{"id":3660,"date":"2007-09-14T13:42:49","date_gmt":"2007-09-14T13:42:49","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=3660"},"modified":"2017-05-02T09:22:47","modified_gmt":"2017-05-02T02:22:47","slug":"bank-niaga-model-learning-organization","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2007\/09\/14\/bank-niaga-model-learning-organization\/","title":{"rendered":"Bank Niaga : Model Learning Organization"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Human Resources) &#8211; Bank Niaga, sejak awal berdirinya telah mengalami banyak perubahan. Jika dulu strategi Bank Niaga adalah menjadi bank korporat, maka sekarang strategi mereka adalah menjadi bank retail terkemuka. Transformasi ini dilakukan setelah mengkaji strategi, peta persaingan, peluang pasar dan infrastruktur dari Bank Niaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 90-an Bank Niaga memiliki visi yaitu untuk memainkan peran lebih besar dalam perkembangan nasional. Segmen utamanya antara lain adalah korporat, individu dan investment bank. Saat itu, produk dan layanan yang diandalkan adalah kredit sindikasi, trade finance (pendanaan dagang) dan manajemen kas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian pada tahun 2003 Bank Niaga menetapkan visi 2007 yang baru yaitu menjadi satu dari lima bank terbesar di Indonesia. Sementara itu misinya adalah bertekad membangun bank retail utama yang memegan teguh komitmen untuk memberikan kualitas dan nilai tambah bagi stakeholder.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak 2003, Bank Niaga berfokus pada diversifikasi portfolio pinjaman, baik untuk konsumsi, bisnis maupun korporat. Produk dan jasa yang ditawarkan bank Niaga antara lain adalah rencana pensiun, tabungan pendidikan, kredit usaha menengah hingga tinggi serta kredit usaha kecil dan menengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah melakukan pengkajian kembali secara menyeluruh terhadap peta persaingan, peluang pasar, serta infrastruktur yang dimiliki, Bank Niaga menetapkan rencana strategi yang baru yaitu Visi 2010 yang menetapkan Visi Bank Niaga untuk menjadi 1 dari 5 bank terbesar yang berfokus pada tiga segmen bisnis yaitu: Kredit Pemilikan Rumah (KPR), bisnis menengah, dan nasabah kelas menengah ke atas. Pengkajian ulang pada strategi persaingan Bank Niaga ini dilakukan untuk memastikan keunggulan strategi Bank Niaga dalam menghadapi persaingan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Produk dan jasa yang ditawarkan antara lain adalah pinjaman multi guna, pinjaman kendaraan, kredit kepemilikan rumah, kredit usaha kecil dan menengah serta tabungan \u2018X-Tra\u2019.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank Niaga yang sekarang menjadi bank terbesar ketujuh di Indonesia dalam perjalanannya selalu menerapkan proses learning sehingga mereka bisa terus melakukan peningkatan dan menerapkan perubahan yang dibutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam upayanya menjadi learning organization, Bank Niaga membudayakan suatu learning culture yang merupakan suatu iklim dalam organisasi untuk dapat menumbuhkan learning dalam rangka komitmennya untuk terus mengembangkan potensi dan kompetensi karyawannya seoptimal mugkin melalui berbagai program. Learning culture ini memiliki fondasi berupa tiga komponen utama, yaitu Process, Tools dan People.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Process adalah infrastruktur, perkembangan dan proses manajemen yang ada di organisasi. Langkah-langkah learning yang dilakukan antara lain:<br \/>\n\u2022 Melakukan riset pemasaran menggunakan tenaga profesional<br \/>\n\u2022 Membentuk suatu <i>risk committe<\/i> untuk meningkatkan praktik manajemen resiko<br \/>\n\u2022 Mengklasifikasikan staf frontliner untuk memastikan kualitas pelayanan yang standar di semua cabang<br \/>\n\u2022 Menyediakan akses luas kepada kebijakan perusahaan melalui manual dan intranet<br \/>\n\u2022 Mengadakan event yang melibatkan para stakeholder, misalnya pelanggan, vendor dan karyawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu Tools adalah metode yang membantu individu dan kelompok dalam mengalami suatu learning. Tools tersebut antara lain:<br \/>\n\u2022 Menjalin hubungan jangka panjang dengan pihak eksternal<br \/>\n\u2022 Mengoptimalkan teknologi informasi sebagai kontributor bisnis<br \/>\n\u2022 Menyediakan berbagai learning program yang didukung oleh berbagai instruktur yang berpengalaman<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komponen terakhir yaitu People. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:<br \/>\n\u2022 memastikan iklim kerja yang kondusif dengan mengadakan evaluasi tahunan<br \/>\n\u2022 melakukan pengukuran komprehensif terhadap leadership dan kompetensi<br \/>\n\u2022 mengoptimalkan peran manajer lini sebagai Manajer SDM, terutama dalam hal <i>coaching dan empowerment<\/i><br \/>\n\u2022 menggunakan pendekatan bottom-up dalam suatu proyek, sehingga berdasarkan pada inovasi dari individu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga, ketiga komponen utama tersebut secara bersama-sama saling mendukung dalam membentuk suatu learning culture. Learning culture itu sendiri akan terus berkembang hingga Bank Niaga menjadi <i>sustainable learning organization.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Rinella Putri\/MV\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Human Resources) &#8211; Bank Niaga, sejak awal berdirinya telah mengalami banyak perubahan. Jika dulu strategi Bank Niaga adalah menjadi bank korporat, maka sekarang strategi mereka adalah menjadi bank retail terkemuka. Transformasi ini dilakukan setelah mengkaji strategi, peta persaingan, peluang pasar dan infrastruktur dari Bank Niaga. Pada tahun 90-an Bank Niaga memiliki visi yaitu untuk memainkan peran lebih besar dalam perkembangan nasional. Segmen utamanya antara lain adalah korporat, individu dan investment bank. Saat itu, produk dan layanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":160839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3660"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3660"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3660\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":160841,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3660\/revisions\/160841"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/160839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}