{"id":3208,"date":"2013-07-23T09:21:16","date_gmt":"2013-07-23T02:21:16","guid":{"rendered":"http:\/\/themanagerslounge.com\/?p=3208"},"modified":"2020-08-11T11:22:29","modified_gmt":"2020-08-11T04:22:29","slug":"what-is-servant-leadership","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/23\/what-is-servant-leadership\/","title":{"rendered":"What is Servant Leadership?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Seorang pemimpin yang baik sangat diharapkan banyak orang. Ketika seseorang diangkat\u00a0 menjadi seorang pemimpin maka seluruh orang akan mengharapkan bahwa pemimpin tersebut adalah seorang pemimpin yang baik dan dapat mengayomi akan siapapun yang ada dibawah ke pemimpinannya.\u00a0 Robert K Greenleaf seorang pencetus gerakan modern kepemimpinan pada tahun 1970 dalam bentuk esainya mencetuskan, &#8220;pelayan sebagai Pemimpin&#8221;,\u00a0 di mana ia menciptakan istilah &#8220;pemimpin adalah seorang pelayan&#8221;.\u00a0 Robert K Greenleaf memperkenalkan akan konsep Servant Leadership, yaitu menekankan peran seorang pemimpin sebagai \u201csteward\u201d (pelayan).\u00a0 Konsep \u201cservant leadership\u201d adalah kepemimpinan yang mendorong seseorang untuk melayani orang lain,\u00a0 sementara itu tetap fokus pada upaya untuk mencapai apa yang menjadi tujuan utama (visi dan misi) dari organisasi itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Robert, model kepemimpinan seperti ini sangat efisien dan efektif karena selain memiliki konsep yang berguna untuk diterapkan didalam bisnisnya, ia memiliki prinsip yang kuat untuk melayani orang, baik pelayanan kepada karyawan,dan juga kepada masyarakat sekitarnya sebagai prioritas utama dan pertama. Robert Greenleaf merumuskan bahwa pada dasarnya pertama-tama secara alamiah seseorang ingin melayani, kemudian muncul sebuah kesadaran untuk memimpin.\u00a0 Dengan demikian, tidak seperti kepemimpinan yang pendekatan \u201ctop-down hierarchical style\u201d, servant leadership menekankan \u201ccollaboration, trust, empathy, and the ethical use of power.\u201d\u00a0 Penekanan utama adalah mengembangkan orang sebagai individu yang lebih manusiawi bukan pada kekuasaan dan posisi dari diri sendiri.\u00a0 Jadi tujuan utamanya adalah untuk \u201cpertumbuhan\u201d anggota organisasi dan mengembangkan teamwork dan keterlibatan semua anggota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Larry C. Spears, yang telah menjabat sebagai Presiden dan CEO dari Robert K. Greenleaf Center for Servant Leadership sejak tahun 1990, menjelaskan 10 karakteristik yang penting dari seorang\u00a0 pemimpin pelayan, beberapa karakter tersebut adalah sebagai berikut :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022\u00a0\u00a0\u00a0 Listening: Dalam kepemimpinan pelayan, seorang manajer harus memiliki kemampuan komunikasi untuk membuat keputusan. Seorang pemimpin pelayan memiliki motivasi untuk mendengarkan sungguh-sungguh akan anah buahnya dan mendukung mereka dalam mengidentifikasi keputusan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022\u00a0\u00a0\u00a0 Empathy: Seorang pemimpin pelayan berusaha memahami dan berempati dengan orang lain.Seorang\u00a0 pekerja dapat diperlakukan tidak\u00a0 hanya sebagai karyawan, tetapi juga sebagai orang-orang yang membutuhkan rasa hormat dan penghargaan untuk pengembangan pribadi mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022\u00a0\u00a0\u00a0 Healing:\u00a0 Sebuah kekuatan besar dari pemimpin pelayan adalah kemampuan untuk menyembuhkan orang lain dan diri sendiri. Seorang pemimpin pelayan mencoba untuk membantu orang memecahkan masalah mereka dan konflik yang terjadi, karena ia ingin mengembangkan keterampilan masing-masing individu. Hal ini mengarah pada pembentukan budaya bisnis perusahaan, di mana lingkungan kerja akan\u00a0 menggambarkan suasana yang\u00a0 menyenangkan dinamis dan tidak ada rasa takut dari kegagalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022\u00a0\u00a0\u00a0 Persuasion: Seorang pemimpin pelayan tidak mengambil keuntungan dari kekuatan statusnya dengan memaksakan anak buah untuk patuh; tetapi\u00a0 lebih mencoba untuk meyakinkan mereka dalam melakukan sesuatu hal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022\u00a0\u00a0\u00a0 Conceptualization: Seorang pemimpin pelayan berpikir jauh\u00a0 melebihi realitas sehari-hari. Itu berarti dia memiliki kemampuan untuk melihat melampaui batas dari bisnis operasi dan juga fokus pada tujuan jangka panjang perusahaan. Seorang pemimpin membangun sebuah visi pribadi dimana hanya dia yang bisa mengembangkannya\u00a0 dengan memikirkannya. Itu akan menghasilkan tujuan spesifik dan strategi implementasi yang\u00a0 perlu dilakukan.<br \/>\nKarakter-karakter ini tidak juga merupakan karakter atau metode terbaik\u00a0 untuk mendapatkan tujuan yang paling baik.\u00a0 Tetapi lebih disampaikan bahwa dengan mencerminkan karakter ini akan\u00a0 sangat bermanfaat untuk pengembangan pribadi seorang pemimpin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Bernhard Sumbayak, founder &amp; chairman Vibiz Consulting, yang juga adalah pembuat modul-modul <em>Followership and Leadership<\/em>, ada 2 aspek yg diperlukan oleh Servant leadership supaya menghasilkan synergi dan efektifitas kerja yg hebat yaitu:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0 Membuat suasana dan nilai-nilai kekeluargaan berlaku dalam interaksi sehari-hari, ini paling tepat diterapkan dalam perusahaan lokal Indonesia. Ketika suasana kekeluargaan ini mendominasi dalam culture suatu perusahaan, maka kepemimpinan yang melayani akan menjadi lebih mudah dan sangat berpengaruh untuk meningkatkan potensi semua karyawan yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0 Berilah senantiasa contoh, artinya menjadi panutan. Kalau mau membuat semua pegawai biasa tersenyum, maka mulailah tersenyum terlebih dahulu kepada karyawan. Hal ini akan menstimulir mereka untuk magadopsi kebiasaan-kebiasaan kerja yg dengan sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh pimpinan perusahaan itu. Dengan menjadi contoh bagi seorang pemimpin itu berarti dia sudah mau untuk melayani, merendahkan diri dan men support penuh untuk menghargai anak buah kita. Apa yang kita inginkan supaya karyawan melakukannya, maka kita lah dahulu yang pertama kali memberi contoh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila seorang pemimpin sebuah perusahaan memilih untuk bergerak di bidang jasa sangat penting untuk memperhatikan akan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh karyawan\/anak buahnya. Karena apabila telah terpenuhinya kebutuhan mutlak tersebut maka dengan otomatis akan terciptanya kenyamanan didalam bekerja, dan akan memberikan pengaruh yang baik yang akan diterima oleh pemimpin dengan cara tertibnya cara kerja para karyawan\/anak buahnya. Bila telah tercipta suatu atmosfer yang demikian maka asas kepercayaan karyawan kepada pemimpin dapat dibangun dan akan menghasilkan kerjasama tim yang baik dalam perusahaan. Kepercayaan dan kerjasama dalam tim merupakan kunci sukses dalam bekerja dan akan menghasilkan kinerja perusahaan yang tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa, seperti misalnya perusahaan yang bergerak di perbankan atau pendidikan, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat menjadi seorang pelayan bagi semua orang , khususnya dalam hal ini adalah karyawan atau anak buahnya.\u00a0 Contohnya bila kita berkunjung ke sebuah bank atau sekolah, maka kita akan melihat bagaimana pola dari kepemimpinan yang ada, baik di bank atau disekolah itu. Ciri dari kepemimpinannya terlihat dari\u00a0 bagaimana cara karyawan yang ada dari mulai yang paling kecil misalnya security sampai kepada karyawan yang langsung berhadapan\u00a0 atau\u00a0 melayani akan customer yang datang berkunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila para karyawan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dapat memperlakukan\u00a0 seorang customer\/ pengunjung dengan sangat baik, tidak menutup kemungkinan maka hal tersebut akan mendapatkan sebuah loyalitas yang tinggi dari customernya. Dan akan berdampak positif dimana si customer akan merasa nyaman untuk berada didalam lingkungan yang menyenangkan bagi dia. Dan itu akan menaikkan nama dari perusahaan itu sehingga tidak menutup kemungkinan akan besarnya minat dan kepercayaan yang diperoleh atas keyakinan orang lain lagi terhadap perusahaan jasa yang dipimpinnya. Hal tersebut akan berdampak besar pada animo\/minat masyarakat luas, tentang perusahaan jasa yang di pimpinnya. Misalnya saja di dunia pendidikan ; sebuah sekolah dikenal bukan hanya dari tingkat pendidikan yang baik saja tetapi dari bagaimana semua orang yang terlibat didalam sekolah itu berhubungan langsung dengan orang lain dalam hal ini adalah orang tua murid atau juga lingkungan masyarakat sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang menjadi orangtua dari sebuah sekolah, maka hal pertama yang mereka ingat ketika hendak memasukkan anaknya dalam suatu sekolah adalah keramahan dan kenyamanan serta keamanan yang ada pada sekolah tersebut selain daripada fasilitas yang ditawarkan sekolah itu. Dan ketertarikan mereka sebenarnya banyak bermula dari cerita-cerita mungkin teman-teman sekitar atau juga iklan-iklan yang disebarkan. Semua itu merupakan bentuk dari pada pelayanan yang dihasilkan oleh keramahan dan kebaikan serta pelayanan yang diberikan seorang pemimpin bersama karyawan\/anak buahnya yang diberikan kepada orang tua murid sebagai customer mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin tanpa disadari, hal-hal demikian sering terlupakan oleh sebagian perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan. Sebagai seorang pemimpin, kita harus bisa dapat berwawasan luas hingga sanggup untuk tidak saja dapat memikirkan akan keuntungan yang dihasilkan dari pada sekolah tersebut tapi juga dari berbagai aspek lingkungan dimana semua terlibat. Bila memang ingin menghasilkan kinerja yang baik dan\u00a0 tetap efektif, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi model sebagai orang yang memiliki karakter yang baik untuk dapat berintegritas dan dapat membuat komitmen setiap hari untuk memimpin dengan prinsip\u00a0 melayani. Sebab arti dalam kepemimpinan melayani disini merupakan aplikasi dari melayani sebagai suatu cara hidup yang dapat mempengaruhi, dapat menjadi model, mendukung atau mendorong karyawannya untuk melayani orang lain terlebih dahulu. Ini adalah cara untuk secara pribadi mengembangkan\u00a0 dan mengejar keunggulan dalam menghasilkan hasil yang diinginkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dapat disimpulkan disini bahwa sebagai pemimpin kita harus berani untuk memegang prinsip seorang pemimpin adalah juga seorang pelayan, yang dapat melayani kebutuhan orang lain dengan cepat dan efisien dan juga dapat memperlakukan orang lain dengan rasa hormat , baik terhadap pelanggan internal maupun eksternal.<\/p>\n<p><em>Business Lounge Journal\/VMN\/BLJ<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Leadership) &#8211; Seorang pemimpin yang baik sangat diharapkan banyak orang. Ketika seseorang diangkat\u00a0 menjadi seorang pemimpin maka seluruh orang akan mengharapkan bahwa pemimpin tersebut adalah seorang pemimpin yang baik dan dapat mengayomi akan siapapun yang ada dibawah ke pemimpinannya.\u00a0 Robert K Greenleaf seorang pencetus gerakan modern kepemimpinan pada tahun 1970 dalam bentuk esainya mencetuskan, &#8220;pelayan sebagai Pemimpin&#8221;,\u00a0 di mana ia menciptakan istilah &#8220;pemimpin adalah seorang pelayan&#8221;.\u00a0 Robert K Greenleaf memperkenalkan akan konsep Servant Leadership, yaitu menekankan peran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":172987,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[61],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3208"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3208"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3208\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":174953,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3208\/revisions\/174953"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/172987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}