaya fokus\u00a0 pada hasil kuantitatif, seperti efisiensi operasional, akan\u00a0 memiliki keberanian untuk mengambil risiko yang lebih besar. Mereka dengan mudah dapat lulus dari budaya yang sederhana\u00a0 yang seolah-olah mengatakan &#8220;Aku tidak peduli&#8221; untuk salah satu hal\u00a0 dan\u00a0 mengatakan, &#8220;Saya lebih peduli dengan angka-angka daripada aku peduli tentang Anda, karyawan.&#8221; Tidak mengherankan, perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan memotivasi karyawan dan kesulitan.<\/p>\n<p>Yang termasuk dalam manajer di grup\u00a0 ketiga, merupakan grup yang sukses dalam menciptakan &#8220;Saya peduli&#8221; budaya perusahaan,\u00a0 sehingga\u00a0 dalam membangun hubungan diantara karyawan berpatokan\u00a0 setidaknya dalam\u00a0 lima cara, yaitu:<\/p>\n<p>Nilai<\/p>\n<p>Budaya\u00a0 perusahaan sukses\u00a0 dimana terdapat\u00a0 pernyataan yang jelas tentang arti\u00a0 nilai-nilai inti organisasi . Mereka\u00a0 memiliki kejelasan\u00a0 tentang apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka percaya, siapa\u00a0 yang mereka layani dan untuk apa yang mereka berusaha untuk menjadi.<\/p>\n<p>Tujuan<\/p>\n<p>Budaya sukses\u00a0 memiliki\u00a0 pernyataan\u00a0 target ke arah mana tujuan perusahaan . Karyawan ingin menjadi bagian dari sebuah organisasi yang bergerak maju\u00a0 akan\u00a0 menghargai dan mengetahui bagaimana upaya\u00a0 yang harus dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.<\/p>\n<p>Konsistensi<\/p>\n<p>Budaya sukses konsisten. Ini bukan untuk mengatakan bahwa mereka statis, tentu tujuan adalah\u00a0 berubah secara berkala untuk mencerminkan perubahan suatu kondisi. Tapi mereka melakukannya dengan cara yang dapat diprediksi, sebagai hasil dari sesi perencanaan tahunan, misalnya.<\/p>\n<p>Komunikasi<\/p>\n<p>Budaya sukses berkomunikasi terus menerus dengan\u00a0 efektif. Karyawan tidak pernah terkejut, terutama oleh berita buruk karena proses komunikasi transparans. Ketidakpuasan dapat dibawa ke tempat terbuka dan dijinakkan sebelum kerusakan berakibat secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Perayaan \/ Celebration<\/p>\n<p>Budaya sukses merayakan suatu prestasi. Mereka menciptakan pahlawan dan memastikan bahwa semua orang tahu tentang perbuatan mereka. Mereka juga menerima kegagalan, sampai titik tertentu. Karyawan tidak bisa diharapkan untuk mengambil risiko\u00a0 untuk mencapai hal-hal besar jika mereka takut bahwa pekerjaan mereka mungkin akan hilang segera.<\/p>\n<p>Ke lima cara di atas kalau dimiliki oleh satu perusahaan maka akan menjadikan suatu perusahaan sehat dan teratur di dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Semua terarah untuk satu pencapaian tujuan, yang dilakukan dengan cara terencana, baik dan\u00a0 dilakukan oleh semua karyawan.<\/p>\n<p>(Palimirma\/IC\/BL)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Budaya perusahaan yang positif dapat mempengaruhi banyak hal :\u00a0 moral yang lebih baik, kekurangan omset\u00a0 ,\u00a0 tingginya\u00a0 tingkat absensi,\u00a0 besarnya efisiensi, dan kurangnya inovasi.\u00a0 Di dalam perusahaan Anda\u00a0 terdapat\u00a0 apa yang namanya budaya perusahaan . Yang patut dipertanyakan, apakah budaya\u00a0 perusahaan dalam perusahaan Anda\u00a0 dapat diandalkan\u00a0 dalam arti budaya perusahaan dapat bekerja sama di dalam mendukung pencapaian target perusahaan. Atau\u00a0 sebaliknya budaya perusahaan ternyata berlawanan dengan tujuan perusahaan. Budaya perusahaan\u00a0 adalah kumpulan sikap-sikap, pengalaman dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":86813,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[60],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=437"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":161253,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/437\/revisions\/161253"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86813"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}