{"id":4179,"date":"2013-03-07T08:13:38","date_gmt":"2013-03-07T08:13:38","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=4179"},"modified":"2020-03-20T15:24:31","modified_gmt":"2020-03-20T08:24:31","slug":"mengatasi-leadership-gap-dalam-organisasi-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/03\/07\/mengatasi-leadership-gap-dalam-organisasi-1\/","title":{"rendered":"Mengatasi Leadership Gap dalam Organisasi (1)"},"content":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge \u2013 Leadership) \u2013 Pemimpin dalam organisasi idealnya mempunyai kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasinya. Hanya saja, kasusnya tidak selalu seperti ini. Seringkali terjadi leadership gap, yang mengakibatkan kompetensi pemimpin saat ini jauh dari apa yang diharapkan pada saat ini maupun masa depan.<\/p>\n<p>Center for Creative Leadership (CCL) melakukan survey terhadap 2,200 pemimpin dari 15 organisasi di tiga negara antara tahun 1006 hingga 2008. Survei ini menghasilkan sejumlah temuan menarik mengenai kepemimpinan. Tujuan dari penelitian CCL ini adalah untuk menentukan apakah level dan skill kepemimpinan saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan organisasi.<\/p>\n<p>Penelitian ini berusaha untuk menjawab sejumlah pertanyaan berikut:<br \/>\n\u2022 Skill dan perspektif kepemimpinan apa yang menjadi kunci kesuksesan saat ini dan di masa depan?<br \/>\n\u2022 Seberapa kuat skill dan perspektif penting yang dimiliki pemimpin saat ini?<br \/>\n\u2022 Seberapa selaras kekuatan kepemimpinan saat ini dengan apa yang akan menjadi skill dan perspektif terpenting di masa depan?<\/p>\n<p>Intinya, penelitian ini membahas mengenai leadership gap. Leadership gap adalah gap yang terjadi antara skill dan perspektif yang dibutuhkan organisasi, dibandingkan dengan skill dan perspektif kepemimpinan saat ini. Gap ini dapat disebabkan oleh dua hal, yakni ketika pemimpin sudah berfokus pada kompetensi yang tepat, namun belum menguasainya; atau ketika pemimpin tidak berfokus pada kompetensi\/skill yang tepat.<\/p>\n<p>Salah satu hasil dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tujuh kompetensi yang paling vital dalam kesuksesan, baik di masa kini maupun masa depan.<\/p>\n<p>1. Leading people, yakni memberikan arahan serta memotivasi orang<br \/>\n2. Strategic planning, yakni menerjemahkan visi organisasi ke dalam strategi bisnis<br \/>\n3. Managing change, yakni menggunakan strategi yang efektif dalam menciptakan perubahan organisasional.<br \/>\n4. Inspiring commitment, yakni menghargai dan memberikan reward terhadap pencapaian karyawan<br \/>\n5. Resourcefulness, yakni bekerja secara efektif dengan manajemen puncak<br \/>\n6. Doing whatever it takes, yakni mau melakukan pengorbanan meskipun dalam kondisi yang kurang baik<br \/>\n7. Being a quick learner, yakni dapat cepat mempelajari pengetahuan teknis maupun bisnis.<\/p>\n<p>Pada masa kini dan masa depan, kompetensi-kompetensi tersebutlah yang paling penting untuk dimiliki pemimpin organiasasi. Oleh karena itu, bagi mereka yang punya kekuatan dalam kompetensi tersebut akan tetap dibutuhkan oleh organisasi di masa depan. Namun, bagi yang belum menguasai kompetensi tersebut maka harus belajar lebih banyak lagi, supaya mereka punya kompetensi yang relevan dengan kebutuhan organisasi.<br \/>\nBerdasarkan penelitian, ternyata level kepemimpinan saat ini masih kurang kuat dalam menjalankan peran pemimpin secara efektif. Hal ini terjadi di level organisasi, industri, bahkan negara yang disurvei. CCL menyebutnya sebagai `current leadership deficit`.<\/p>\n<p>Level kompetensi sendiri dibagi menjadi empat area, yang menggambarkan level kekuatan saat ini dibandingkan dengan tingkat kepentingannya.<br \/>\n1. Over-investment: kompetensi yang merupakan kekuatan, namun tidak dianggap penting<br \/>\n\u2022 membangun dan memperbaiki hubungan<br \/>\n\u2022 compassion (rasa kemanusiaan)<br \/>\n\u2022 dapat beradaptasi terhadap budaya<br \/>\n\u2022 menghargai perbedaan individual<br \/>\n\u2022 pengendalian diri<br \/>\n\u2022 self-awareness<\/p>\n<p>2. Reserves: kompetensi yang bukan merupakan kekuatan dan tidak dianggap penting<br \/>\n\u2022 mengkonfrontasi orang lain<br \/>\n\u2022 membuat orang lain nyaman<br \/>\n\u2022 mengelola karir<\/p>\n<p>3. On-Track: kompetensi yang merupakan kekuatan, dan dianggap penting<br \/>\n\u2022 cepat belajar<br \/>\n\u2022 resourcefulness<br \/>\n\u2022 participative management<br \/>\n\u2022 doing whatever it takes<\/p>\n<p>4. Key Gaps: kompetensi yang bukan merupakan kekuatan, namun penting<br \/>\n\u2022 memimpin orang lain<br \/>\n\u2022 strategic planning<br \/>\n\u2022 menginspirasi komitmen<br \/>\n\u2022 mengelola perubahan<br \/>\n\u2022 employee development<br \/>\n\u2022 menjaga keseimbangan work-life balance<br \/>\n\u2022 mengambil keputusan<br \/>\n(Bersambung)<\/p>\n<p>Referensi: Center of Creative Leadership (CCL)<\/p>\n<p>Rinella Putri\/RP\/TML<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge \u2013 Leadership) \u2013 Pemimpin dalam organisasi idealnya mempunyai kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasinya. Hanya saja, kasusnya tidak selalu seperti ini. Seringkali terjadi leadership gap, yang mengakibatkan kompetensi pemimpin saat ini jauh dari apa yang diharapkan pada saat ini maupun masa depan. Center for Creative Leadership (CCL) melakukan survey terhadap 2,200 pemimpin dari 15 organisasi di tiga negara antara tahun 1006 hingga 2008. Survei ini menghasilkan sejumlah temuan menarik mengenai kepemimpinan. Tujuan dari penelitian CCL ini adalah untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":101487,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[232,231],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4179"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4179"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4179\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27056,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4179\/revisions\/27056"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101487"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4179"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4179"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4179"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}