{"id":3220,"date":"2013-09-07T04:29:46","date_gmt":"2013-09-06T21:29:46","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=3220"},"modified":"2014-03-08T11:02:30","modified_gmt":"2014-03-08T04:02:30","slug":"bagaimana-meningkatkan-motivasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/09\/07\/bagaimana-meningkatkan-motivasi\/","title":{"rendered":"Bagaimana Meningkatkan Motivasi ?"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Kejenuhan, de-motivasi, kelelahan dalam bekerja tentu menjadi momok dalam perusahaan\/organisasi yang sangat berdampak pada kinerja dan hasil sebuah perusahaan atau organisasi itu sendiri. Bahkan tidak jarang kita mendengar demonstrasi pekerja menuntut ini dan itu tentunya karena merasa tidak puas dan sudah tidak ada lagi motivasi dalam bekerja.<\/p>\n<p>Motif atau motivasi berasal dari bahasa latin \u201cmoreve\u201d yang artinya dorongan dari dalam untuk bertindak atau berperilaku. Pengertian motivasi tidak lepas dari kebutuhan atau \u201cneeds\u201d terhadap object di luar diri seseorang tersebut.Kebutuhan adalah suatu potensi dalam diri manusia yang perlu di tanggapi atau direspons. Karena itu motivasi adalah suatu alasan (reasoning) seseorang untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.<\/p>\n<p>Banyak orang berpendapat bahwa gaji atau uang merupakan alat yang paling ampuh untuk meningkatkan motivasi kerja. Pendapat itu mungkin ada benarnya, tapi juga mungkin tidak sepenuhnya benar, walau pada kenyataannya faktor ini cukup memainkan peranan penting terhadap motivasi karyawan. Tetapi ada beberapa variable dan faktor lain yang juga mempengaruhi motivasi karyawan \/ pekerja yang akan di bahas saat ini.<\/p>\n<p>Untuk memberikan wawasan atas apa yang dimaksud dengan motivasi ini, baiklah kita simak beberapa teori tentang motivasi.<\/p>\n<p>A. Teori McClelland<br \/>\nDalam diri manusia ada 2 motivasi, yakni motivasi primer atau motif yang tidak dapat dipelajarim dan motivasi sekunder yang bisa di pelajari melalui pengalaman serta interaksi dengan orang lain.<\/p>\n<p>Kita akan membahas tentang motivasi sekunder yang biasa di sebut juga sebagai motif sosial. Motif ini dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Motif untuk berprestasi (need for achievement)<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Motif untuk berafiliasi (need for affiliation)<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Motif untuk berkuasa (need for power)<\/p>\n<p>Rincian dari ke 3 motif diatas :<br \/>\nMotif Berprestasi diwujudkan dalam perilaku kerja yang tinggi, selalu ingin bekerja lebih baik dari sebelumnya atau lebih baik dari orang lain. Pencerminan motif ini dalam dunia kerja antara lain:<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Berani mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Selalu mencari umpan balik terhadap keputusan atau tindakannya yang berkaitan dengan tugasnya<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0 Selalu berusaha melaksanakan pekerjaannya atau tugasnya dengan cara-cara baru atau inovatif<br \/>\n4.\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak puas terhadap setiap pencapaian kerja, ingin lebih baik lagi<\/p>\n<p>Motif Berafiliasi di wujudkan dengan bekerjasama dengan orang lain.<br \/>\nPencerminan motif ini dalam perilaku sehari-hari antara lain :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Senang menjalin pertemanan atau persahabatan dengan orang lain<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Dalam melakukan tugas lebih mementingkan team work daripada bekerja sendiri<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0 Setiap pengambilan keputusan cenderung minta persetujuan atau kesepakatan orang lain atau kawan sekerjanya.<\/p>\n<p>Sementara Motif Berkuasa berusaha mengarahkan perilaku seseorang untuk mencapai kepuasan melalui tujuan tertentu, yakni dengan jalan mengontrol orang lain.<br \/>\nPencerminan motif berkuasa ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Selalu ingin mendominasi pembicaraan dalam pergaulan dengan orang lain terutama dalam kelompok<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Aktif dalam menentukan atau pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan kelompok atau pekerjaan<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0 Senang membantu atau memberikan pendapat kepada pihak lain, meskipun tidak diminta<br \/>\n4.\u00a0\u00a0\u00a0 Senang menjadi anggota suatu organisasi atau perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise dan sebagainya<\/p>\n<p>B. Teori McGregor<br \/>\nBerdasarkan penelitiannya, McGregor menyimpulkan teori motivasi itu dalam teori X dan Y. Teori ini didasarkan pada pandangan konvensional\/klasik (teori X) dan pandangan baru atau modern (teori Y).<br \/>\nTeori X yang bertolak belakang dari pandangan klasik ini di dasarkan pada :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada umumnya manusia itu tidak senang bekerja<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada umumnya manusia cenderung melakukan aktivitas sesedikit mungkin<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada umumnya manusia kurang berambisi<br \/>\nd.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada umumnya manusia kurang sendang diberi tanggung jawab, melainkan suka di atur dan di arahkan<br \/>\ne.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada umumnya manusia kurang acuh pada organisasi, karena itu dalam melakukan pekerjaan harus diawasi supaya tujuan organisasi tercapai<br \/>\nSedangkan teori Y bertumpu pada pandangan atau pendekatan yang beranggapan bahwa :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada dasarnya manusia itu tidak pasif, tetapi aktif<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada dasarnya manusia itu tidak malas bekerja, tetapi suka bekerja<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada dasarnya manusia dapat berprestasi dalam menjalankan pekerjaan<br \/>\nd.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada dasarnya manusia selalu berusaha mencapai sasaran atau tujuan organisasi<br \/>\ne.\u00a0\u00a0\u00a0 Pada dasarnya manusia itu selalu mengembangkan diri untuk mencapai tujuan atau sasaran<br \/>\nAtas teori ini, para pemimpin organisasi atau manajer perusahaan mempunyai keyakinan bahwa mereka dapat mengarahkan bawahannya untuk mencapai produktivitas atau tujuan-tujuan organisasi mereka. Dengan tercapainya tujuan organisasi, maka tujuan-tujuan perorangan dalam organisasi akan tercapai.<\/p>\n<p>C. Teori Herzberg<br \/>\nHerzberg mengembangkan teori motivasi Dua Faktor.<br \/>\nMenurut teori ini, ada 2 faktor yang mempengaruhi seseorang dalam tugas atau pekerjaannya, yaitu :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Faktor-faktor penyebab kepuasan (satisfierr) atau faktor motivasional<br \/>\nApabila kepuasan kerja di capai dalam pekerjaan, maka akan menggerakan tingkat motivasi yang kuat bagi seorang pekerja, dan akhirnya dapat menghasilkan kinerja yang tinggi. Faktor ini mencakup :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Prestasi (achievement)<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Penghargaan (recognation)<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Tanggung jawab (responsibility)<br \/>\nd.\u00a0\u00a0\u00a0 Kesempatan untuk maju (posibility of growth)<br \/>\ne.\u00a0\u00a0\u00a0 Pekerjaan itu sendiri (work)<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Faktor-faktor penyebab ketidakpuasan (dissatisfaction) atau faktor higiene<br \/>\nFaktor-faktor ini menyangkut kebutuhan akan pemeliharaan atau maintenance factor yang merupakan hakikat manusia yang ingin memperoleh kesehatan. Hilangnya faktor ini akan menimbulkan ketidakpuasan bekerja antara lain :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Kondisi kerja fisik (physical environtment)<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Hubungan interpersonal (interpersonal relationship)<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Kebijakan dan administrasi perusahaan (companu and administration policy)<br \/>\nd.\u00a0\u00a0\u00a0 Pengawasan (supervision)<br \/>\ne.\u00a0\u00a0\u00a0 Gaji (salary)<br \/>\nf.\u00a0\u00a0\u00a0 Keamanan kerja (job security)<\/p>\n<p>Dari teori ini dapat di lihat bahwa :<br \/>\na.\u00a0\u00a0\u00a0 Faktor-faktor yang dapat memotivasi karyawan dalam meningkatkan kinerjanya adalah kelompok faktor motivasional (satisfiers)<br \/>\nb.\u00a0\u00a0\u00a0 Perbaikan gaji, kondisi kerja, kebijakan organisasi dan administrasi tidak akan menimbulkan kepuasan, melainkan ketidakpuasan. Sedangkan faktor yang menimbulkan kepuasan adalah hasil kerja itu sendiri<br \/>\nc.\u00a0\u00a0\u00a0 Perbaikan faktor higiene kurang dapat mempengaruhi terhadap sikap kerja yang positif<\/p>\n<p>Berdasarkan sumbernya, ada dua jenis motivasi yaitu :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Motivasi Internal : motivasi\u00a0 dari dalam diri sendiri , biasanya berupa tekad dan keinginan untuk berhasil<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Motivasi Eksternal : motivasi dari luar, contoh : insentif, reward, juga bisa berupa tekanan misalnya teguran yang membuat karyawan atau pekerja berusaha untuk lebih baik dan tetap dapat bekerja<br \/>\nUntuk jangka pendek motivasi eksternal sangat membantu, namun tidak berlangsung lama. Motivasi internal adalah yang terbaik karena digerakkan oleh keinginan \/desire yang sifatnya lebih permanen atau jangka panjang.<\/p>\n<p>Karena itu perlu sekali mencintai pekerjaan supaya kita bisa loyal dan lebih produktif dalam bekerja. Saya mungkin bisa share kan mengenai mencintai atau menghargai pekerjaan ini.\u00a0 Di perusahaan tempat saya bekerja, ada banyak satpam, rata-rata saya nilai cukup baik, tetapi memang ada 1 yang cukup menonjol dan agak beda. Satpam tersebut punya senyum paling lebar, kalau sedang bertugas posisi jarang duduk, kalau ada lift terbuka dia menyapa orang yang keluar lift. Begitu juga kalau kita berjalan menuju lift, maka dia menawarkan untuk memencet tombol di depan lift dengan bertanya \u201cmau ke mana mba?\u201d dan dia langsung sigap sehabis kita menjawab, misal ke Lt.16 mas, maka di akan tekan tombol naik. Begitu juga kalau kita minta tolong hal-hal lain maka dia bersikap \u201chelpful\u201d dan sigap, terlihat sekali dia melakukan dengan tulus. Ternyata bukan saya saja yang memperhatikan hal itu, hampis sebagian besar penghuni lantai saya membicarakan hal yang sama, sampai akhirnya hanya dalam waktu belum setahun menjadi satpam di perusahaan saya, dia di tawarkan oleh seorang rekan, pemimpin unit kerja untuk menjadi anak buahnya sebagai bagian gudang. Ini batu loncatan yang luar biasa, kesempatan datang karena motivasi yang kuat dan tulis dari seorang satpam. Ada motivasi internal yang cukup kuat dimana dia mencintai perkejaannya, sampai orang melihat dan memberikan pengakuan dan penghargaan kepadanya.<\/p>\n<p>Berikut beberapa indikator untuk menemukan hasrat dalam diri anda :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0\u00a0 Merasa senang melakukan pekerjaan Anda, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun<br \/>\n2.\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak semata-mata fokus pada hasil tetapi lebih memperhatikan proses kemajuan diri Anda<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0 Tidak mencari jalan pintas dalam menjalankan tugas, namun Anda akan mencari jalan terbaik untuk meningkatkan hasil yang Anda inginkan<br \/>\n4.\u00a0\u00a0\u00a0 Melakukan pekerjaan tanpa beban atau keluh kesah (just do it)<br \/>\n5.\u00a0\u00a0\u00a0 Selalu memiliki prinsip melakukan lebih baik dari sebelumnya<\/p>\n<p>10 Strategi untuk meningkatkan motivasi :<br \/>\n1.\u00a0\u00a0 Bersikap optimis dalam menghadapi tantangan hidup<br \/>\n2.\u00a0\u00a0 Ciptakan kebiasaan untuk berpikir dan melakukan hal positif terus menerus<br \/>\n3.\u00a0\u00a0\u00a0Gunakan kata-kata positif, misal kata rintangan menjadi tantangan, kata mungkin menjadi mampu, dll<br \/>\n4.\u00a0\u00a0\u00a0Penuhi waktu dan pikiran dengan bacaan positif, seminar motivasi, pengembangan diri dan musik yang\u00a0\u00a0\u00a0 menambah motivasi<br \/>\n5.\u00a0\u00a0\u00a0Buat target yang jelas, terinci, realistis, terukur dan punya batas waktu<br \/>\n6.\u00a0\u00a0\u00a0Ambil tindakan tiap hari untuk mencapai target atau tujuan (konsisten)<br \/>\n7.\u00a0\u00a0\u00a0Lakukan visualisasi terhadap apa yang ingin di capai, misal cari gambar yang dapat menunjang motivasi anda untuk mewujudkannya<br \/>\n8.\u00a0\u00a0\u00a0Lakukan olahraga rutin min 15 karena olahraga membuat badan lebih sehat, segar dan aktif<br \/>\n9.\u00a0\u00a0\u00a0Berani mengambil resiko dan berani menjalani sesuatu yang baru<br \/>\n10.\u00a0\u00a0Menjaga penampilan diri dan selalu bersemangat<\/p>\n<p>(RF\/IC\/TML)<\/p>\n<p>pic : <a class=\"irc_hol irc_itl\" href=\"http:\/\/www.google.com\/url?sa=i&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;docid=OhmStn7HHjDJWM&amp;tbnid=JhG423xvm0146M:&amp;ved=0CAQQjB0&amp;url=http%3A%2F%2Faccidental-hr.com%2Fmanaging%2Femployee-motivation-new-secrets%2F&amp;ei=8T9IUorFGom_rgfn5oDACg&amp;bvm=bv.53217764,d.bmk&amp;psig=AFQjCNG7GCS7wnw8RsUmqVZkPdpECxMk2Q&amp;ust=1380552877876981\" data-ved=\"0CAQQjB0\"><span class=\"irc_ho\">accidental-hr<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Kejenuhan, de-motivasi, kelelahan dalam bekerja tentu menjadi momok dalam perusahaan\/organisasi yang sangat berdampak pada kinerja dan hasil sebuah perusahaan atau organisasi itu sendiri. Bahkan tidak jarang kita mendengar demonstrasi pekerja menuntut ini dan itu tentunya karena merasa tidak puas dan sudah tidak ada lagi motivasi dalam bekerja. Motif atau motivasi berasal dari bahasa latin \u201cmoreve\u201d yang artinya dorongan dari dalam untuk bertindak atau berperilaku. Pengertian motivasi tidak lepas dari kebutuhan atau \u201cneeds\u201d terhadap object di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":16977,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[70],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3220"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3220"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3220\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26776,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3220\/revisions\/26776"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16977"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}