{"id":34644,"date":"2014-05-12T18:05:49","date_gmt":"2014-05-12T11:05:49","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=34644"},"modified":"2014-05-12T18:48:45","modified_gmt":"2014-05-12T11:48:45","slug":"takdir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2014\/05\/12\/takdir\/","title":{"rendered":"Takdir.."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Ketika usiaku sudah menjelang 60 tahun maka aku memandang kepada sebuah takdir yang paling menyedihkan<br \/>\nSiapakah yang lebih dulu meninggalkan..<br \/>\nAkukah meninggalkan suamiku? Atau suamiku meninggalkan aku?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Takdir&#8230;.<br \/>\nDiantara kita pasti akan berpisah cepat atau lambat, besok atau tahun di depan, tidak ada yang tau..<br \/>\nKematian adalah jawaban perpisahan yang tiada mungkin terelakkan , sebuah kenyataan yang ada didepan yang membuat pisau seperti membelah jantung dan meneteskan darah kepedihan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Takdir&#8230;<br \/>\nSesuatu yang tak dapat kurobek dari sebuah perjalanan hidup yang harus kulalui<br \/>\nEntah aku meninggalkan suami yang adalah sahabatku, atau dia yang meninggalkan aku yang sahabatnya, aku tidak tau siapakah yang akan mendahului memutus perjalanan kebersamaan ini..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidup seperti menanti sebuah kematian ,dan ketika usia memasuki 60 tahun, maka kita sudah harus tahu bahwa sebuah kapal sedang menuju kepada kita untuk menjemput kita dan memaksa kita untuk membawa kita pergi berlayar..<br \/>\nDan.. kita sebenarnya sedang ada di dermaga penantian tampa kita sadari<br \/>\nSiapakah yg akan pergi dijemput terlebih dahulu?<br \/>\nAkukah? Atau suamikukah?<br \/>\nAku tidak tahu?<br \/>\nTapi..Hal itu adalah takdir dan pasti datang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari itu pasti datang \u00a0dan kapal penjemput itu ada di ujung laut tak terlihat , namun takdir dapat mengirimkannya secepat kilat untuk ada di dermaga menjemput<br \/>\nLantas bagaimana menjalani hidup tampa suamiku atau tampa aku baginya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memandang pohon tinggi hanya aku atau suamiku sendiri<br \/>\nMemandang bunga yang mekar hanya aku atau suamiku sendiri.<br \/>\nDi tepi pantai hanya aku atau suamiku sendiri<br \/>\nSebuah kehidupan yang adalah fakta masa depan yang akan aku atau suamiku hadapi,<br \/>\nDan betapa sepinya&#8230;..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku atau suamiku harus menyiapkan diri untuk hal ini supaya aku atau suamiku tidak terkejut dan terhempas ketika hal itu terjadi..<br \/>\nPaling tidak aku sudah memakai pakaianku atau pakaian suamiku yang terbaik dan duduk di dermaga, memandang ke ujung laut mencari kapal yang sewaktu-waktu akan tiba untuk menjemput,<br \/>\nDan&#8230; bergandengan tangan supaya ketika tangan itu harus terpisahkan, karena entah aku atau suamiku yang pergi terlebih dahulu..kami sudah menyiapkan hati dan berpisah dengan senyum manis..serta melambaikan tangan dan berkata :<br \/>\n&#8220;Sahabatku..kita akan bertemu lagi, aku pergi dahulu dan kau juga pasti akan menyusul&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nJackie Ang\/VM\/BL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Editor : Fanya Jodie<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika usiaku sudah menjelang 60 tahun maka aku memandang kepada sebuah takdir yang paling menyedihkan Siapakah yang lebih dulu meninggalkan.. Akukah meninggalkan suamiku? Atau suamiku meninggalkan aku? Takdir&#8230;. Diantara kita pasti akan berpisah cepat atau lambat, besok atau tahun di depan, tidak ada yang tau.. Kematian adalah jawaban perpisahan yang tiada mungkin terelakkan , sebuah kenyataan yang ada didepan yang membuat pisau seperti membelah jantung dan meneteskan darah kepedihan. Takdir&#8230; Sesuatu yang tak dapat kurobek dari sebuah perjalanan hidup yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":33032,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1972,1044,52],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34644"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34644"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34644\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34649,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34644\/revisions\/34649"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34644"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34644"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34644"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}