{"id":3993,"date":"2013-08-15T14:08:22","date_gmt":"2013-08-15T07:08:22","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=3993"},"modified":"2017-05-30T10:28:13","modified_gmt":"2017-05-30T03:28:13","slug":"budaya-perusahaan-alat-ampuh-mencapai-visi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/08\/15\/budaya-perusahaan-alat-ampuh-mencapai-visi\/","title":{"rendered":"Budaya Perusahaan \u2013 Alat Ampuh Mencapai Visi"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; HR) Saya bekerja\u00a0 di sebuah bank swasta nasional sebelum akhirnya saya menjadi konsultan manajemen. Tanpa terasa lembaga yang <i>highly regulated<\/i>ini membentuk saya menjadi orang yang hati-hati dan sangat <i>comply <\/i>terhadap peraturan. Rekan-rekan saya yang berkecimpung di bisnis non perbankan menilai saya sebagai orang yang terlalu hati-hati dan sangat prosedural.<\/p>\n<p>Mengapa saya terbentuk menjadi seperti ini? Salah satu alasan terkuat adalah karena budaya perusahaan atau budaya kerja bank tempat saya bekerja memang ingin mencetak orang-orang seperti ini. Bisnis perbankan sangat mengandalkan <i>trust<\/i> atau kepercayaan nasabah, sehingga kekuatan utama adalah pada tenaga kerjanya, yang harus merupakan orang-orang yang mempunyai integritas tinggi. Hal ini dipersiapkan benar-benar sejak seseorang direkrut setelah melalui serangkaian proses <i>assessment<\/i> dan terus diingatkan bahwa integritas dan <i>prudent <\/i>atau hati-hati merupakan hal yang sangat diutamakan di bank. Sanksi terhadap pelanggaran nilai-nilai ini benar-benar diterapkan dengan ketat. Pengaruh nilai-nilai ini terhadap pegawai dan seluruh jajaran manajemen sangat kuat. Dari contoh ini kita bisa melihat pentingnya budaya perusahaan, yang merupakan turunan dari visi dan misi perusahaan itu diterapkan, apabila perusahaan menginginkan orang-orangnya terbentuk sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan untuk mencapai visi.<\/p>\n<p><b>Visi \u2013 masa depan sebuah perusahaan<\/b><\/p>\n<p><i>Visison is a short and inspiring statement of what your organization intends to become and to achieve at some point in the future.<\/i><br \/>\nTony Buzan dalam bukunya <i>The Power of Spiritual Intelegence,<\/i> mendefinisikan visi sebagai kemampuan berpikir atau merencanakan masa depan dengan bijak dan imajinatif, menggunakan gambaran mental tentang situasi yang dapat dan mungkin terjadi di masa mendatang. Jadi visi perusahaan merupakan keinginan perusahaan yang bersifat ideal yang dirumuskan secara seksama, yang menentukan arah atau keadaan masa depan.<br \/>\nVisi yang benar merupakan suatu gagasan yang sangat ampuh yang dapat membuat keberhasilan awal dengan memadukan segala sumberdaya yang ada untuk mewujudkan visi tersebut. Sehingga memiliki daya tarik dan menyebabkan orang lain membuat komitmen, membangkitkan tenaga dan semangat, mampu menciptakan makna bagi kehidupan perusahaan, mampu menciptakan standar yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan perusahaan, dapat digunakan orang luar (pelanggan) untuk mengukur manfaat perusahaan baginya, menjadi jembatan utama antara apa yang dikerjakan perusahaan sekarang dengan apa yang diinginkan perusahaan di masa depan, dan tentu saja landasan untuk merumuskan misi perusahaan.<\/p>\n<p><b>Manusia \u2013 modal utama mencapai visi<\/b><\/p>\n<p>Sumber daya utama untuk mencapai visi tidak ada yang lebih penting dari sumber daya manusia. Itulah sebabnya untuk mencapai visi perusahaan diperlukan orang-orang yang berkomitmen tinggi untuk melaksanakan visi tersebut.<br \/>\nUntuk itu diperlukan upaya terus-menerus agar visi perusahaan yang diterjemahkan ke dalam nilai-nilai budaya perusahaan benar-benar terimplementasikan dan bahkan menjadi jiwa bagi seluruh pegawai yang ada di perusahaan.<\/p>\n<p><b>Bagaimana budaya perusahaan mampu memberikan kontribusi meraih visi?<\/b><\/p>\n<p>\u2022 Atasan sebagai panutan<br \/>\nUntuk mendapatkan budaya kerja perusahaan yang baik, maka atasan sebagai tokoh panutan merupakan hal yang tak dapat ditawar lagi. Sebagai pimpinan, maka pimpinan harus menjadi panutan, yang dapat dimulai dari hal-hal kelihatannya sepele, seperti selalu tersenyum ramah dan menyapa orang lain lebih dulu. Kebiasaan ini lama kelamaan diperhatikan dan diikuti oleh para karyawan di bawah supervisinya, minimal mereka akan melihat contoh yang baik dan membicarakannya kalaupun belum mau melakukannya. Atasan saya adalah orang yang sangat ramah dan humble, yang selalu mengingatkan kepada anak buah untuk selalu ramah dan siap membantu orang lain. Dia benar-benar konsisten melakukannya, sampai menjadi pembicaraan para sopir di kantor, kata mereka paling gampang mengenali atasan saya yaitu yang paling murah senyum. Jadi para pegawai tidak bisa berdalih apa-apa untuk tidak mencontoh melakukannya. Sangat besar peran atasan sebagai contoh pelaku nilai-nilai budaya perusahaan.<\/p>\n<p>\u2022 Sosialisasi seluruh jajaran \u2013 periodik<br \/>\nBerbagai program sosialisasi harus dilakukan karena mensosialisaikan budaya perlu waktu panjang, tidak bisa instant. Apalagi untuk pegawai yang pernah bekerja di tempat lain yang memiliki budaya kerja yang berbeda. Kembali contohnya di bank tempat saya pernah bekerja, dalam satu periode para senior manajemen adalah orang-orang yang sebelumnya pimpinan di bank masing-masing, sehingga semua punya \u201cbendera\u201d yang ingin dikibarkan di tempat yang baru. Semula rencananya supaya ada sinergi yang kuat justru menurunkan produktivitas. Dalam kondisi seperti ini diperlukan budaya perusahaan yang kuat yang selalu disosialisasikan sehingga membantu bounding team dengan lebih cepat.<\/p>\n<p>\u2022 Terintegrasi dalam seluruh aspek kegiatan di perusahaan<br \/>\nTerkait dengan atasan harus menjadi panutan, khususnya di Negara kita yang budaya paternalistiknya masih sangat dominan, maka budaya perusahaan harus diterapkan dan melekat pada semua pegawai dari level senior management sampai dengan officer yang pada lini terbawah. Bahkan apabila perusahaan menggunakan tenaga outsourcing maka pegawai outsourcing pun harus mengikuti budaya perusahaan yang hidup di perusahaan tersebut. Bahkan dalam perjanjian kerjasama dengan pihak-pihak lain yang akan melibatkan dana, waktu atau sumberdaya yang besar dan proyek berlangsung jangka panjang, maka pihak vendor pun harus memahami dan menyesuaikan budaya perusahaan dari clientnya.<\/p>\n<p>\u2022 Perlu pengukuran sebagai dasar evaluasi<br \/>\nNilai-nilai budaya perusahaan tentu merupakan nilai-nilai yang bagus yang mengarah kepada pencapaian visi dan bisa diterima oleh semua orang. Tetapi berjalannya waktu harus kembali di review pelaksanaannya. Harus dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan nilai-nilai tersebut pada seluruh jajaran. Upaya ini tidak mudah karena memerlukan waktu dan perhatian khusus, bahkan mungkin biaya yang tinggi, sementara tidak langsung kelihatan dampaknya terhadap profit perusahaan sehingga terkadang tidak diprioritaskan. Namun hal ini sangat penting karena tidak hanya lingkungan persaingan yang cepat berubah, tetapi internal perusahaanpun mengalami perubahan.<\/p>\n<p>\u2022 Mengikuti perkembangan dan tuntutan perkembangan organisasi dan lingkungan<br \/>\nApakah nilai-nilai budaya perusahaan anda semuanya masih mendukung dan sesuai dengan kondisi? Hasil pengukuran yang disebutkan di atas, yang dilakukan untuk mengevaluasi, sekaligus dapat memberikan peluang untuk munculnya rumusan nilai-nilai baru yang lebih tepat dengan keadaan sekarang. Misalnya dari sebuah nilai yang menyatakan bahwa setiap pegawai harus \u201ctanggap dengan keadaan yang terjadi disekitarnya\u201d, ternyata sudah kurang powerful untuk mengatasi permasalahan perusahaan yang cukup banyak dan pelik. Maka bisa saja diarahkan kepada nilai yang lebih kuat misalnya <i>\u201cproactive\u201d<\/i>, artinya tidak hanya tanggap terhadap apa yang terjadi tetapi memang harus selalu aktif \u2018menjemput bola\u2019 terhadap perkembangan kondisi dilingkungan pekerjaannya sehari-hari.<\/p>\n<p>Kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai baik dalam satu perusahaan dan contoh dari sang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadi budaya yang diteruskan secara turun-temurun dan akan mengakar menjadi semakin kuat. Budaya perusahaan yang kuat akan memberikan kontribusi sangat besar terhadap pencapaian visi perusahaan dan menjadi pengikat yang kuat untuk mempertahankan pegawai agar tetap setia bekerja di perusahaan.<\/p>\n<p>(Emy Trimahanani\/IC\/BL)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; HR) Saya bekerja\u00a0 di sebuah bank swasta nasional sebelum akhirnya saya menjadi konsultan manajemen. Tanpa terasa lembaga yang highly regulatedini membentuk saya menjadi orang yang hati-hati dan sangat comply terhadap peraturan. Rekan-rekan saya yang berkecimpung di bisnis non perbankan menilai saya sebagai orang yang terlalu hati-hati dan sangat prosedural. Mengapa saya terbentuk menjadi seperti ini? Salah satu alasan terkuat adalah karena budaya perusahaan atau budaya kerja bank tempat saya bekerja memang ingin mencetak orang-orang seperti ini. Bisnis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":103271,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[60],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3993"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3993"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3993\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":161257,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3993\/revisions\/161257"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103271"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}