{"id":4349,"date":"2012-12-25T01:58:17","date_gmt":"2012-12-24T18:58:17","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=4349"},"modified":"2014-03-08T11:04:10","modified_gmt":"2014-03-08T04:04:10","slug":"return-back-to-the-market","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2012\/12\/25\/return-back-to-the-market\/","title":{"rendered":"Return Back To The Market"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Sebuah produk pernah diluncurkan di pasaran dan berhasil menembus pasar dan mendapatkan respon yang baik dari para customernya.\u00a0 Katakanlah produk \u201cA\u201d, sudah mulai dikenal oleh masyarakat dan punya potensi pasar tersendiri yang cukup bagus.\u00a0 Namun, sangat disayangkan karena satu dan lain hal, produk tersebut meredup dipasaran bukan karena tidak ada customernya melainkan factor internal dari perusahaan produk tersebut dan akhirnya tenggelam, lenyap seperti tanpa bekas dan tak bersisa.\u00a0 Masyarakatpun dengan cepat melupakannya karena begitu banyaknya promosi menarik dari produk sejenis yang sedang terjun di pasaran.<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Berjalannya waktu, sang pengusaha ingin menghidupkan kembali kejayaan daripada produk \u201cA\u201d tersebut seperti di masa lalu sementara dahulu hanya ada 1 atau 2 produk sejenis yang menjadi competitornya dan kenyataan sekarang adalah ada lebih dari 10 produk sejenis yang akan menjadi competitornya.\u00a0 Pertanyaannya adalah mampukan kejayaan produk \u201cA\u201d terulang kembali? Dapatkan dia merebut kembali hati customernya dan menarik kembali loyalitas yang pernah dia kecap dulu??<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jawabannya pasti bisa!! Sepanjang ada strategi dan kegigihan untuk meraihnya kembali.\u00a0 Perjuangan yang harus di hadapi produk \u201cA\u201d tersebut pasti berlipat kali ganda lebih keras daripada dahulu yang pernah dia hadapi.\u00a0 Permasalahannya adalah maukah memperjuangkannya kembali dan berapa besar kekuatannya untuk menembus pasar kembali??<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tidak ada keberhasilan tanpa ada perjuangan dan pengorbanan.\u00a0 Untuk itu semua dapat berhasil, harus ada startegi yang dijalankan karena seperti menghadapi medan perang.\u00a0 Jangan pernah mengumandangkan peperangan jika belum ada persiapan apa apa di dalam diri sendiri.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hal pertama yang dapat dipersiapkan sebelum peluncuran kembali produk \u201cA\u201d tersebut adalah:<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>1.\u00a0\u00a0\u00a0 Lakukan Competitor Analysis<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Merupakan strategi sangat penting dalam proses perencanaan marketing.\u00a0 Kompetitor yang kuat dapat menghambat keberhasilan bisnis bahkan membuat bisnis menjadi gagal.\u00a0 Competitor Analysis sangat membantu mengantisipasi tindakan competitornya bahkan menggali kelemahannya, mengenali keunikannya.\u00a0 Hal ini merupakan pekerjaan yang terus menerus berlangsung dan competitor yang sukses adalah competitor yang terus bergerak membangun strategi marketingnya dalam rangka mengikuti perubahan pasar.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>2.\u00a0\u00a0\u00a0 Market Entry<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div>Sebelum memasuki pasaran, hal yang perlu dipersiapkan benar adalah:<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>a.\u00a0\u00a0\u00a0 Kenali, siapa competitor Anda<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perusahaan harus mengenali dengan competitor mana yang tepatnya dapat berdampak pada produk yang dipasarkan.\u00a0 Ada banyak produk sejenis dipasaran namun jika diteliti lebih seksama maka dapat diperoleh manakan yang \u201capple to apple\u201d dengan produk yang kita pasarkan sehingga sekalipun secara mess market kelihatan beragam namun kita punya kejelian di kelas manakah dan siapakan lawan kita sesungguhnya.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>b.\u00a0\u00a0\u00a0 Seberapa besar dan dominasi competitor di pasaran<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan mengetahui seberapa besar pangsa pasar potensil yang ada untuk memasarkan produk kita dan mengetahui seberapa besar share yang sudah dimiliki oleh competitor kita di pasaran, akan membuat kita benar benar tahu berapa share yang tersedia untuk kita garap yang sekiranya belum digarap oleh competitor kita.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>c.\u00a0\u00a0\u00a0 Apakah dasar pelanggan yang competitor Anda miliki<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kenali orientasi dasar pelanggan apa yang dimiliki oleh pelanggan Anda.\u00a0 Apabila orientasinya berbeda dengan Anda, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut bukan competitor Anda.\u00a0 Bisa jadi produk yang ditawarkan kelihatannya sejenis hanya berbeda kelas \/ qualitas \/ segmentasi customernya.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>d.\u00a0\u00a0\u00a0 Kenali apa yang menjadi visi, misi competitor<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan mengetahui visi, misinya maka Anda dapat melakukan tindakan analisa SWOT yang merupakan kupasan lebih detailnya sehingga Anda dapat mengenali lebih dalam lagi seberapa besar, kuat competitor Anda dan strategi menghadapinya<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Davidson dalam learnmarketing.net menyatakan bahwa sumber informasi mengenai competitor dapat dikelompokkan dalam 3 hal yaitu:<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>1.Recorded data.<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Maksudnya adalah data yang telah di publish oleh competitor kepada masyarakat dan ini dapat berupa annual report, artikel dalam surat kabar \/ majalah perihal ulasan produk competitor.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>2.Observable data.<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Data yang diperoleh melalui observasi kegiatan competitor seperti analisa strategi \u201cmarketing mix\u201d competitor, launching product dan service yang ditawarkan.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div><strong>3.Opportunistic data.<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Data yang diperoleh dari orang \u2013 orang yang telah berinteraksi secara langsung dengan competitor seperti supplier mereka, customer dan karyawan mereka bahkan ada yang melakukan\u00a0 pembajakan karyawan dari perusahaan competitor.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jadi apabila sebuah produk ingin kembali ke pasaran dan ambil kembali posisinya, hal terpenting adalah melakukan Competitor analysis yang dapat menjadi inspirasi baginya untuk mengambil tindakan satu langkah lebih maju yang inovatif dari competitornya agar kembali dapat merebut hati customernya bahkan memberikan keuntungan baik baginya dan customernya.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kerja extra keras? Sudah pasti\u2026.<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div>GO GET GOAL\u2026.!!!<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div>(ST.Hwa\/AA\/TML)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Sebuah produk pernah diluncurkan di pasaran dan berhasil menembus pasar dan mendapatkan respon yang baik dari para customernya.\u00a0 Katakanlah produk \u201cA\u201d, sudah mulai dikenal oleh masyarakat dan punya potensi pasar tersendiri yang cukup bagus.\u00a0 Namun, sangat disayangkan karena satu dan lain hal, produk tersebut meredup dipasaran bukan karena tidak ada customernya melainkan factor internal dari perusahaan produk tersebut dan akhirnya tenggelam, lenyap seperti tanpa bekas dan tak bersisa.\u00a0 Masyarakatpun dengan cepat melupakannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4350,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4349"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4349"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4349\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27487,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4349\/revisions\/27487"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4350"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}