{"id":4184,"date":"2013-03-07T08:16:19","date_gmt":"2013-03-07T01:16:19","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=4184"},"modified":"2014-03-08T11:03:19","modified_gmt":"2014-03-08T04:03:19","slug":"mengatasi-leadership-gap-dalam-organisasi-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/03\/07\/mengatasi-leadership-gap-dalam-organisasi-2\/","title":{"rendered":"Mengatasi Leadership Gap dalam Organisasi (2)"},"content":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Setidaknya terdapat tujuh kompetensi penting di masa depan, yang mengalami leadership gap paling besar. Berikut ini adalah sejumlah ide yang dapat digunakan untuk mengembangkan ketujuh kompetensi tersebut.<\/p>\n<p>Leading people<br \/>\nPemimpin ini pandai dalam memberikan pengarahan serta memotivasi orang lain. Pemimpin ini tahu benar bagaimana cara berinteraksi dengan staf yang dapat membuat mereka termotivasi. Mereka dapat mendelegasikan kepada karyawan secara efektif, membuka peluang lebih luas kepada karyawan, berlaku secara adil, dan merekrut orang yang berbakat ke dalam tim.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dtempuh untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 mengkomunikasikan perilaku dan skill tertentu yang terkait dengan mengelola orang lain. Pastikan bahwa manajer tahu dan paham peran mereka masing-masing dalam hal ini.<br \/>\n\u2022 mengukur perilaku dan skill dari pemimpin, yakni dengan menggunakan assessment yang konsisten, seperti 360 assessment.<br \/>\n\u2022 membuat program pelatihan dan assignment yang bersifat leadership development<br \/>\n\u2022 membentuk grup internal untuk melakukan forum diskusi dan sharing mengenai best practice dalam hal mengelola tim<br \/>\n\u2022 menciptakan lingkungan yang kaya akan feedback. Buat program mentoring dan train management yang dapat mendorong feedback secara efektif.<\/p>\n<p>Strategic planning<br \/>\nSkill ini meliputi menerjemahkan visi ke dalam strategi bisnis yang realistis. Mereka mengartikulasikan tujuan dan strategi jangka panjang, lalu mengembangkan rencana yang dapat menyeimbangkan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, melakukan pembaharuan terhadap rencana, serta membuat rencana contingency.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 mengkomunikasikan strategi, termasuk membicarakan faktor yang mempengaruhi strategi ini dengan tim manajemen dan lainnya<br \/>\n\u2022 memberikan pengajaran strategic skill, diantaranya strategy development, change management, hingga risk management<br \/>\n\u2022 melibatkan manajer yang muda dan punya masa depan cerah dalam pengembangan strategi<br \/>\n\u2022 ekspos para manajer terhadap skill yang dibutuhkan, misalnya dengan melakukan rotasi secara regular, sehingga lebih banyak manajer yang siap untuk posisi manajer senior<br \/>\n\u2022 dukung terjadinya learning, dengan menyelenggarakan mentoring dan coaching<\/p>\n<p>Inspiring Commitment<br \/>\nPemimpin dapat membangun komitmen dengan cara memberikan penghargaan dan reward atas pencapaian dari subordimat. Mereka tidak ragu untuk memuji di depan public, serta tahu benar mengenai apa yang dapat memotivasi orang untuk mencapai kinerja terbaik.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 mengklarifikasikan visi kepada tiap karyawan, sehingga mereka paham peran dan tanggung jawab masing-masing dalam merealisasikan visi organisasi<br \/>\n\u2022 mengkomunikasikan visi dan arahan yang jelas secara efektif juga konsisten<br \/>\n\u2022 mendorong manajer untuk menciptakan standar tinggi untuk kinerja dan kompetensi interpersonal<br \/>\n\u2022 menciptakan peluang bagi para manajer untuk memberikan penghargaan pada karyawannya secara public<\/p>\n<p>Managing change<br \/>\nSeorang pemimpin harus dapat mengembangkan strategi yang efektif dalam melakukan perubahan organisasi. Ia memandang perubahan sebagai sesuatu yang positif, melakukan perencanaan, mengatasi penolakan, beradaptasi terhadap tekanan eksternal, serta melibatkan lainnya dalam merancang dan mengimplementasikan perubahan.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 menyelenggarakan kelas, diskusi atau kursus mengenai change management<br \/>\n\u2022 mendorong manajer untuk melibatkan orang lain dalam mengambil keputusan di tengah proses perubahan organisasi<br \/>\n\u2022 menciptakan ruang bagi manajer untuk saling bertukar pikiran dan solusi<br \/>\n\u2022 menerima penolakan karyawan, dan membantu manajer untuk mengembangkan strategi dalam menghadapi penolakan tersebut<\/p>\n<p>Employee development<br \/>\nPemimpin yang memiliki skill ini dapat memberikan coaching pada karyawan untuk meningkatkan kinerja, panduan, mendorong pengembangan karir, dan memastikan bahwa karyawan paham perannya masing-masing.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 mendorong manajer untuk mendiskusikan tujuan karir dengan karyawan secara regular<br \/>\n\u2022 mengembangkan rencana suksesi<\/p>\n<p>Balancing personal life and work<br \/>\nSeorang pemimpin dengan work life balance dapat mengatur keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi, sehingga tidak ada yang terlantar diantara keduanya.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 membangun awareness mengenai personal style dan perilaku<br \/>\n\u2022 melakukan diskusi mengenai kapan, dimana dan bagaimana untuk berkata tidak<br \/>\n\u2022 mengajarkan skill organisasional dan delegasi<br \/>\n\u2022 menyelenggarakan program untuk menurunkan tingkat stress, yoga ataupun senam<br \/>\n\u2022 pertimbangkan adanya layanan on-site, seperti program day care, gym dan mengelola keuangan<br \/>\n\u2022 membuat kebijakan seperti telecommuting dan flex time, untuk membantu karyawan dalam mengelola waktunya<\/p>\n<p>Decisiveness<br \/>\nPemimpin tidak ragu dalam mengambil keputusan, dan ia dapat mengambil keputusan ketika memang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi ini adalah:<br \/>\n\u2022 membantu manajer dalam menentukan prioritas<br \/>\n\u2022 membuat proses yang dapat membantu manajer dalam memperoleh informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan<br \/>\n\u2022 membantu manajer untuk mengambil risiko yang terukur<br \/>\n\u2022 menciptakan lingkungan kerja yang lebih efisien<br \/>\n\u2022 mengembangkan criteria dan proses untuk pengambilan keputusan dalam organisasi.<\/p>\n<p>Referensi: Center of Creative Leadership (CCL)<\/p>\n<p>Rinella Putri\/RP\/TML<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Setidaknya terdapat tujuh kompetensi penting di masa depan, yang mengalami leadership gap paling besar. Berikut ini adalah sejumlah ide yang dapat digunakan untuk mengembangkan ketujuh kompetensi tersebut. Leading people Pemimpin ini pandai dalam memberikan pengarahan serta memotivasi orang lain. Pemimpin ini tahu benar bagaimana cara berinteraksi dengan staf yang dapat membuat mereka termotivasi. Mereka dapat mendelegasikan kepada karyawan secara efektif, membuka peluang lebih luas kepada karyawan, berlaku secara adil, dan merekrut orang yang berbakat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[232,61],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4184"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4184"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27055,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4184\/revisions\/27055"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}